Ada banyak sarjana dan cendekiawan Ciputat dimana saya belajar dan merasakan langsung perhatian dan jasa mereka dalam kehidupan akademik dan keluarga saya. Salah satunya Mas Bahtiar Effendy.
Sejak mahasiswa IAIN, saya hanya baca karya-karya beliau, khususnya tentang agama dan politik, termasuk karyanya Merambah Jalan Baru Islam, bersama Bang Fakhry Ali. Biografi singkat pendidikan formalnya, setelah pesantren di Pabelan Muntilan, Mas Bahtiar ke IAIN Jakarta, belajar Perbandingan Agama dan ilmu-ilmu lain di IAIN, intra dan ekstra kampus. Melanjutkan S2 Studi Asia Tenggara di Ohio University, lalu S-3 Ilmu Politik di Ohio, Columbus. Di antara karyanya yang hampir 20-an, ada Islam and the State in Indonesia (2003), dan Islam in Contemporary Indonesian Politics (2006), baik bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Beliau pun menjadi Guru Besar Ilmu Politik Islam, dan merintis Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Jakarta.
Bulan April 2015, saya menyapa Mas Bahtiar di FB messenger, memohon nasehat mengenai kiprah akademis saya di Amerika karena beliau memang tahu sejak lama, sejak saya di IAIN, dan sejak tahu saya alumnus Pesantren dan MAPK. Beliau sarankan saya “di Amerika saja dulu”. Lalu beliau cerita, “kami sedang bikin universitas baru, khusus untuk graduate school dan pusat-pusat penelitian”. Ia perkirakan 4-5 tahun selesai.
“Nanti orang-orang seperti Anda, Munim Siri, Sukidi, dan sebagainya yang menjalankan.” Beliau pun kirim proposal universitas itu ke email saya langsung (dan kemudian hardcopynya juga ketika bertemu).
“Anda harus ikut. Universitas ini nanti di bawah Depag….” (dst).
Saya pun menulis beberapa masukan untuk universitas ini dan beliau berterima kasih atas masukan saya.
Beberapa kali setelah itu, beliau mengirim update ke saya soal Universitas Islam Indonesia Internasional ini (nanti disingkat UIII): rencana bangunannya, SDMnya, organisasnya, dan sebagainya. Beliau minta saya untuk menyiapkan konsep fakultas kajian agama (Islam, Yahudi, Kristen, Katolik): berapa lama, kreditnya, courses, persyaratan bahasa, kurikulumnya secara keseluruhan. Saya pun membuat design dan kurikulumnya dalam bahasa Inggris. Setelah itu, saya ikut beberapa kali rapat, dan Mas Bahtiar meminta saya memberi masukan.
(Suatu saat beliau bilang, beliau akan menyiapkan honorarium buat kerja keras saya menyusun design itu dan akan beliau diskusikan dengan Prof Komaruddin Hidayat dan Pak Dirjen). Saya bilang, no worries. Anytime I am available.
Belakangan beliau menanyakan saya, bagaimana kalau Prof Reza Aslan, kolega saya di UC Riverside, dimasukkan sebagai anggota Board of Trustee UIII, karena menurutnya ia sedang mencari orang yang muda.
Ketika saya tanya perkembangan UIII, sekitar November 2018, beliau jawab, “so far so good. Kampus bulan depan insyaallah sudah mau dibangun. Software terus diperbaiki.”
Waktu Inas datang ikut rapat di kantornya di FISIP UIN Jakarta, ia mencium kening Inas, dan berkata, “you must miss your school in America.” Dan saya tahu Mas Bahtiar dekat dengan cucu-cucu dan keluarganya, terlepas kesibukannya yang luar biasa.
Hal lain, pernah Mas Bahtiar mengontak saya lagi, kali ini soal Muhammadiyah yang sedang mempersiapkan pernyataan terkait kebijakan Presiden Trump terhadap Islam dan dunia Islam, termasuk sejumlah pelarangan warga sejumlah negara ke AS. Beliau tanya poin-poin apa yang baik untuk dimasukkan. Saya pun menulis 7 poin dan beliau masukkan dalam pernyataan PP Muhammadiyah soal ini. Selain itu, beliau bilang mau datang ke Amerika, mau ikut Musyawarat Silaturahim Warga Muhammadiyah di Amerika, Juni 2019 lalu.
Saya selalu kirim kabar. Kami undang beliau ke walimah pernikahan saya, dan syukuran pernikahan, meskipun beliau tidak bisa hadir karena ada halangan dan mohon maaf. Terakhir, beliau bilang. “Nanti kapan-kapan saya main ke Riverside. Enak bulan apa ya?” (Allah menentukan, niat ini belum kesampaian).
Terus terang, saya masih sedih sekali. Saya kehilangan banyak orang-orang yang berjasa bagi banyak orang, termasuk bagi saya. Mas Bahtiar mendapatkan tempat spesial dalam kehidupan ilmiah saya. Saya akan kangen sekali sapaan-sapaan Mas Bahtiar di wa dan fb saya. Saya akan kangen pertanyaan dan minta tolongnya menyangkut pengembangan universitas. Kangen perhatian dan dukungannya. Kangen keramahtamahannya.
Saya yakin dan bersaksi, Prof. Dr. Bahtiar Effendy besar jasanya bagi UIN Jakarta, bagi umat, bagi bangsa, dan bagi dunia ilmiah internasional. Selamat jalan Mas. Sang Pencipta menunggu Mas Bahtiar dalam kebahagiaan dan kedamaian.
Mohon maaf, saya tidak bisa hadir menemani Mas di Depok dan peristirahatan terakhir. Saya hanya bisa sholat ghaib dan doa dari kota yang rencananya Mas mau kunjungi.
Kami menunggu giliran menyusul.
Penulis: Muhammad Ali, alumni UIN Jakarta.








