mbah moen ngaji

Mbah Maimoen dan Barokahnya Santri “Kalih Doso Sekawan”

Posted on

Saat itu, Rosyidi santri asal Balikpapan mondok di Hadratussyaikh KH Maimoen Zubair Jawa Karangmangu Sarang Rembang Jawa Tengah. Ia mondok mulai tahun 1993 sampai tahun 1996. Ketika beliau mulang (ngajar) kitab di Musholla Pondok Al-Anwar, ia selalu berusaha duduk persis di depan meja Mbah Moen ini.

Suatu ketika sebagaimana biasa setelah Dluhur, Mbah Moen mulang kitab “Ibnu Aqil”. Beliau kadang bertanya pada santri:

“Koco piro saiki Cung…? (Halaman berapa sekarang Nak…?)”.

Ia yang duduk persis di depan Beliau menjawab: “Kalih doso sekawan (24)”.

Saat itulah ia ditertawai oleh para santri yang mendengar jawaban saya itu. Mbah Moen mengulangi lagi bertanya: “Piro…piro…?” (Berapa..berapa…?).

Ia tetap menjawab: “Kalih doso sekawan”. Mbah Moen dawuh: “Petang likur ngono lho Cung…”.

Ternyata…ia berbahasa Jawa halus, tapi salah dalam tata bahasa. Subhaanalloh…tidak ada yang kebetulan, tidak ada sebutir debu atau selembar daun pun yang jatuh di kegelepan malam, kecuali atas kehendak-Nya.

Ternyata… 24 itu menjadi angka keberkahan buatnya:

(1) Saat akan menikah, ia sowan pada Mbah Moen untuk meminta tanggal pernikahan, beliau ternyata menentukan tanggal 24 November 2000. Ternyata tanggal itu juga tanggal kelahiran calon mempelai wanita. Sebelumnya ia tidak tahu tanggal lahir calon istrinya.

Mbah Moen tidak menentukan tanggal pernikahan, tetapi hari pernikahan, yang kebetulan waktu itu Jum’at Wage, 24 November 2000. Jum’at enam ditambah wage empat sepuluh. Dalam hitungan orang jawa dengan ditambah dua hari sebelumnya, semuanya berjumlah 41 (Kanthongumur)

(2) Rumah Mertuanya No. 24.

(3) Anak pertama lahir tanggal 24 April.

(4) Anak yang ke-2 lahir malam tanggal 24.

(5) Wisuda S-1 Rosyidi di STAIN SMD angkatan ke-24.

(6) Tidak semua santri bisa masuk ke kamar pribadinya Mbah Mun, tanggal 24 Syaewal 1439 H, ia disuruh masuk ke kamar Mbah Moen.

(7) Di sebelah rumahnya ada sebidang tanah yang diincar oleh banyak orang, karena posisinya yang strategis, persis di depan gerbang Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan, bahkan ada orang yang ingin membelinya dengan harga dua kali lipatnya, tapi si pemilik tidak menjualnya. Tiba-tiba yang punya tanah meminta Rosyidi untuk membelinya dengan harga murah dan boleh dikredit. Ternyata…panjang tanah tersebut 24 M.

Baca Juga >  Susah Payah Usia Senja, Mas Dawam Tetap Membaca dengan Lensa Pembesar

(8) Mbah Moen pernah mampir ke rumah yang ia tinggali sejak Februari 2001. Selama itu ia tidak pernah mengecek panjang sisi utaranya. Beberapa hari yang lalu setelah Mbah Moen wafat, iseng-iseng ia mengukurnya, ternyata 24 M.

(9) Suatu saat ia pernah diperintah membeli sesuatu oleh Mbah Moen, setelah barang itu diserahkan pada beliau, tiba-tiba beliau mengambil dompet dan mengambil uang tanpa dihitung. Sebenarnya ia tidak mau menerima uang tersebut, tapi Mbah Moen memaksa agar menerima uang pemberian tersebut. Di atas bus perjalanan Sarang-Surabaya ia menghitung uang yang diberikan oleh Mbah Moen. Ternyata 24 lembar. Ia bertekad bahwa uang tersebut tidak akan dibelanjakan. Ia teringat pada sejarah KHR. As’ad yang pernah dikasih uang oleh Syaichona Cholil Bangkalan, uang tersebut sampai saat ini masih disimpan oleh Pengasuh Pesantren berikutnya.

Masih banyak keberkahan “Kalih Doso Sekawan” (24) yang tidak sanggup ia ceritakan: “Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka ceritakanlah…”.

“Mohon doanya…In Sya ALLOH hari ini (24 Agustus 2019-red) saya bersama Tim akan mengadakan pertemuan perdana untuk membuat karya MUSHAF AL-QUR’AN MADINATUL IMAN, ditulis oleh 9 Kaligrafer Balikpapan, In Sya ALLOH akan menjadi Al-Qur’an terbesar/terindah/terunik di dunia, In Sya ALLOH akan tuntas ditulis dalam 313 hari,” kata Rosyidi.

Semoga bermanfaat dalam keberkahan…

Balikpapan, 24 Agustus 2019.

Foto: Syaikhona Maimoen Zubair bersama KH Abdul Rahman Wahid dan Gus Baqoh Abdul Hamid Kajoran Magelang.

*Tulisan ini dibuat oleh Kanthongumur berdasarkan kisah langsung dari Ahmad Rosyidi.