Mau Sukses Hidup, Contohlah Kyai Dachlan Sebagai Guru Ngaji

“Mengapa semasa kyai Dachlan, dari 90 santri setelah 2 tahun berhasil khatam 20 santri. Karena kyai Dachlan mampu merekrut guru yang ikhlas-ikhlas. Bagaimana cara kyai Dachlan merekrut guru yang ikhlas. Hanya orang ikhlas yang mampu merekrut orang yang ikhlas pula.” (Ust. Bunyamin Dachlan)

Tiga Wasiat KH. Dachlan Salim Zarkasyi, yakni Ikhlas, Tadarus dan Tahajud. Dari ketiga wasiat tersebut yang terberat adalah ikhlas. Bukan hanya soal frekuensi waktu mengamalkan atau kuantitas perbuatan namun juga kualitasnya.

Jika Tahajud hanya dilakukan pada seperempat malam akhir saja, sedangkan Tadarus dilakukan dilakukan pada waktu mustahab (dianjurkan), maka hal ini berbeda dengan ikhlas yang dilakukan disemua kegiatan yang kita lakukan setiap saat.

Begitu pula jika kualitas Tahajud bisa dilihat dari seberapa khusu’ kita saat takbiratul ikhram hingga salam, sedangkan Tadarus dianggap berkualitas jika bacaan kita fasih dan tartil serta mengerti maknanya, maka ikhlas adalah ruh setiap pekerjaan yang kita lakukan baik muamalat maupun ibadah yang sulit sekali dipahami kualitasnya.

Saat Rasulullah ditanya tentang arti ikhlas, beliau memilih diam dan akan menanyakannya kepada Jibril. Ketika Jibril ditanya oleh Rasulullah tentang ikhlas, Ia pun diam tak mampu menjawab. Ia pun menanyakan kepada Allah SWT, karena hanya Allah-lah yang mampu menjawab pertanyaan ini. Allah pun berfirman:
الإِخْلاَصُ سِرٌّ مِنْ سِرِّى اِسْتَوْدَعْتُهُ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنَ العِبَادِى
“Ikhlas adalah rahasia dari rahasia-Ku yang aku titipkan kepada orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.”

Jawaban Allah dalam hadits Qudsi ini seolah-olah menggambarkan begitu dalamnya makna ikhlas, sehingga Allah menganggapnya sebagai bagian dari rahasia Allah, yang tentunya hanya hamba-hambanya yang khusus yang mengetahui apa itu ikhlas.

Ikhlas bukan hanya sekedar lisan saja. Justru ikhlas yang diucapkan bukanlah ikhlas sesungguhnya. Keikhlasan yang diucapkan itu butuh keikhlasan lagi. Abu Ya’qub as-Susi sebagaimana dikutip al-Qusyairi mengatakan “Apabila orang telah berani mempersaksikan bahwa keikhlasan telah melekat pada dirinya, maka sesungguhnya keikhlasan mereka itu masih butuh keikhlasan lagi.”

Tanda keikhlasan seseorang menurut Dzun Nun ada tiga: menganggap sama antara pujian dan celaan, melupakan untuk memperlihatkan amal dan melupakan untuk mendapatkan pahala amal.

Wallahu A’lam
Yusuf Muhajir Ilallah
Kudus, 3 September 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *