Mbah, sampun pradin Mbah …
Engkau beristirahatlah sejenak serambi di kelilingi cucu-cicitmu yang lucu-lucu dan nikmatilah hasil taqarrub dan ta’abbud ila Allah-mu yang kami tahu sudah selama hidup-mu. Sesungguhnya kami yakin engkau sangat berhak.
Mbah, saya adalah saksi ketika engkau menolak amplop yang sangat tebal yang berisi uang dari panitia ketika diadakannya Silaturrahmi 99 Alim Ulama NU di Sarang.
Mbah, kami adalah saksi. Yang menyaksikan betapa zuhudnya engkau duhai ulama yang berkamar kayu, berdipan kayu tua, beralaskan kasur kapuk dan tidak ada kemewahan dunia di sekeliling-mu.
Mbah, kami adalah saksi. Yang menyaksikan betapa memuliakannya engkau kepada habaib dan penghormatan-mu kepada para pemangku amanah rakyat.
Mbah, kami adalah saksi. Yang menyaksikan bahwa tidak pernah ada satupun momen yang membuat wajah-mu memerah karena marah. Tidak pernah kami lihat engkau emosi karena hal yang tidak cocok dan tidak sesuai dengan keinginan-mu.
Mbah, kami adalah saksi. Yang menyaksikan bahwa politik tidak menurunkan derajat-kemuliaan-mu sebab engkau berpolitik dengan santun tanpa merendahkan orang yang berbeda dengan pilihan-mu. Engkau tetap baik kepada orang-orang yang memilih jalan politik yang berbeda dengan engkau.
Mbah, betapa malunya kami tidak bisa menuruti sedikit keinginan-mu sedangkan engkau sudah memberi kepada kami lebih dari banyak.
Penulis: Muhammad Shidqi.








