Mengenal Syafiq Ali, Tokoh Muda NU Penggerak Media dan Literasi Digital

Syafiq Ali NU Online

Syafiq Alielha (kadang disebut Syafi’ saja), pegiat gerakan di kalangan anak muda Nahdliyin, terlibat dalam perumusan 9 Nilai Utama Gus Dur bersama beberapa sahabat yang lain, motor penggerak NU Online, islami.co., dan beberapa eksperimen lain di bidang digital, hadir di dalam muktamar-muktamar yang diadakan anak muda NU, juga hadir di Mubes warga NU Cirebon. Di dalam dunia gerakan mahasiswa 98, juga sangat dihormati karena keterlibatannya di dalam Forkot, Famred, dan FPPI.

Syafi’ lahir di Tayu, Pati pada 21 November 1974, dari orang tua yang bernama Bpk Ali Hamdan dan Ibu Karsi. Terlahir sebagai anak yang pertama dari 5 bersaudara, yaitu: Syafi’, A. Qomaruddin, Hani Rasyidah, A Khoroni, dan Laili Husniyah. Sebagai orang yang lahir di Pati, Syafi’ sangat lekat dengan tradisi santri dan pesantren.

Sang ayah, Bpk. Ali Hamdan, dulu nyantrinya di Pondok Mbah Fadhol Senori. Menurut cerita sang ibu, ketika zaman bayi, Syafi’ dibawa ke Mbah Fadhol, dan Mbah Fadhol ngendiko: “Anakmu iki nakal”. Mendengar cerita seperti itu dari ibunya, Syafi’ hanya tertawa dan mesam-mesem saja. Ayahnya kemudian menjadi guru madrasah dengan usaha sampingan membuka warung kelontong, sedangkan Karsi, sang ibu, menjadi guru sekolah dasar.

Di Pati, sejak kecil, Syafi’ sudah diminta ngaji oleh orang tuanya agar menjadi orang yang mengerti dasar-dasar agama dan ilmu-ilmu pesantren. Pertama-tama, Syafi’ ngaji di Raudlatut Thalibin, Pakis, Tayu, Pati; kemudian ke Pesantren Mambaul Ulum, Pakis, Tayu, Pati yang diasuh KH. Aniq Muhammadun; dan kemudian ke PP Mathaliul Falah, Kajen, Pati, asuhan KH. MA Sahal Mahfudz, sambil sekolah MTs dan MA.

Syafi’, ketika masa-masa ngaji ini, sejak kecil sudah mengamalkan wirid yang diperoleh dari kitab ayahnya, ditemukan di sela-sela membuka kitab sang ayah. Saat itu, Syafi berdisiplin wirid “wa idza bathostum-bathostum jabbarin”. Syafi juga senang dengan wirid-wirid untuk jenis pukulan agar jadi kuat, dan teman-temannya pun diajak, yang wiridnya harus diwiridkan setelah sholat Jumat. Akan tetapi hasilnya kurang memuaskan.

Tidak puas dengan beberapa wirid itu, Syafi pada masa-masa ngaji, kemudian sering melakukan riyadhah puasa, karena penasaran dengan dampak dari riyadhah jenis puasa ini. Misalnya, Syafi’ pernah melakoni sejenis Puasa Ngerowot selama 40 hari, dan sampai 3 kali ambalan. Maksudnya untuk puasa padang ati dan mendapat ilmu ladunni (min ladunna ilma). Puasa jenis ini, tanda puasanya berhasil, katanya bila mimpi minum air laut. Akan tetapi, yang diharap-harap dari mimpi itu tidak juga terjadi, bahkan katanya, mimpi air sumur saja tidak muncul. Syafi’ menyadari godaan riyadhah, adalah ingin mendapatkan ini dan itu, sangat kuat saat remaja.

Pada masa menginjak usia Madrasah Aliyah, Syafi menjalani puasa Ndalail Taon. Riyadhoh yang pada masa seusianya di pondok, sangat jarang dilakukan. Akan tetapi ketika hampir selesai, ternyata Alloh memberikan taqdir yang lain, berupa kecelakaan dan masuk RS selama seminggu. Selama seminggu itupun ketika sakit itu, saat siang, Syafi’ remaja, tidak mau disuntik atau minum obat, karena dia tidak ingin membatalkan puasanya. Karena Ndalail Taon-nya tinggal 3 bulan, sehingga sangat eman-eman untuk ditinggal. Pada masa nyantri ini, Syafi’ hafal kitab-kitab nazham Imrithi, Alfiyah, dan sebagian juz dari Al-Qur’an, hampir 4 juz. Akan tetapi pelajaran yang sangat tidak disukainya adalah Ilmu Falaq, sampai-sampai nilainya selalu ada di bawah. Ketika mengeluh sama ibunya, sang ibu selalu menghiburnya untuk bersabar dan telaten.

Setelah dari Mathali’ul Falah, Syafi’ sempat mampir di INISNU Jepara, selama setengah semester pada tahun 1992. Setelah itu, Syafi’ masuk ke IAIN Sunan Kalijaga, selama satu semester antara periode 1993-1994, di Fakultas Syari’ah. Tahun 1993, Syafi mendapat uang kiriman Rp 40.000 sebulan melalui wesel, sementara teman-temannya saat itu ada yang mendapat kiriman Rp 150.000 per bulan. Dengan kiriman sebesar itu, Syafi menyadari: ”Sejak itu, saya baru merasa berasal dari keluarga miskin dan kampung saya berada di bawah garis kemiskinan.” Setelah itu, Syafi’ mengambil cuti, dan selebihnya banyak aktif di pers mahasiswa Arena. Syafi’ juga terlibat ikut di organisasi PMII, seangkatan dengan Kemal Fasya (Aceh).

Syafi’, saat itu memutuskan cuti kuliah, karena ayahnya wafat, sementara adiknya (A. Qomarudin, atau dipanggil Tole) juga kuliah, dan adik-adik yang lain ada di pondok. Sebagai anak pertama, Syafi’ memikul tanggungjawab untuk meringankan beban orang tua. Sejak saat itu, Syafi’ selain bergiat di Arena, juga menulis di berbagai media massa, baik resensi atau artikel, untuk menambah biaya hidup di Yogyakarta.

Ketika di Yogyakarta, pengetahuan Syafi’ didodor-dodor dan dibuka, seperti diakuinya di Kompas: ”Di IAIN pula frame saya tentang agama lain berubah. Dari sebelumnya cenderung paranoia terhadap agama lain, saya menjadi lebih terbuka. Di sini pengaruh Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) sangat signifikan. Gagasan pribumisasi Islam yang diwartakan Gus Dur membuka mata kami, bagaimana semestinya Islam diterapkan di Indonesia. Tanpa sosok Gus Dur, sulit membayangkan saya dan generasi muda NU umumnya bisa memiliki frame pluralistik seperti sekarang” (Kompas, 16 Mei, 2008).

Syafi’ kemudian memutuskan untuk pindah ke Jakarta belajar Filsafat Sosial di STF Driyarkara, pada periode 1996-1999. Ketika keluar dari IAIN, dan masuk STF, pemahaman Syafi tentang agama-agama membuatnya lebih terbuka lagi dan mengalami langsung, dan meluaskan pergaulan dari sekadar di lingkaran santri tradisi. Ia tak lagi hanya berkeinginan memperdalam pemahaman agama, melainkan tertarik pada sosiologi, filsafat, dan studi kultural.

Terlebih lagi, saat pindah ke Jakarta ini, Syafi aktif di Kelompok Studi 164 bersama yang lebih senior, seperti Ulil Abshor Abdalla, Elyasa KH Darwis, dan Chotibul Umam Wiranu; juga menjadi reporter Tabloid Warta NU, yang saat itu diterbitkan oleh PBNU pada masa Gus Dur. Keaktifan di tabloid Warta NU, yang berkantor di Gedung PBNU, mengawalinya untuk aktif di PBNU. Syafi’ sebagai orang yang datang dari daerah, tidak canggung-canggung lagi masuk gedung PBNU, yang harus memakai lift itu.

Dua persentuhan, di IAIN-STF dan di lingkaran Islam tradisi ini, menjadikan Syafi, memiliki pergaulan yang luas, tetapi pada saat yang sama, ia mengaku tidak akan meninggalkan NU. Dia juga berharap sahabat-sahabatnya yang telah belajar banyak ilmu sosial, agar bergiat kembali ke asalnya, komunitasnya, agar pembasisan gerakan memperoleh pijakan yang kokoh; tidak hanya berhenti dalam tumpukan laporan dan jilidan penelitian.

Ketika di Jakarta, Syafi’ juga masih sering berpuasa. Suatu ketika pernah berpuasa mutih selama seminggu. Ketika berbuka puasa, di P3M, nasinya beli di luar, dan tidak cukup selera, sangat beda ketika masak sendiri seperti di Pondok, sehingga hanya sedikit sekali yang dimakan. Pada hari keempat, sebagian sahabat-sahabatnya melihat Syafi’ jatuh dari tangga P3M, karena sebenarnya dia sendiri tidak cukup bertenaga, dan ternyata dia memang sedang puasa mutih.

Ketika gerakan reformasi dimotori mahasiswa begitu dahsyat, Syafi’ terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa 98 itu melalui Forkot dan Famred: dua organisasi yang dikenal sangat fokal, tetapi kemudian ditandingi oleh pendirian FPI. Di organisasi ini, Syafi’ bertemu dengan aktivis-aktis 98 dan menjadi salah satu pimpinan pentingnya.

Dengan pecahnya gelombang aksi reformasi itu, Syafi’ menjadi belajar berurusan dengan banyak orang dan bertemu dengan banyak orang-jaringan, karena harus datang ke kampus-kampus untuk ngisi diskusi, mimbar bebas, dan berjejaring dengan banyak orang. Rapat hampir tiap hari. Dari kerja-kerja seperti itu, Syafi’ menyelami pergerakan yang bukan hanya mikir dan diskusi, tetapi juga silaturahmi dan membangun jaringan.

Setelah gelombang reformasi menjatuhkan pemerintah Soeharto, Syafi’ sering bolak-balik Yogyakarta-Jakarta. Di samping untuk berkoordinisasi soal gerakan mahasiwa, Syafi’ juga mengunjungi adik-adiknya di Yogyakarta, yang semua kuliah di IAIN Sunan Kalijaga. Menjamurnya penerbitan baru, dan adanya kebebasan untuk membaca buku setelah tumbangnya pemerintah Soeharto, Syafi’ kemudian sempat membuat penerbitan buku, yang fokus pada buku-buku sastra dan humaniora, antara periode 2003-2009.

Di Jakarta, Syafi’ kemudian menjadi motor NU Online pada tahun 2003, bersama KH. Mun’im DZ (Wapemred); kemudian dipasrahi untuk menjadi Pimred (2009-2016); dan menjadi direktur untuk periode 2016-2020. NU Online melalaui koordinasi dan kepemimpinan Syafi’, menjadi media online yang dimiliki NU, terdepan dalam mengampanyekan Islam Aswaja, kebangsaan, dan masalah-masalah kemanusiaan, dan ratingnya terus naik. Setelah itu juga mendirikan islami.co., Nutizen, dan melakukan pelatihan-pelatihan di berbagai tempat kaitannya dengan media, literasi, dan NU.

Setelah itu, sejak tahun 2011, bersama Alissa Wahid dan sahabat-sahabat senior lain di lingkaran murid-murid Gus Dur, Syafi’ terlibat menginisiasi pembentukan jaringan Gusdurian. Sampai pada perumusan 9 Nilai Utama Gus Dur, Syafi’ terlibat intens, yang dalam pertemuan perumusan akhir, dilakukan bersama sahabat Rumadi, Marzuki Wahid, NKR, Hamzah Sahal, Inung, Hairus Salim, dan Alissa Wahid beserta suami.

Pengalaman bersambung, diundang, dan berjejaring pada masa gerakan 98, terus berlanjut hingga sekarang. Pengalaman itu membuat Syafi’ lebih sanggup bekerja membangun jaringan di lingkungan anak-anak muda NU, dan sanggup aktif di Gedung PBNU, ngurusi NU Online, bergiat di Gusdurian, dan menemani teman-teman muda NU progresif yang biasa bermain dan berkumpul di markas NU Online, dan terlibat aktif dalam kerja-kerja kaderisasi. Karena menurutnya, salah satu hal penting dalam pergerakan adalah kaderisasi.

Di antara banyak gurunya di Jakarta, dengan Gus Im, Syafi sangat dekat dan sering berkunjung ke rumahnya. Menurut Syafi’, bila ngobrol dengan Gus Dur akan dibawa pada pengetahuan yang meluas, tetapi ketika ngobrol dengan Gus Im, menurutnya: “Karakternya yang lebih underground membuat lebih nyambung,” untuk menandaskan jalannya kaderisasi, pergerakan, dan eksperimen-eksperimen.

Di tengah kesibukannya itu, Syafi’ selalu mengisi sebagian waktunya untuk menjalankan amalan membaca A-Qur’an, yang ketika di pondok sempat dihafalkan, meski hanya 4 juz. Dia juga sering ingat pesan sang ayah, agar kalau bisa setiap seminggu khatam, agar doa gampang diijabahi. Semoga selalu panjang umur, sehat, dan hidup berkah.

Penulis: Nur Khalik Ridwan, Yogyakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *