Mengenal Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Panutan dari Banten

Mengenal Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Panutan dari Banten

Mengenal Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Panutan dari Banten

Secara nasab, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani adalah dzuriyah Sultan Maulana Hasanuddin bin Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati yang silsilahnya bersambung pada Rasulullah melalui jalur Sayyidina Husain ra. Leluhur beliau secara turun-temurun memang tinggal di Banten.

Ayah beliau adalah Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Jantha bin Mas Bukal bin Mas Kun bin Mas Nun bin Mas Wi bin Tajul Arsy bin Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Sedangkan ibundanya adalah Zubaidah binti Muhammad Singaraja.

Bersama saudaranya, Syekh Nawawi mengaji ilmu agama pada ayahandanya. Kemudian melanjutkan pendidikannya pada ulama Banten dan sekitarnya, diantaranya adalah Kiai Sahal dan Kiai Yusuf. Berkat kegigihan dan kesabarannya dalam belajar, Nawawi muda kemudian menjelma menjadi sosok ahli ilmu yang mengungguli teman-temannya.

Tak puas dengan ilmu yang didapatnya, Nawawi muda melanjutkan rihlah ilmiahnya ke tanah suci Haramain.

Di Mekah, Syekh Nawawi belajar pada Sayyid Ahmad an-Nahrawi, Syekh Ahmad ad-Dimyathi dan Syekh Muhammad Hasabullah bin Sulaiman as-Syafi’i al-Makki. Nama terakhir adalah murid Syekh Abdul Hamid ad-Daghistani as-Syarwani, pakar Fiqih Mazhab Syafi’i sekaligus Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Ahmadiyah Muzhariyah yang salah satu penerusnya adalah Syaikh Abdul Azhim dari Bangkalan, Madura.

Syaikh Nawawi tidak mencukupkan belajarnya di Tanah Suci Haramain, tetapi juga ke negeri Syam, Mesir dan juga Daghistan.

Setelah keilmuannya diakui oleh para gurunya, Syekh Nawawi didaulat menjadi pengajar di Masjidil Haram. Halaqahnya didatangi ratusan pelajar termasuk para pelajar nusantara. Selain di Masjidil Haram, beliau juga membuka halaqah di rumah beliau. Diantara santrinya adalah Syekh Abdul Haq (cucu beliau) dan Syekh Abdus Sattar ad-Dihlawi, penulis kitab Faidl al-Malik al-Muta’ali.

Selain mengajar, beliau juga menulis kitab dari berbagai fan. Yang paling fenomenal tentunya adalah tafsir beliau yang berjudul Marah Labid Li Kasyf Ma’na Qur’an Majid atau lebih populer dengan sebutan Tafsir Munir. Tafsir yang terdiri dari dua jilid ini selesai pada Malam Rabu, 05 Rabiul Akhir 1305 H. / 20 Desember 1887 M.

Setiap penulis pasti mati. Yang abadi hanya tulisannya. Janganlah kau menulis kecuali sesuatu yang membuatmu bahagia di akhirat.

Diantara karya beliau dalam fan Tasawuf adalah Salalim al-Fudlala’ (mulai ditulis: Rabu, 22 Rabiuts Tsani 1293 H. dan selesai pada hari Selasa, 13 Jumadal Ula 1293 H.), Maraqil Ubudiyah (selesai ditulis Malam Ahad, 13 Dzul Qa’dah 1289 H.), Nashaihul Ibad (selesai pada Kamis, 21 Shafar 1311 H.), Misbah az-Zhulm ala an-Nahj al-Atamm fi Tabwib al-Hikam dan lainnya.

Sebagai sosok multidisipliner, tentu beliau juga bertarekat. Syekh Nawawi sendiri dalam kitabnya, Bahjah al-Wasail, syarah risalah Sayyid Ahmad bin Zain al-Habsyi: Wa ba’du, berkata orang yang penuh kealpaan, yang mengharap ampunan Tuhan Maha Pemurah dan Kuat, Muhammad Nawawi yang bermazhab Syafi’i serta bertarekat Qadiriyah.

Keterikatan Syekh Nawawi dengan Tarekat Qadiriyah juga terlihat ketika beliau mengutip pendapat Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab-kitabnya. Seperti kitab Salalim al-Fudlala’, Nashaih al-Ibad dan Tanqih al-Qaul al-Hatsits.

Dalam Tanqih al-Qaul misalnya, beliau mengutip Syekh Abdul Qadir al-Jilani sebanyak dua puluh kali dan menyebutnya dengan: al-Qutb ar-Rabbani Sayyidi as-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani atau yang sering dengan: Sayyidi as-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Semoga artikel Mengenal Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Panutan dari Banten ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin

simak artikel terkait di sini

kunjungi juga channel youtube kami di sini

Penulis: Aji Setiawan, mantan wartawan Majalah AlKisah, tinggal di Purbalingga

Editor: Muhammad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *