haikal hassan

Mau Ngurus Umat, Jadi Ahli Ceramah? Ngaji Dulu, Mondok Dulu!

Posted on

NU semakin kentara tuahnya, semakin dihujat semakin nguwalati. NU gudangnya para alim, bukannya NU anti kritik, namun para pengritik NU harus sadar itu, jika tidak maka hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Setidaknya ada 3 “ustadz” yang seringkali meledek, menghina bahkan tidak jarang menghujat NU dan ulama’nya, dalam beberapa hari ini dengan tidak sadar membuka aibnya sendiri di medsos, ternyata kualitas keilmuannya tidak lebih tinggi dari santri kelas ibtida’iyyah dalam pesantren NU.

Yang pertama Tengku Zulkarnain, wasekjen pengurus pusat MUI dan ulama alumni 212. Inginnya mengkritik hasil Munas NU tentang sebutan “kafir”, ternyata tidak faham ilmu sorof paling dasar sekalipun, hingga kliru dalam mentashrif asal kata “kafir” dengan menyebut (kafara-yukaffiru-kufran), seharusnya (kafara-yakfuru-kufran/kufuuran/kufraanan).

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Kedua, Haikal Hasan ulama 212, saat diwawancarai TV One dia juga membicarakan tentang polemik “kafir” juga. Ternyata dia juga tidak mengetahui bahwa “kafir” dan “kuffar” itu satu arti (menutup/menentang nikmat Allah/tidak beriman), hanya saja “kafir” itu bermakna tunggal, sedangkan “kuffar” itu jamak/plural.

كَفَرَ ( فعل ):
كفَرَ / كفَرَ بـ يكفُر ، كُفْرًا وكُفُورًا وكُفْرانًا فهو كافِرٌ والجمع : كُفَّارٌ ، وكَفَرَةٌ وهو كَفَّارٌ أَيضًا ، وهي كَفُورٌ والجمع : كُفُرٌ وهي كافرة ، والجمع كوافرُ ، والمفعول مكفور – للمتعدِّي
كَفَرَ الشَّيْءَ : سَتَرَهُ ، غَطَّاهُ كَفَرَ عَلَيْهِ
كَفَرَ اللَّيْلُ الْحُقُولَ : غَطَّاهَا بِظُلْمَتِهِ وَسَوَادِهِ
كَفَرَ الْجَهْلُ عَلَى عِلْمِهِ : غَطَّاهُ
في معجم المعاني الجامع

Ketiga Maher Attuwailibi ustadz salafi pro 212, orang ini kalau menghujat NU dan kyai-kyai NU penampilannya jauh dari akhlaq orang berilmu, mirip preman jalanan yang tidak berpikiran sehat. Meski dia tampilannya berjubah dan bersurban layaknya seorang syeikh, namun saat mentashrif kata “talafi” juga ngawur, dia mengatakan kata talafi berasal dari kata (talafa-yutlifu-talafan), padahal yang benar (talifa-yatlafu-talafan) yang bermakna “rusak”

تلِفَ:
تلِفَ يَتلَف ، تَلَفًا ، فهو تالِف وتلِف وتَلْفانُ / تلفانٌ :-
• تلِف الزَّرعُ فسَد ، عطِب :- تتلف كميّات كبيرة من الفواكه أثناء نقلها ، – تلِف القمحُ بسبب تعرُّضه للأمطار .
• تلِف الشَّخصُ : هلَك وفني :- ذهبت نفسُه تَلَفًا : هدرًا .
المعجم: اللغة العربية المعاصر

Dari kejadian ini menjadi catatan buat saya, dan siapapun. khususnya yang suka kritik dan hujat sana sini di medsos. Kritiklah dengan dasar ilmu dan akhlaq, karena tanpa dua hal itu maka hanya akan menambah fitnah dan menjerumuskan umat dan diri dalam kehinaan.

Dari fenomena di atas mengingatkan kita pada warning yang disampaikan oleh Nabi SAW dan sahabat di bawah ini.

Imam Al-Bukhari berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ , قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ حَصِيرَةَ , قَالَ : حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ , قَالَ : سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ , يَقُولُ : ” إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ : كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ ، قَلِيلٌ سُؤَّالُهُ ، كَثِيرٌ مُعْطُوهُ ، الْعَمَلُ فِيهِ قَائِدٌ لِلْهَوَى ، وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ : قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ ، الْهَوَى فِيهِ قَائِدٌ لِلْعَمَلِ ، اعْلَمُوا أَنَّ حُسْنَ الْهَدْيِ ، فِي آخِرِ الزَّمَانِ ، خَيْرٌ مِنْ بَعْضِ الْعَمَلِ ”

Menceritakan kepada kami Abdullah bin Abul Aswad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Harits bin Hashirah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb, ia berkata, aku mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan,; “Sesungguhnya kalian berada pada zaman yang terdapat banyak ahli ilmu dan sedikit pengkhutbah, sedikit yang bertanya, banyak yang mampu memberi (fatwa), amalan adalah pemimpin hawa nafsu. Dan akan datang setelah kalian suatu zaman yang terdapat sedikit ahli ilmu dan banyak pengkhutbah, banyak yang bertanya, sedikit yang mampu memberi (fatwa), hawa nafsu adalah pemimpin amalan. Ketahuilah, bahwa petunjuk yang baik pada masa akhir zaman itu lebih baik daripada sebagian amalan.”
(Al-Adabul Mufrad)

Baca Juga >  Makna dan Sejarah Lailatul Qadar

Perkataan Ibnu Mas’ud ini senada dengan sabda Nabi SAW riwayat Imam Al-Bukhari :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يبْق عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Telah menceritakan kepada kami Ismaa’il bin Abu Uwais, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Malik, dari Hisyam bin Urwah, dari Ayahnya, dari Abdullaah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila tidak tersisa lagi seorang ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)

Penulis: Fathul Qodir, Aswaja Center NU Jawa Timur.