“Menghidupkan” Mbah Moen, Kiainya Para Kiai

Posted on

Berebut “menghidupkan” Mbah Moen: Renungan 7 hari wafat beliau

Sudah saya niatkan sejak hari pertama Mbah Moen wafat, bahwa saya akan berangkat tahlilan di Sarang sebelum 7 malam habis. Dan alhamdulillah, malam terakhir tadi saya bisa hadir diantara ribuan pentahlil.

Berangkat lebih awal membuat saya bisa berada di dalam gang menuju ndalem. Sejak sebelum Maghrib saya sudah menunggui dimulainya acara dan bertekad mengikutinya sampai tuntas. Sama seperti ketika hendak sowan Mbah Moen saat masih yuswa. Tamu akan menunggu berapa jam-pun, asal nanti bisa salim dan memandang wajah beliau.

Tadi saya duduk di kursi terdepan tamu non VIP, dan kebetulan terpisah dari rombongan. Ini membuat saya tidak ngobrol dan bisa leluasa merenungi tentang segala apa terkait Mbah Moen, baik beliau dalam bingkai publik maupun dalam bingkai privat. Perenungan yang semoga dapat melahirkan kebaikan-kebaikan.

Salah satu yang tiba-tiba membuat saya tanpa sadar tersenyum adalah saat ingat sowan saya setahun yang lalu. Saat itu saya sempat matur lirih di dekat beliau, “Mbah, kula rumiyin tahun ’93 mondok wonten mriki mboten ngantos setunggal tahun. Wekdal boyong kula mboten pamit sowan. Nyuwun ridla pangestunipun”. Beliau menjawab lirih juga, “Mboten napa-napa. Mboten napa-napa”.

Saat itu dialog tersebut memang tidak terasa penting. Namun justru saat ini baru bisa saya rasakan bermakna dan membuat saya lega karena telah benar-benar pamit boyong sebelum ‘terlambat’.

Saya juga menjadi ingat dan kemudian lega lagi, bahwa anak laki-laki saya yang masih mondok di Kajen Pati, sudah pernah berkesempatan ikut mencecap ngaji kitab bulan Ramadan pada beliau 2 tahun lalu. Saat itu saya memang berpikir, mumpung beliau belum udzur, dan masih sehat untuk menyampaikan pengajian, maka anak harus segera memanfaatkan kesempatan.

Sowan terakhir saya adalah Syawal kemarin. Hanya bisa salim, karena ndalem dan halaman penuh sesak tamu.

Tahlilan hari ketujuh tadi malam, selain diisi bacaan surat Yasin, tahlil, dan doa, acara juga dilengkapi dengan mauidzah oleh Gus KH Abdul Qoyyum, Prof KH Said Aqil Siradj, dan Al Habib Abdullah bin Abdurrahman Al Muhdlar dari Yaman.

Gus Qoyyum (antara lain) menegaskan bahwa Mbah Moen itu “Maa fi qalbihi illa Allah”. Dalam hati tiada apa kecuali Allah.

Kiai Said (antara lain) menilai bahwa Mbah Moen, sebagaimana julukan yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Ibrahim AS, adalah sosok yang pantas dijuluki “Ummat”. Kata “ummat” dalam Al Quran memiliki beberapa makna, antara lain kelompok manusia, kelompok hewan, dan sosok manusia yang dalam dirinya terhimpun seluruh kebaikan umat. Makna terakhir inilah yang dimaksud oleh Kiai Said.

Baca Juga >  Kisah Jokowi Ngaji Bersama Santri Ma'had Aly Situbondo

Sebagaimana Nabi Ibrahim yang merupakan Bapak Para Nabi dan Poros Agama-agama Samawi, Mbah Moen juga menjadi kiainya para kiai dan poros dari kelompok-kelompok agama, etnis, profesi dan politik.

Al Habib Abdullah (antara lain) menguraikan bahwa tuntunan kehidupan yang diberikan oleh para ulama saat telah wafat tidak akan berkurang dibanding saat masih hidup.

Apabila tuntunan para ulama saat masih hidup bisa disaksikan dan dirasakan langsung, maka tuntunan mereka saat telah wafat adalah dengan cara kita mengenang kehidupan mereka dan meneladaninya.

Sampai pada penjelasan ini, saya memahami hal-hal sebagai berikut:

1. Boleh saja dan memang harus bagi siapapun yang mengenal beliau berebut mendoakan Mbah Moen. Tapi dalam perspektif pendoa yang rendah hati, bisa jadi Mbah Moen sudah tidak lagi memerlukan doa. Sehebat apakah diri pendoa yang serba kurang, berani lancang mendoakan beliau yang serba lebih. Kecuali bahwa hal itu dilakukan pendoa demi mendapat keuntungan kembalian doa yang lebih tersebut dari Mbah Moen. Pendoa yang baik adalah pendoa yang mengakui, bukan yang mengaburkan dan memoles-moles egonya.

2. Bahwa yang tidak kalah penting dan bermanfaat adalah berebut ‘menghidupkan’ Mbah Moen. Ulama itu hidup terus karena rintisan, karya, ajaran dan keteladanannya dikaji, disebarluaskan dan dikembangkan. Bahwa dalam perspektif ini, ulama yang sekaligus menjadi wali (dan sebagaimana kesaksian banyak orang Mbah Moen diantaranya) akan benar-benar ‘mati’ dalam kematiannya justru karena hanya disakralkan melalui mitos-mitos kekeramatnya. Termasuk menjadikan makamnya sebagai ‘monumen suci’.

3. Mbah Moen dimakamkan di Ma’la, sebagaimana beliau idamkan. Banyak orang melihat itu demi ‘kepentingan’ pribadi beliau ‘di sana’.

Bagi saya, itu karena kerso beliau menghindarkan para santri dan muhibbin kelak sehari-hari kerjaannya hanya tekun menziarahi makam beliau, dan berkurang muthalaah dan bahtsul masailnya.

Apalagi sisi lain, kita tetap bisa mendoakan beliau dari mana saja, sebagaimana beliau juga bisa tetap membekahi kita dari mana saja.

Ila hadlrati Mbah Moen, Al-Fatihah…

12 Dzulqadah 1440 H.

Penulis: KH Umar Faruq, Dosen IPMAFA Pati.