Menjadi China, Menjadi Islam, Menjadi Indonesia

China Indonesiaa

Karena harus diet agar kadar gula stabil dan luka pasca operasi cepet kering, pagi ini As usul saya sarapan yang hambar-hambar. Air putih, rebusan sayur dan munthul (yang ini ada rasanya dikit, saya lupa bahasa indonesianya apa? hehe). Tapi tambahan “sarapan” buku ini bikin pelengkap rasa pagi ini: gurih dan renyah.

Buku ini yang aslinya berjudul “Chinesse Ways of Being Muslim: Negotiating Ethnicity and Religiousity in Indonesia” karya Hew Wai Weng (2018) bagi saya sangat menarik karena sampai sekarang sentimen (maaf) anti–china sering banget di jadikan propaganda terutama oleh kalangan Islamis. Ini menurut saya aneh, karena propaganda itu problematik.

Pertama, anti-china yang dimaksud itu apa? Asosiasi china dengan pki dan ateis, pemerintah china dan kebijakan-kebijakannya, orang china dengan latar budaya dan social behaviournya? Terus orang china yang mana? yang di china, china diaspora, atau china di indonesia?

Saya kira propaganda itu blur. Nggak jelas. Kesannya generalisasi saja alias gebyah uyah. Kalaupun nggak begitu, yang ada adalah standar ganda. Jadi anti-China yang dimaksud bisa salah satu di atas tapi bisa berubah dan berganti, tergantung konteks dan kepentingannya. So weird, anehh.

Kebetulan tahun 2010 or 2011 (?) saya pernah ke China untuk seminar di Nanjing-University dan ngisi Summer-Course di Shanghai-University. Jadi hadist (ada yg bilang atsar) uthlubul ngilma walau bisshin, carilah ilmu walau ke negeri China sudah saya laksanakan. hehe.

Kedua, tidak cuma soal hadist (atau atsar) cari ilmu ke negeri China, saya kadang penasaran juga kaum Islamis yang propaganda anti-China, bagaimana sesungguhnya mereka memandang orang China yang Muslim, baik yang di China, China diaspora, atau China di Indonesia?

Ke depan saya memang tertarik untuk riset seputar propaganda anti-China oleh kalangan Islamis di Indonesia dan pandangan mereka terhadap orang China Muslim. Klo yg anti-Amerika/Barat, anti-Israel/Yahudi sudah banyak dibahas. Nah buku ini, salah satunya, membantu saya untuk kepentingan itu.

Saya melihat kompleksitas karena seperti testimoni Prof Heffner bahwa Islam dan China seringkali dilihat sebagai kategori sosial yang terpisah. Padahal menurut saya fakta dan realitas tidak seperti itu. Selain hadist (atsar) di atas, juga banyak orang China yang Muslim baik di China, diaspora maupun di Indonesia.

Bahkan sejarah masuknya Islam ke Indonesia teori ke-4 (selain 3 teori dari Gujarat, Arab dan Persia) adalah dari China melalui laksamana Cheng-Ho. Banyak bukti historis untuk hal itu. Juga sudah banyak buku ditulis untuk menjelaskannya.

Buku Hew Wai Weng menarik karena berhasil menunjukkan pada kita bahwa orang China menjadi Muslim (baik sejak lahir atau krn pindah agama) tanpa kehilangan ke-china-annya. Terlebih lagi utk kasus Indonesia mereka bisa berakulturasi (ada yang menyebut ber-fertilisasi) dengan budaya Indonesia.

Melalui pembahasan beragam tema penting mulai dari desain arsitektural, aktivitas dakwah, politik, festival budaya dan profil orang-orang China-muslim di Indonesia, buku ini menyadarkan dan mengajak kita bahwa ternyata:

Menjadi China, menjadi Islam dan menjadi Inonesia mestinya dilihat secara monofonik (satu suara), bukan secata polifonik (terpisah-pisah dan banyak suara)

Kalau penasaran dengan detail isinya, sila beli buku ini. Kata Hani yang saya minta mbeliin bukunya masih banyak di Gramedia. Harganya Rp 124.000. Mungkin agak mahal dikit tapati kalau lihat tebalnya yang 370 halaman dan kualitas isinya yang gurih dan renyah, saya kira seperti dibilang mbokke/ibu saya “ana rega…. ana rupa…” hehe

Semoga manfangat dan berkah. Met wiken.

Danke

Penulis: Dr Suratno, dosen Universitas Paramadina Jakarta dan Pengurus Lakpesdam PBNU.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *