islam nusantara
Opini

Mbah Maksum Lasem dan Mbah Bisri Mustofa, Cermin dalam Islam Nusantara

Gara-gara ketemu Michael Laffan, Indonesianis asal Australia yang mengajar di Belanda, saat di Kairo, saya menyadari perlunya mengeksplorasi biografi kiai-kiai ‘khôs’ atau spesial. Alasannya sederhana, dalam melakukan pengamatan terhadap NU, Laffan hanya mendasarkan pemikirannya kepada definisi atau pandangan pengurus struktural NU. Menurut saya, dia kurang mengerti atau kurang “menghargai” eksistensi Kiai Khôs di balik jam’iyah NU. Setidaknya selama pertemuan itu.

Saya katakan padanya, anda harus mengetahui “tarjamah” atau biografi kiai ‘khôs’ agar lebih utuh mengetahui atau memahami organisasi NU. Di hadapannya, saya contohkan Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Mustofa dan Kiai Syahid Kemadu Rembang. Itu yang dari Rembang saja, kata saya. Lainnya, bisa disebut Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Abdullah Salam Kajen Pati dan sejuta kiai ‘khôs’ yang ada di kampung-kampung. Kala itu, secara lesan, saya mengeksplore banyak kisah, bukan hanya berkaitan dengan “global unity”, tapi juga lainnya.

Di antaranya kisah berikut :

KH Ma’shum Ahmad atau Mbah Ma’shum Lasem memanglah bukan “top leader” di struktural NU, baik Cabang, Wilayah atau Pusat.

Beliau adalah kutub jaringan para kiai, bukan hanya Jawa, tetapi juga luar Jawa—ini pula yang menghantarkan saya untuk mengenal Tuan Guru Zainuddin Abd Majid Lombok.

“Ia seorang guru dari Lasem yang kurang dikenal pada tingkat nasional”, kata Denys Lombard dalam buku Le Carrefour Javanais : Essai d’Histoire Globale (edisi Indonesia berjudul : Nusa Jawa Silang Budaya). Tapi, lanjutnya, “…kematiannya (wafatnya) pada 1972 menimbulkan goncangan hebat dari ujung jaringan satu ke ujung yang lain”.

Ada kebiasaan dari Mbah Ma’shum Lasem, yaitu menghadiri kondangan dari tetangga, seberat apapun kondisi fisik beliau—karena sudah sepuh. Bahkan undangan walimah dari tetangga non Muslim, Tionghoa, beliau pun tetap hadir—100 meter barat ndalem beliau adalah “Chinese Town”. Soal bagaimana sikap beliau saat disuguhi hidangan, kita bahas di lain waktu.

Kebiasaan beliau ini ditiru oleh Kiai Bisri Mustofa, yang walaupun tidak pernah mondok di Mbah Ma’shum tetapi populer dianggap sebagai santri beliau—ada 2 buku yang menyebutkan Kiai Bisri Mustofa di urutan awal santri Mbah Ma’shum. Pertama, buku Tasynîful Al-Asmâ` bi Syuyûkhil Ijâzah was Simâ’ karya Dr. Mahmud Sa’îd Mamdûh, murid Syaikh Yâsîn Padang di Mekkah, dan kedua buku Natsrul Jawâhir wad Duror karya Dr. Yûsuf Al-Ma’asyaly, dosen Hadits & Fiqih di Universitas Beirut. Buku kedua merujuk pada buku pertama, dan kedua buku itu cetakan Beirut Lebanon.

Kiai Bisri Mustofa bertetangga dengan non Muslim—termasuk Tionghoa—dengan sangat dekat, sedekat beliau bertetangga dengan muslim lainnya. Tidak ada perbedaan sama sekali. Dikisahkan, ketika seorang Tionghoa meninggal, anaknya menghadap Kiai Bisri dan minta didoakan sebagaimana beliau mendoakan warga muslim. Doa yang dimaksud adalah sholat jenazah. Karena Kiai Bisri memang seorang Kiai yang genealogi intelektual-nya sudah jelas, semua tidak jadi soal. Beliau menuruti permintaan anak tetangganya yang beragama Konghucu—waktu itu agama ini masih dilarang Eyang Soeharto.

Untuk menghormati tetangganya itu, pada siang hari itu Kiai Bisri mengajak para santrinya untuk ke rumah almarhum. Dengan mengambil air wudhu di pondok, mereka berangkat berjalan kaki di belakang Kiai Bisri. Sesampainya di rumah duka, dan setelah semua siap, beliau memberikan instruksi kepada para santri untuk shalat empat rokaat. Tentu “niyatus-sholât” tidak perlu saya tulis di sini.

Setelah selesai sholat, anak almarhum senang, puas, dan bertanya, “Kok sholatnya tidak seperti biasanya? Biasanya ‘kan hanya berdiri saja, dan ini kok ada rukuk dan sujud…?”.

Anak almarhum itu, sekalipun bukan muslim, rupanya tahu bagaimana cara orang Islam bersholat atas jenazah. Pengetahuan itu tentu disebabkan pergaulan yang sangat dekat dengan Kiai Bisri dan warganya.

Dengan tegas dan mantap, Kiai Bisri pun menjawab, “Itu spesial untuk ayahmu…”.

Kisah ini berkelanjutan.

Saat Kiai Bisri Mustofa wafat, anak-anak dan warga Tionghoa pun ramai-ramai datang takziyah dan ikut mensholatinya. Di antara mereka ada yang sambil menepuk dada dan bangga berkata, “Saya ikut sholat jenazah 4 kali… ”.

Kisah ini tentu bukan kisah yang mengalir biasa tanpa ada visi sosial-keagamaan yang kuat nan hebat. Kita tidak usah sibuk mencari dimana dalil, ta’bir-nya, atau “payung hukum” atau “regulasi agama” dari style Kiai Bisri di atas. Kalau kualitas kita masih bicara Halal, Haram, Wajib, Makruh; maka kita tidak akan bisa menggapai posisi yang mana Kiai Bisri (dan kiai NU lain) sedang mengimplementasikannya.

Islam ini harus didekati dengan (belajar) memahami perilaku kiai seperti Kiai Ma’shum dan Kiai Bisri. Dan tentu melibatkan prespektif sosio-antropologis. Kalau hanya argumentasi tekstualis, semua kisah di atas tidak akan terjadi; tidak akan ada kiai bersama santri sholat di rumah duka non muslim, dan tidak akan terjadi seorang non muslim sholat jenazah seorang muslim. Lalu, ini Islam model apa? Bagaimana cara memahami Islam jenis ini?

Kita tidak usah berbicara definisi-definisi, dan kita akan kesulitan jika hanya berbicara tingkat definisi. “I feel difficult to explain in Indonesian, let alone in English…”, kata saya pada Pak Samuel Tadros, dari the Hudson Institute for Religious Freedom US, sesaat setelah acara Global Unity Forum yang dilaksanakan oleh PP. Ansor 2015 lalu.

Penulis: KH M Luthfi Thomafi.

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement