Mengenang Kepergian KH Muhammad Arifin Lathif Demak

Mengenang Kepergian KH Muhammad Arifin Lathif Demak

Posted on

Mengenang Kepergian KH Muhammad Arifin Lathif Demak.

KH Muhammad Arifin Lathif dilahirkan di Demak 1943, ada pula yang menulis 1945, dan beliau wafat pada Senin 18 Mei 2020 bakda Maghrib. Sewaktu kecil menginjak dewasa, beliau pernah nyantri pada KH. Sanusi Mutih Kulon, ayahanda KH. Ali Murtadlo dan Mertua KH. Mas’udi Mutih Wetan. Kyai Sanusi -sebagaimana penulis dengar dari Abah, begitu biasa kami para santri memanggilnya- salah satu kyai yang sangat wira’i dan rendah hati. Dan salah satu keramatnya yang terkenal adalah beliau pernah diracun seseorang tapi ternyata racun tersebut tidak berfungsi.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Setelah nyantri di Mutih beberapa tahun, beliau pindah di Ponpes Futuhiyyah Suburan Mranggen di bawah asuhan KH. Muslih bin Abdurrahman bin Qoshidil Haq. Sewaktu di Mranggen inilah, banyak hal yang mempengaruhi dan membentuk beliau, mulai sikap, fikiran dan kemampuan dalam berbagai disiplin ilmu yang terserap dari Hadratus syaikh KH. Muslih ini.

KH. Muslih adalah seorang kyai yang lemah lembut, tawadhu’ dan luas ilmunya serta aktif menulis kitab. Ada banyak kitab dan karyanya yang sampai sekarang masih banyak dipakai di pesantren, diniyyah dan komunitas lain di antara adalah kitab manaqib Syekh Abdul Qodir Jilany. Selain itu, beliau juga adalah Rais Aam Jamiyyah Ahlit Thoriqoh al Mu’tabaroh Annahdliyyah. Beliau meninggal sekitar tahun 1980an dan dimakamkan di Jannatul Ma’la Makkatul Mukarromah.

Di Futuhiyyah ini juga, beliau banyak dipertemukan dengan teman-teman yang pada akhirnya menjadi tokoh besar seperti KH. Abdurrahman Chudhori (Pengasuh PP API Tegalrejo Magelang), KH. Mastur Kauman Semarang dll.

Setelah dirasa cukup, beliau pulang dan membuat pesantren bernama Futuhul Ulum di Desa Buko Kec. Wedung Kab. Demak pada April tahun 1986. Dinamakan Futuhul Ulum karena dinisbatkan dengan pesantren gurunya yaitu Futuhiyyah.

Diawal pendirian pesantren -harus diakui- banyak sekali tantangan dari sekelompok orang yang memang sejak awal kurang menyukai akan kehadirannya terlebih akan membuat pesantren. Hal ini banyak sekali beliau ceritakan pada penulis karena -alhamdulillah- penulis berkesempatan khidmah beliau puluhan tahun sehingga banyak hal yang belum diceritakan orang diceritakan pada penulis.

Tidak hnya pendirian pesantren, sekelompok orang juga berusaha menghalang-halangi agar beliau tidak sampai ikut khutbah di sebuah tempat ibadah, upaya mengahalang-halangi itu berlaku sampai beliau wafat Senin 18 Mei 2020 bakda maghrib. Ruang geraknya dalam memimpin sebuah organisasi kemasyarakatan juga dibatasi terbukti beberapa kebijakannya diabaikan dan tidak diindahkan.

Ada juga, beliau punya andil besar dalam pendirian sebuah lembaga pendidikan yang cukup bonafit untuk lingkup kecamatan, akan tetapi jerih payah dan perjuangannya mulai dihilangkan dari sejarah pendirian lembaga pendidikan tersebut.

Penulis sendiri mulai masuk di pondok pada tahun 1989 waktu itu masih kelas 5 SD sehingga secara emosional hubungan terjalin begitu kuat sehingga banyak mendengar langsung riwayat tersebut dari beliau dan juga mengetahui beberapa manuver-manuver kotor beberapa orang yang -katanya- tokoh tersebut.

Penulis juga pernah berkesempatan bincang-bincang dengan beberapa tokoh yang mengenal beliau secara langsung, lebih tepatnya sekitar 13 tokoh, baik yang pernah menjadi teman mondok, teman mengajar di sebuah lembaga pendidikan maupun di luar itu.

Dari bincang-bincang tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa KH. M. Arifin Lathif adalah seorang ahli nahwu yang cukup mempuni, ahli fiqh dan ihtiyath dalam banyak hal. Dalam banyak hal, beliau senang dan bangga bila para santri matang dalam kemampuan mendalami berbagai macam ilmu alat seperti Nahwu, Shorof, dll.

Sebagai seorang santri, penulis sangat bangga pernah berkhidmah dengan beliau dan mendapatkan berkah ngaji Alfiyyah, Balaghoh, Mantiq, Ma’ani, Bayan, juga beberapa kitab-kitab fiqh seperi Bajuri, Mizan Kubro, Muhadzab, Mahalli, Fathul Wahab dan sebagainya. Sungguh beruntung sekali orang yang pernah belajar pada beliau. Bahkan beliau juga punya banyak karangan seputar nahwu, shorof, fiqh, tarikh dll, hanya saja masih dipelajari di internal pondok. Penulis berharap suatu saat ada gerakan para alumni untuk bisa nguri-nguri karangan beliau supaya bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Dari segi sikap, beliau berkali bilang bahwa semua santrinya sudah dianggap seperti anaknya sendiri tanpa membeda-bedakan. Inilah yang membuat hubungan santri dan kyai ini terasa dekat dan ngayomi. Juga, banyak hal yang beliau ajarkan pada santri terkait kemandirian sikap dan perilaku yang tidak banyak bergantung pada orang lain sehingga bila gantungan itu patah maka akan terasa berat menjalani hidup.

Ada banyak kisah dan cerita yang dialami penulis dan juga para santri lain tentunya, juga orang-orang yang pernah berinteraksi dengan beliau yang mungkin bisa diceritakan disini sebagai upaya utk mengingatkan betapa baiknya beliau, betapa pemurahnya beliau dan selalu hangat.

Salah satu cerita yang bisa penulis bagi diantaranya adalah sekitar tahun 1994, penulis bersama 5 orang teman pondok pernah mencari dana dan jual kalender untuk pembangunan. Waktu itu, kami berenam 15 hari tidak pulang dan terus memaksimalkan upaya pencarian dana mulai dari Menco sampai Jepara. Hasil cukup banyak tapi bukan itu maksudnya, setelah sekian lama baru pulang kami tiba di pondok disambut dengan hangat dan pelukan dari sang kyai.

Masya Allah, luar biasa, betapa berhatian beliau pada kami. Hal itu terlihat dari kekhawatiran dan kecemasan beliau pada kami semua. Sampai saat ini, 6 santri tersebut 5 masih hidup dan 1 sudah meninggal di Maluku.

Demikian kisah untuk mengenang kepergian KH Muhammad Arifin Lathif Demak, semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya dan mendapatkan ridho dan rohmat Allah Awt.

Lahu Al-fatihah.

Wedung, 20 Mei 2020

Penulis: Ustadz Wahid Su’udi, santri Kiai Muhammad Arifin Lathif Demak.