Marzuki Wahid: Akademisi-Aktivis di Bidang Hukum Keluarga

marzuki wahid

Marzuki Wahid, pegiat gerakan masyarakat Nahdliyin dan terlibat mengorganisir gerakan untuk mempromosikan Khittah NU, baik di Cirebon maupun di tempat lain. Dia juga terlibat dalam mengorganisir panitia local, ketika diadakan Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU yang diadakan di PP. Babakan Ciwaringin Cirebon, bersama Gus Nuruzzaman, dan sahabat-sahabat Cirebon lain. Marzuki Wahid juga bergiat di Ornop, akademisi, guru Gusdurian di wilayah Cirebon, dan ikut merusmuskan 9 Nilai Utama Gus Dur.

Marzuki Wahid lahir di Losarilor, Losari, Cirebon, pada 20 Agustus 1971 dari ayah yang bernama KH. Abd. Wahid dan ibu Hj. Siti Mahmudah. Marzuki Wahid adalah anak pertama dari pasangan itu, dan saudara-saudaranya: Mahrus El Mawa, Masykur Wahid, Muhammad Musni Wahid, Maryam Mahmudah, dan Zainab Mahmudah. Di bawah asuhan ayah dan ibunya, Marzuki Wahid mengenal dasar-dasar Islam. Beberapa kitab yang diajarkan ayahnya kepada Marzuki Wahid, di antaranya kitab Safinah dan al-Ajrumiyyah.

Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah Ibtida’iyah As-Suniyyah Mulyasari (1977-1983); sambil ngaji sharaf Amtsilatut Tasriyah kepada KH. Abd. Rasyidi, kitab dasar tajwid Hidayatush Shibyan kepada KH. Mahsus, dan ngaji Al-Qur’an kepada KH. Umar. Setelah itu, Marzuki dikirim ayahnya untuk nyantri di PP. Babakan, Ciwaringin, Cirebon sambil menamatkan pendidikan MTsN dan MHS di pesantren tersebut (1983-1986). Di Pesantren Babakan ini, Marzuki ngaji kitab Kailani kepada KH. Yahya Masduki, Imrithi kepada KH. Fuad Amin, ngaji Al-Qur’an kepada KH. Dahlan, ngaji al-Ajrumiyah kepada KH. Asmawi; dan belajar kitab-kitab fiqh kepada KH. Syairozi, KH. Amin Halim, dan kyai-kyai lain.

Marzuki Wahid kemudian nyantri ke PP. Krapyak Yogyakarta asuhan KH. Ali Maksum (1986-1992), sembari menempuh sekolah di MAN I Yogyakarta (1986-1989). Sementara jarak antara MAN 1 dengan Krapyak cukup jauh, sehingga Marzuki harus wira-wiri memakan waktu yang tidak singkat. Pada masa di Krapyak, Marzuki Wahid ngaji beberapa kitab: Riyadhus Shalihin, Jawamiul Kalim, Risalatush Shiyam, dan beberapa yang lain kepada KH. Ali Maksum; kitab al-Asybah wan Nazhair, al-Furuq, dan beberapa yang lain kepada KH. Zainal Abidin al-Munawwir; kitab Syarah Ibnu Aqil, al-Muhadzab, al-Wahyu al-Muhammadi, dan beberapa yang lain kepada KH. Warson al-Munawwir; kitab Tafsir al-Jalalain kepada KH. Hasbullah; dan mengkhatamkan Al-Qur’an kepada KH. Najib Abdul Qadir. Guru-guru lain di Krapyak yang pernah ditimba ilmunya oleh Marzuki Wahid, di antaranya: KH. Masyhuri Ali Umar, KH. Habib Syakur, KH. Hendri Sutopo, dan KH. Muhtarom Busyro.

Setelah lulus MAN 1 Yogyakarta, Marzuki Wahid meneruskan kuliah di Fak. Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1986-1995), dengan skripsi berjudul Karakter Hukum Islam di Indonesia Masa Orde Baru; dan juga mengaji tafsir kepada KH. Malik Madany, MA. Pada saat itu, Marzuki juga mengambil Fakultas Non-Gelar Teknologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1989-1990). Selama belajar di Yogyakarta, Marzuki Wahid aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pernah menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Fak. Syari’ah IAIN Yogyakarta (1992-1994), mendirikan Tabloid Advokasia (kemudian menjadi majalah), dan mendirikan KSBH (Kelompok Studi Bantuan Hukum).

