Oleh: Muhammad Isa Anshori, Santri dan Mahasiswa di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta
Lisan merupakan salah satu indra yang dimiliki manusia yang paling sensitif, ketika lisan digunakan untuk mengucapkan sesuatu yang baik maka dapat membuat orang lain senang. Tetapi sebaliknya apabila lisan digunakan untuk mengucapkan sesuatu yang buruk, maka bisa dikatakan lisan lebih tajam dari pada pedang, karena rasa sakit yang ditimbulkan dari suatu ucapan yang buruk tadi.
Apakah kita sudah bisa menjaga lisan kita masing-masing? Bagaimana dengan fenomena mengkafirkan dan mengkufurkan orang lain yang tidak sepemahaman dengan kita? Apakah hal tersebut termasuk menggunakan lisan untuk berkata yang buruk?.
Memang benar kata-kata yang satu ini sangat fenomenal di era sekarang ini, tidak hanya era sekarang saja, bahkan kata-kata seperti ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi apakah Nabi mengajarkan kita untuk mudah mengkafirkan atau mengkufurkan? Tidak, justru nabi mengingatkan kepada kita akan bahayanya menghukumi orang dengan kufur atau kafir apalagi orang itu adalah orang Islam.
Dalam satu hadist Nabi Muhammad berkata:
اِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِاَخِيْهِ يَاكَافِرْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا (رواه البخارى
Arti: Barang siapa yang berkata kepada saudaranya dengan ucapan “ya kafir” maka ucapan itu akan kembali kepada dirinya sendiri.
Dari hadist tersebut Mushanif mengatakan, bahwasannya tidak diperbolehkan seseorang memberi hukum kufur kepada sesama muslim, kecuali dia tahu mana tempat-tempat menjadikan seseorang itu kufur dan dia juga tahu pemisah antara kufur dan islam serta benar-benar paham terkait permasalahan tersebut.
Dilarangnya berpacu di dalam medan mengkafirkan merupakan hal yang tepat, banyak dari saudara-saudara kita yang benci terhadap orang lain dengan berlandaskan sangkaan. Bahkan apabila ada orang 99% diyakini dia kufur, namun ada 1% yang membuat dia bisa dikatakan tidak kufur, maka dia belum dapat dikatakan sebagai orang kufur.
Apabila kita tidak berhati-hati dalam mengkafirkan orang islam, maka di bumi ini tidak akan ada orang Islam kecuali sedikit.
*Tulisan ini disarikan dari pengajian rutinan Kitab “Mafahim Yajibu An Tushahhah” tiap hari Minggu di Pesantren An Nur Bantul yang diampu olehg Gus Rumaizijat.







