Menangislah Pak Jokowi, Ibu adalah Separuh Nafas Kehidupanmu

Menangislah Pak Jokowi, Ibu adalah Separuh Nafas Kehidupanmu

Posted on

Ibu dan Tentang Kehilangan

Sumber pertama seorang anak mengenal dunia bukanlah ayah, melainkan ibu. Dengan penuh perhatian, ia menjaga anaknya dalam kandungan dengan usaha terbaik sekaligus doa yang tak putus. Saat melahirkan, ia berjuang dan berkorban untuk anaknya. Tidak sedikit, lebih baik kehilangan nyawa ketimbang kehilangan anak. Ibu juga yang mengajarkan huruf alif pertama kali kepada anaknya yang terbata. Karena ibu juga dengan kemarahan apapun membuat anak pasti untuk kembali dan merajuk.

Sebesar apapun seorang anak tumbuh, ia tetaplah sebagai anak; patuh kepada orangtua, khususnya ibu. Rasa rendah hati, sedikit bicara, dan banyak bekerja yang selama ini dilakukan oleh Jokowi selama memimpin Solo, Jakarta, dan Indonesia adalah hasil tempaan ibu. Karena itu, setiap keputusan politik besar yang ingin dilakukannya, ia selalu meminta pendapat dan restu sang ibu. Bagi Jokowi dan juga bagi kita semua, ibu adalah segalanya sekaligus tempat kita kembali ke rumah dengan nyaman di luar dunia yang sangat tak ramah.

Kehilangan ibu tercinta yang sebelumnya lama sakit bagaikan dunia serasa runtuh, sementara beban persoalan negara sedang teramat berat. Padahal, satu-satunya persoalan berat menjadi begitu ringan dan tiba-tiba hilang adalah karena mendengarkan suaranya dari ujung telepon. Meskipun dalam kondisi sakit, sang ibu selalu berkata, “ibu baik-baik saja nak. Kerjakanlah pekerjaanmu hingga selesai”. Ia berkata begitu sambil menahan sakit yang begitu ditekannnya untuk memberikan rasa nyaman kepada anaknya.

Jokowi adalah anak laki-lakinya. Ia pantang menangis. Saat menangis, ia akan mencari tempat sepi, menyendiri agar kerapuhannya tidak terlihat orang lain. Rasa kehilangan dunia dan seisinya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehilangan seorang ibu. Jokowi sangat tahu itu. Lebih menyayat adalah ia kehilangan saat membutuhkan sandaran hidup di tengah memimpin Indonesia yang tengah krisis pandemik virus corona.

Menangislah Jokowi tidak usah ditahan. Laki-laki kehilangan segalanya tentang dunia dan segala isinya tak bisa merana, tetapi kehilangan orang yang dicintai, apalagi itu ibu adalah separuh nafas yang membentuk peradaban kehidupanmu; membuatmu runtuh dan bumi seakan berhenti. Namun, setiap tetes tangisanmu kepada ibu adalah cermin, betapa kamu adalah anak laki-laki biasa dari kebanyakan orang Indonesia. Bedanya, kamu adalah laki-laki yang saat ini dipegang amanah memimpin Indonesia. Doa yang terbaik untuk ibunda pak Jokowi dan harapan yang besar untuk Indonesia melalui badai pandemik yang menjengkelkan ini. 

Penulis: Wahyudi Akmaliyah, Peneliti LIPI.