Ketika aktif di PMII, Marzuki Wahid pernah menjadi wakil Ketua Rayon, PMII F. Syariah, pengurus PMII Komisariat IAIN Sunan Kalijaga; pengurus Cabang PMII Yogyakarta, pada zaman ketuanya dipegang Muhaimin Iskandar dan Eman Hermawan. Saat aktif di cabang ini, Marzuki Wahid bareng dengan al-Zastrow NG, musisi dan pendiri Grup Musik Ki Ageng Ganjur.

Lulus S1, Marzuki Wahid kemudian nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur (1995), dan kemudian mengambil S2 pada bidang hukum Islam di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1996-1998), dengan thesis berjudul Konfigurasi Politik Hukum Islam di Indonesia: Studi tentang Pengaruh Politik Hukum Orde Baru terhadap Kompilasi Hukum Islam (1998). Marzuki kemudian juga mengambil Extension Program STF Driyarkara Jakarta (1999-2000); dan meneruskan S3 di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1999-2013, tetapi tidak selesai). Selama setahun pada periode ini (2008-2009), Marzuki Wahid memperoleh scholarship untuk menulis Disertasi di Department of Political and Social Change, RSPAS, ANU Canberra Australia. Setelah itu, Marzuki juga mengambil S3 di UIN Sunan Kalijaga (2014-2017). Selama di Jakarta, Marzuki berguru kepada para guru besar, seperti Harun Nasution, Qurais Shihab, Qomarudin Hidayat, Kautsar Azhari Noer, Said Aqil al-Munawwar, dan banyak lagi yang lain.

Marzuki Wahid mengawali kiprah awalnya di dunia akademik, ketika pertama kali diterima sebagai Dosen di STAIN Cirebon (1995-1996), setelah lulus S1; lalu diangkat sebagai Dosen Fak. Syari’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung (1998-2010), setelah lulus S2; Dosen STAINU Jakarta (2007-2008). Setelah itu, menjadi Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M), IAIN Syekh Nurjati Cirebon (2014-2015.); dan sampai sekarang menjadi dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon; dan dosen di ISIF (Institut Studi Islam Fahmina).

Kiprahnya di lingkungan Kemenag (di STAIN Cirebon dan UIN Sunan Gunungdjati), membawa Marzuki Wahid ke Kemenag Pusat. Marzuki diangkat menjadi Kepala Seksi Penelitian dan Pengkajian Ilmiah, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag RI (2001-2009); juga menjadi Konsultan Pengembangan Ma’had Aly, Kementerian Agama RI (2015-2016); dan Executive Editor of Journal ISTiQRO’, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam , Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI (2002-2008).

Kiprahnya di masyarakat, dilakukan melalui Nahdlatul Ulama dan organisasi nonpemrintah. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Marzuki Wahid memulai dengan menjadi Staf Program di PP Lakpesdam-NU Jakarta (1998-2000); kemudian menjadi anggota Redaksi Jurnal Tashwirul Afkar (2000-sekarang); Wakil Ketua PC Nahdlatul Ulama Kab. Cirebon (2002-2012); Wakil Ketua PP Lakpesdam NU Jakarta (2010-2015); menjadi Wakil Ketua PP LAKPESDAM-NU, Jakarta (2010-2015); menjadi Wakil Rais Syuriyah PCNU Kab. Cirebon (2012-2017); dan kini menjadi Sekretaris LAKPESDAM-PBNU, Jakarta (2015-2020).

Kiprahnya di bidang gerakan masyarakat, di antaranya bersama KH. Husein Muhammad, Affandi Mochtar, dan Faqihuddin Abdul Kodir mendirikan Fahmina-institute, pada bulan November 1999, tetapi ke publik dimunculkan pada bulan Februari tahun 2000. Fahmina, banyak melakukan riset, advokasi dan kolabiorasi dengan berbagai jaringan, untuk kerja-kerja sosial; dan juga mendirikan ISIF (Institut Studi Islam Fahmina). Di Fahmina, Marzuki pernah menjadi Sekretaris Dewan Kebijakan Fahmina Institute Cirebon (2007-2009); dan kemudian menjadi Direktur Fahmina-institute Cirebon (2009-2012). Ketika Fahmina mendirikan perguruan tinggi, Marzuki Wahid diangkat sebagai Deputi Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon (2010-2014).

