Oleh: Hairus Salim, Budayawan
Pagi-pagi saya disuguhi video mantan calon bupati sebuah kabupaten di Jawa Timur yang jadi kenthir karena kalah pilkada. Ia dibawa ke RS Jiwa. Lalu kabur dari RSJ dan kemudian mau bunuh diri tapi keburu ‘diselamatkan’ warga. Ia meninggalkan utang 2,9 M sebagai modal nyaleg dan kampanye. Hal itulah yang bikin ia jadi edan.
Dengan tak berbaju, dan hanya bercelana dalam saja, sang calon bupati itu berteriak-teriak minta dibunuh. Ia ingin mati saja, katanya.
Saya menonton dengan perasaan campur aduk antara sedih, terenyuh, dan sedikit ketawa juga. Saya bisa ketawa dan mentertawakan karena saya berjarak dan tidak kenal sang calon bupati tersebut. Andai saya kenal, entah bagaimana perasaan saya.
Setiap kali pilkada dan pemilu peristiwa seperti ini kerap berulang. Dan rasanya akan terus berulang selama sistem pilihan liberal berbasis modal ini terus dijalankan.
Bahasa nasional dan bahasa daerah kita memiliki banyak kosakata dan perumpamaan untuk menggambarkan gila dan kegilaan. Termasuk kenthir yang saya ambil dari khazanah Bahasa Jawa, yang tidak selalu menunjuk gila dalam pengertian formal.
Sebenarnya, sang calon bupati itu menunjukkan kekenthiran yang formal-konvensional dan nyata. Sejujurnya, sejak beberapa tahun terakhir, terutama setelah pilkada Jakarta, kita semua telah kenthir juga. Hanya memang bentuk kekenthiran kita itu tidak konvensional, tidak kelihatan dan halus. Itu kalau kita sepakat dengan definisi kenthir sebagai kehilangan akal sehat.
Kekenthiran diproduksi melalui isu dan berita yang tak jelas asal-usulnya (sanadnya) dan tidak masuk akal isinya (matannnya), tetapi dipercaya dan diyakini sepenuh hati. Isu dan berita itu kemudian beredar jadi udara yang dihirup sepanjang hari. Celakanya, isu dan berita itu dibawa ke ruang ibadah untuk ditahbiskan dan diperkuat lagi ‘kebenaran’-nya.
Dampaknya? Ya itu tadi kekenthiran. Ruang spiritual tercemar dan ruang sosial jadi rusak. Hubungan persaudaraan dan kemanusiaan berantakan.
Saya selalu ingat bagian pembuka novel Iwan Simatupang, Merahnya Merah: “Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.”
Artinya setiap kali revolusi tiba, perubahan ditawarkan, pada masa itu terjadi ketidakstabilan politik dan ekonomi. Orang-orang pun jadi edan dan kenthir dibuatnya. Seorang yang beragama pun (calon rahib) bisa jadi ikut gila. Itulah yang terjadi pada tahun 1945 ketika berlangsung perang, kerusuhan rasial dan penjarahan. Itu juga yang berlangsung pada 1965, ketika terjadi pembantaian massal. Lalu diulang lagi pada 1998, ketika pecah penjarahan, kerusuhan dan pemerkosaan massal.
Kita punya jejak sejarah sekaligus jadwal untuk menjadi kenthir secara nasional. Tapi sekarang kita tak perlu menunggu revolusi tiba. Kekenthiran kita telah sampai pada maqom tertingginya. Melalui penyebaran isu dan berita kita bisa jadi kenthir setiap hari, bahkan setiap saat.
Hanya kekenthiran itu sekarang dikemas dengan canggih secara politis, ilmiah dan keagamaan.