Ibu Nyai Nur Rofi’ah. Sosok tokoh muda Nahdliyin yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan, berbasis kajian-kajian tafsir dan hadits, dan menjadi tutor di acara-acara KGI (Keadilan Gender Islam) di berbagai daerah. Bila penular dari kalangan laki-laki untuk acara seperti ini, biasanya diwakili Faqihuddin Abdul Qodir dengan Majlis Mubadalah-nya, sedangkan untuk perempuan, Nur Rofiah adalah salah satu penular yang handal, disamping Nyai Hj. Ciciek Farcha, dan beberapa aktivis yang lain.
Nur Rofiah lahir pada tanggal 6 September 1971 di Randudongkal, Pemalang Jawa Tengah. Orang tuanya bernama Qusyaeri dan ibunya bernama Seha. Keluarga dan lingkungannya adalah keluarga santri, sehingga masa kecil Nur Rofiah tidak jauh dari madrasah dan langgar. Nur Rofiah kecil, menempuh pendidikan TK dan SD di Randudongkol, Pemalang. Ketika TK, Nur Rofiah kecil sempat mogok; tetapi ketika SD mulai belajar giat. Nur Rofiah, ditinggal wafat sang ibu saat baru kelas II SD dan menyusul ayahnya wafat saat kelas VI SD. Akan tetapi mulai kelas IV SD, Nur Rofiah giat belajar: ketika pagi belajar di SD, dan ketika sore belajar di Madrasah Diniyah, dan malam harinya ngaji al-Qur’an dan ilmu-ilmu keagamaan dasar di desanya.
Setelah tamat SD di Randudongkal, Nur Rofiah mondok di Jawa Timur, tepatnya di pondok putri yang didirikan oleh Mbah Ny. Hj. Khoiriyah Hasyim, putri Mbah KH. Hasyim Asy’ari, di Seblak Jombang. Selama 6 tahun, Nur Rofiah berada di Seblak, untuk mondok dan sekolah di MTs dan MA di Madrasah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Yayasan Khoiriyah Hasyim. Dua gurunya yang banyak berpengaruh pada pembentukan karakter ketika di pondok ada dua: Nyai Hj. Jamilah Ma’shum sebagai pengasuh dan pimpinan tertinggi pesantren yang kuat dan berwibawa; dan salah satu putra beliau, Bapak Umar Faruq, guru matematika yang menanamkan berpikir kritis.
Setelah itu, Nur Rofiah melanjutkan pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga dengan mengambil Jurusan Tafsir Hadits pada tahun 1990. Ia masuk dan menjadi angkatan kedua setelah jurusan ini dipindah ke Fakultas Ushuluddin. Di kampus IAIN Jogja ini, Nur Rofiah banyak mendatangi dan terlibat dalam banyak diskusi. Apalagi saat itu, pemikiran yang berkembang berkecambah di kampus, merangsang pergulatan pemikiran, di antaranya adalah pemikiran Gus Dur, Cak Nur, Ahmad Wahib, Fazlur Rahman, Hasan Hanafi, Riffat Hassan, Amina Wadud, dan lain-lain. Skripsinya di Jurusan Tafsir Hadits diselesaikan dengan judul Peranan Sahabat dalam Pembentukan Sunnah.
Ketika belajar di Jogja ini, selain megenal pemikiran-pemikiran yang progresif dan kritis tentang masalah-masalah keislaman, Nur Rofiah, mulai semester IV memutuskan pindah dari kos-kosan ke Pondok Krapyak, di Komplek Hindun Yayasan Ali Ma’shum, Krapyak. Di pondok ini, di antaranya gurunya adalah Ibu Nyai HJ. Nafisah Ali Ma’shum yang pandangan keislamannya diungkapkan dengan jenaka sehingga membuat hati menjadi adem.
Di Yogyakarta pula, Nur Rofiah masuk PMII dan menjadi ketua Korpri PMII F Ushuluddin. Pada zamannya, ada tuntutan Korpri dibubarkan, karena dianggap mendomestifikasi perempuan dan tidak bisa berkiprah di PMII. Dalam RTA PMII, akhirnya Korpri dibubarkan, diikuti Korpri yg lain. Nur Rofiah saat pembubaran Korpri, nangis terharu, dan dia setuju dibubarkan.
Melalui Nyai Hj. Ida Rufaida Ali Ma’shum, Krapyak, Nur Rofiah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Turki. Dia menempuh S2 di di Ankara University Turki, bidang tafsir (1999) dengan tesis berjudul Kur’an’a Transformatif Yaklasim (Masdar Farid Masudi Ornegi); dan S3 juga di Ankara University, Turki (2001), dengan karya Kur’an’a Butuncul Yaklasimi (Pendekatan Integral terhadap Al-Qur’an). Keseluhan waktunya di Turki dihabiskan selama 5 tahun dan tidak pernah pulang sama sekali ke Indonesia.