Marzuki Wahid juga aktif sebagai narasumber dan fasilitator dalam berbagai pelatihan, lokakarya, seminar, dan membawanya bisa berkunjung ke-30 provinsi di Indonesi, dan beberapa negara lain untuk menjadi peserta atau narasumber seminar, seperti di Malaysia, Egypt, Saudi Arab, The Netherlands, Germany, Franch, Australia, Thailand, dan Singapore. Jam terbang ini, semakin memerkaya wawasannya di bidang yang diminatinya, seperti Islam dan gender, hukum keluarga, demokrasi, dan penelitian partisipatif. Konsennya di bidang hukum keluarga, juga membawanya terlibat dalam menyusun naskah akademik Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (bersama Pokja Pengarusutamaan Gender Kementerian Agama, 2004); terlibat menyusun Rencana Aksi Nasional Hak-Hak Konstitusional Perempuan (bersama Komnas Perempuan, 2009); dan terlibat menyusun Naskah Akademik RUU Perlindungan Umat Beragama (bersama Setara-Institute, 2011).

Selain itu, Marzuki Wahid juga aktif menulis buku, modul, artikel di jurnal ilmiah, koran lokal, dan nasional. Di antara tulisannya: bersama Rumadi menulis buku Fiqh Madzhab Negara: Kritik atas Politik Hukum Islam di Indonesia (2001); bersama Said Aqil Siraj, Suwendi dan Saefudin Zuhri, Marzuki Wahid menulis Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren (1999), dan bersama Abd. Moqsith Ghozali dan Suwendi mempublikasikan buku Geger di Republik NU: Perebutan Wacana, Tafsir Sejarah, dan Tafsiran Makna dan Dinamika NU: Perjalanan Sosial dari Muktamar Cipasung (1994) ke Muktamar Kediri (1999) (1999); bersama Abd. Moqsith Ghazali, Badriyah Fayumi, dan Syafiq Hasyim, Marzuki Wahid juga menulis buku Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan: Bunga Rampai Pemikiran Ulama Muda (2002); bersama Faqihuddin Abd Kodir, KH. Husein Muhammad, dan Lies Marcoes-Natsir, menulis Dawrah Fiqh Perempuan: Modul Kursus Islam dan Gender bagi Aktivis (2005); bersama Faqihuddin Abd. Kodir, KH. Husein Muhammad, Abd. Moqsith Ghazali, dan Imam Nakha’i, menulis buku Fiqh Anti Traffiking: Jawaban atas Berbagai Persoalan Perdagangan Perempuan (2005); dan masih banyak lagi yang lain.

Dalam kapasitasnya sebagai guru gerakan di kalangan Gusdurian, yang berpusat di Cirebon, Marzuki Wahid terlibat dalam berbagai pertemuan, seperti pada Tunas Gusdurian (2018), dan ikut merumuskan 9 Nilai Utama Gus Dur yang sangat bersejarah. Dalam perumusan itu, Marzuki Wahid bersama Rumadi Ahmad, Savic Alilha, Hairus Salim, NKR, Zainul Hamdi, Hamzah Sahal, Alissa Wahid, dan Mas Erman.

Di Cirebon, Marzuki Wahid tinggal di kompleks pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, dan menikah dengan Lia Aliyah al-Himmah (2001-2014), dikaruniai 3 anak: Mohammed Ahda al-Musharraf, Nilna Zahwa Zaharah, dan Fadwa Ahla Samhah. Setelah istri pertamanya wafat (2014), setahun kemudian, pada tahun 2015, Marzuki Wahid menikah dengan Nurul Bahrul Ulum dan dikaruniai anak bernama Nasywa Binahdlati Niswah, dan tinggal di dekat ISIF. Ketika tinggal di Cirebon ini, Marzuki juga ngaji Kutubus Sittah kepada KHR. Ibnu Ubaidillah Syathori, paman dari istri pertamanya; dan sering bertukar pikiran dengan KH. Hussein Muhmmad, KH. Khozin Nasuha, dan KH. Ahsin Sakho Muhammad. Selian, itu, sekarang, juga menjadi Mudir Ma’had Aly Kebon Jambu, PP Kebon Jambu Babakan, Ciwaringin, Cirebon.

Semoga panjang umur, sehat, dan berkah selalu.

Penulis: Kiai Nur Khalik Ridwan, Pengasuh PP. Bumi Cendekia, Gombang, Sleman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *