Oleh : Braham Maya Baratullah, Sekretaris Lembaga Dakwah NU DIY dan Dosen IIQ An-Nur Bantul
Tantangan zaman dari masa ke masa adalah bukti bahwa keadaan masa kini sangat berbeda dengan keadaan masa lalu. Perubahan dan tantangan yang dihadapi pun beragam, begitu juga dengan persoalan dakwah. Ciri dan karakter kuat dalam berdakwah pun mengalami pergeseran metodologi penyampaiannya. Adanya perubahan zaman sangat berpengaruh kuat terhadap psikologis da’i dalam berdakwah. Begitu juga modernitas mempengaruhi lingkungan dakwah sehingga para dai agar dituntut untuk menemukan cara yang tepat dan mampu mengena di hati para umat. Umat berharap besar dengan adanya modernitas dan perkembangan teknologinya, tetap menemukan sosok da’i yang mampu mengayomi kebutuhan spiritualnya, tanpa harus terjebak dengan kenegatifan modernisasi.
Dengan modernisasi, da’i dituntut agar menemukan metode dakwah di ‘Zaman Now’, zaman dimana masyarakat sudah mengalami kemajuan secara materi, bahkan spiritual keagamaan pun sudah semakin menemukan kekuatannya. Sehingga tantangan da’i zaman now tidaklah mudah, apalagi melihat sasaran dakwahnya adalah mereka yang sudah banyak tau tentang kajian keagamaan. Saat ini, tidak jarang seorang da’i jika berdakwah tidaklah berdampak apapun terhadap umatnya, hanya sekedar seremonial pengajian rutin saja, tapi perubahan Adab dan Akhlak pun tak kunjung membaik.
Belum lagi pengaruh medsos, dimana umat bisa langsung mencari sumber keagamaannya tanpa harus menggunakan para da’i atau muballigh. Ini menjadikan kehadiran para da’i pun hanya sekedar pelengkap, bukan yang utama. Di sisi lain, umat yang hanya mengandalkan sumber informasi dari media tidak jarang terjebak pada pola sekterian dan mudah menyalahkan sesamanya, serta menganggap dirinya paling benar, meski sumbernya hanya mengambil kajian-kajian dari internet.
Polarisasi umat sebagai dampak dari adanya teknologi modern inilah yang menjadi tantangan berat bagi da’i di zaman now. Umat sudah lebih tau dulu, bahkan bangga kalau pengetahuannya diambil secara individu dan mengesampingkan informasi secara langsung dari para da’i. Maka dalam hal ini para da’i perlu keahlian yang multitalent sehingga dakwahnya bisa diterima oleh umat.
Persoalan dakwah adalah persoalan yang sangat penting dalam beragama agar dapat tertransfer pengetahuan agama yang baik dan menciptakan kehidupan yang sesuai dengan norma-norma agama. Persoalan dakwah di jalan Allah juga menjadi suatu kewajiban sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: “sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat 41:33). Ayat ini menekankan betapa pentingnya menyeru dan mengajak orang lain/umat ke jalan Allah SWT. Oleh karena itu, dakwah menjadi hal yang harus diperhatikan oleh para da’i, khususnya zaman now dengan melihat dinamika tantangan dakwah.
Zaman now adalah zaman dimana kehidupan sosial mengalami perubahan. Maka, seorang da’i zaman now juga harus mampu membaca situasi yang multi pemahaman meski dalam wadah yang sama, juga melihat persoalan yang begitu kompleks. Dalam hal ini, seorang da’i zaman now setidaknya memiliki 3 posisi yang perlu di perhatikan. Pertama, posisi dimana seorang da’i jangan sampai terjebak atau menjadi bagian dari masalah yang ada, ‘A Part Of Problem’. Kedua, seorang da’i jangan sampai menjadi pembuat masalah atau ‘Troublemaker’. Dan posisi yang ketiga, yaitu seorang da’i harus mengambil posisi perdamain atau ‘Problem Soving’ bagi persoalan yang sedang dihadapi umat.
Inilah 3 posisi penting yang harus diperhatikan da’i zaman now sehingga mampu membawa situasi yang memuaskan bagi umat. Selain 3 posisi penting, seorang da’i juga perlu disiapkan pribadinya agar menguasai masalah syari’at, thariqat, bahkan hakikat. Sehingga mampu mengajak semua orang di jalan Allah, baik para pemimpin, pejabat, pengikut serta pembantu mereka, bahkan di semua kalangan dengan niat secara zahir dan batin tertuju hanya kepada Allah SWT.
Maka, da’i zaman now harus berdakwah sesuai dengan ucapannya, ilmunya, kitab-kitabnya, akhlaknya, perbuatannya, mujahadahnya, dan ibadahnya. Akhirnya umat juga akan merasa terketuk hatinya karena keluasan yang dimiliki oleh para da’i. Mereka juga tampil mengedepankan makna al-ikhlash, al-adalah, at-tawasuth, at-tawazun, dan at-tasamuh dalam bingkai kemoderatan Ahlussunah wal-Jama’ah. Allahu ‘Alam
Semoga bermanfaat.








