tokoh muda islam indonesia

Letakkan dalam Kerangka Ilmu dan Akhlak: Iso Po Ora, Cung?

Posted on

Pembagian “Islam Official” dan “Islam Oposisi” ala Ibrahim Abu Rabi’* –meski di rasa saya kurang pas– rupanya mendekati realitas. Mungkin pembagian Muslim mayoritas dan Muslim minoritas bisa juga, tapi perlu disensus agar faktual, bukan mitos. Bisa juga Islam mainstream dan anti-mainstream, meski juga kurang sreg di perasaan saya. Kapan-kapan kita cari istilah yang pas.
Tapi Inti maksudnya begitulah…

Di Indonesia, yang pertama diwakili Muhammadiyah dan NU serta ormas Islam yang telah lama ada di Nusantara, yang kedua diwakili oleh yang muncul ke permukaan pasca reformasi, seperti model IM, Salafi, ex-HTI dll.

Nah sekarang ini Islam Oposisi di Indonesia tengah ofensif terhadap Islam Official. Serangan personal pada Ust. Abdul Mu’ti (Sekum PP Muhammadiyah), Gus Miftah (NU) dan yang terbaru serangan pada Gus Muwafiq (NU) adalah bentuk ofensifitas kelompok Islam oposisi secara nyata.

Serangan? Tahdzir? Iya…karena dilakukan seraca ofensif, dari menghina sampai demo segala, bukan tabayyun dialogis. Pada saat yang sama sikap tersebut tidak diterapkan kepada da’i lain –yang mungkin dari kelompok mereka sendiri, misalnya pada Evie Effendie yang bilang Muhammad sesat dan Hanan Attaki yang menyebut Nabi Musa preman dan Ummul Mukminim gaul. Andai mengkritik, ya halus saja, tidak sampai demo.

Baca Juga >  Berguru Kepada Prof. Quraish Shihab

Tidak, saya tidak sedang sok-sokan untuk pamer mampu membela Ust. Abdul Mu’ti, Gus Muwafiq dan Gus Miftah. Mereka lebih bisa membela diri daripada saya, meski faktanya mereka tidak pernah membela-bela diri secara re-ofensif. Saya sekadar menggambarkan bagaimana serangan itu ada.

Tidak lama lagi mungkin akan ada serangan (atau bahkan sudah, saya belum tahu) pada Gus Baha’ yang sedang naik daun, sebagai salah satu tokoh Islam mainstream dari NU.

Saya berharap begini saja, kalau ada yang nggak cocok soal pandangan keagamaan, letakkanlah dalam koridor ilmu dan akhlak karena itu adalah cara yang paling menyelamatkan. Diskusi dialogis dengan buka referensi serta dilandasi adab yang baik akan menjadikan perbedaan menjadi rahmat.

Tapi nek diterus-teruske lehmu nahdzir, nganggo demo barang… yo ming ngetokke lehmu cupet, cung. 😊

______
*Istilah ini saya dapat dari tulisan Ust. Nurbani Yusuf, menukil Prof Amin Abdullah yang mengutip Ibrahim Abu Rabi’, dimuat di IBtimes.

Penulis: dokter Alim, kader Muhammadiyah.