Setelah kembali ke Indonesia, Nur Rofiah bergabung dengan program Jaringan Islam Emansipatoris di P3M, yang ketika itu masih dipimpin KH. Masdar Farid Mas’udi. Di P3M, Nur Rofiah menjadi Koordinator Pendidikan dan Bahsul Masail Program Jaringan Islam Emansipatoris (2002-20004); dan Koordinator program Pendidikan Islam Emansipatoris JIE (2004-2006). Pada periode 2005-2010, Nur Rofiah menjadi salah satu Dewan Syuro PKB, yang ketuanya Gus Dur; dan di jajaran wakil sekretaris ada juga Badriyah Fayumi.
Di sela-sela masih di P3M, Nur Rofiah menjadi asisten dosen Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA di jurusan Tafsir-Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah. Setelah itu, Nur Rofiah diangkat sebagai CPNS tahun 2004, dan ditetapkan sebagai dosen UIN Syarif Hidayatullah yang diperbantukan di Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (Institut PTIQ). Nur Rofiaf kemudian mundur dari P3M, tetapi masuk ke Perhimpunan Rahima, dan menjadi Badan Pengurus. Selain itu, Nur Rofiah juga pernah menjadi dosen tamu pada Program Kajian Wanita UI (2003). Pada periode kepengurusan PP Fatayat 2010-2015, Nur Rofiah masuk sebagai Ketua VII, yang ketua umumnya dipegang oleh Ida Fauziah.

Beberapa karya Nur Rofiah di antaranya adalah Pandangan Islam atas Perkosaan dalam Perkawinan (2007), Urgensi Kesehatan Reporduksi untuk Calon Pengantin (Fatayat NU, 2008), Islam dan Perlunya Pendidikan Anak Usia Dini (Fatayat NU, 2009), Islam sebagai Rahmat bagi Alam Semesta (Depag, 2010), Hak Buruh Migran Indonesia sebagai warga Negara, pekerja perempuan dan muslim (Fatayat NU-2010), dan Agama Mendengar Suara Perempuan, Korban Kekerasan demi Keadilan (Komnas Perempuan, 2010), dan Kajian tentang Hukum dan Penghukuman: Konsep Ideal Hudud dan Praktiknya (Komnas Perempuan, 2018).
Buku-buku di atas, menjadi sumbangan penting untuk kalangan muda, santri, dan bangsa Indonesia dalam khazanah perempuan dalam sudut pandang Islam. Selain itu, fenomena KGI, telah mempertemukan ide-ide yang dibawa Nur Rofiah ke dalam majlis-majlis santri dan kaum muda di berbagai daerah. Nur Rofiah juga hadir dalam acara-acara perempuan internasional dan nasional.
Kegiatan KGI yang kini berseri-seri itu, pertama kali diadakan di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Apa yang dikampanyekan oleh Nur Rofiah dan dibagikan kepada perempuan-perempuan muda serinf ditegaskan “bukan gerakan membenci pria, namun gerakan untuk mencapai kesederajatan antara laki-laki dan perempuan”. Nur Rofiah ingin melawan stigma yang buruk tentang perempuan, yang dikesankan hanya masak, macak, dan manak.
Apa yang dikembangkan oleh Nur Rofiah dan juga pegiat kesederajatan laki-laki perempuan dari kalangan Nahdlatul Ulama, juga Faqihuddin Abdul Qadir dengan Majlis Mubadalah-nya, menjadi arus tersendiri dalam gerakan perempuan. Mereka membaca HAM, tetapi tidak mau semata-mata merujuk pada HAM. Sebaliknya, mereka merujuk pada tafsir ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, sehingga argumentasinya dapat menyentuh aspek pengetahuan para santri.
Selain di KGI, Nur Rofiah juga diundang di beberapa acara Gusdurian, terutama ketika berbicara isu perempuan dan Pribumisasi Islam. Ketika pertemuan Tunas Gusdurian di Asrama Haji Yogyakarta (2018), Nur Rofiah juga dating dan masuk di komisi yang berbicara Probumisasi Islam. Demikian pula ketika Gusdurian menyelenggaran riset tentang pribumisasi Islam, Nur Rofiah adalah salah satu dari kalangan perempuan yang diminta memberi masukan-masukan, selain beberapa tokoh yang lain, seperti Marzuki Wahid, Ahmad Suaedy, Imam Aziz, Mustaghfirah Rahayu, dan Wiwin Siti Aminah Rahmawati.
Nur Rofiah, tinggal di Jakarta bersama suami yang bernama Cahyo (Kang Jojo) dan dikaruniai beberapa anak, yaitu Mohammad Gandhi dan Sevgi Ahinsa. Demoga sehat selalu, panjang umur dan hidup berkah.
Penulis: Kiai Nur Khalik Ridwan, Yogyakarta.








