fatayat bawa bendera nu

Lawan NU Bukan Wahabi, Benarkah?

Posted on

31 Januari 1926, NU didirikan sebagai respon terhadap kondisi internasional yakni bubarnya kekhilafahan Turki dan kemenangan “rezim Wahabi” di Tanah Hejaz (Makkah Madinah).

Tapi sejarah telah berubah. Negara-negara (nation-state) muslim telah berdiri dengan kekhasan masing-masing. Dunia Muslim berkembang cukup dinamis. Kelompok Wahabi juga terus berproses, bermetamorfosa. Syahdan, beberap organisasi muslim transnasional bertumbuh, dan berkembang di Indonesia.

Judul provokatif (belajar meniru gaya orang) di atas bisa di tambah kata “hanya”: Musuh NU bukan hanya Wahabi. Maksudnya, tidak perlu membayangkan NU seperti 93 tahun yang lalu.

Terlalu menyederhanakan masalah atau gebyah uyah itu tidak positif. Pemetaaan masalah harus jelas. Pemahaman terhadap kondisi terkini juga harus clear.

Lawan NU tidak hanya Wahabi, lantas apa lawan NU banyak? Iya. Tetapi tidak lantas menyusun barisan lawan di papan tulis untuk dihadapi sekaligus. Ini tidak baik, dan bisa dikategorikan sombong.

Yang perlu dilakukan adalah distribusi peran. Kelebihan orang NU adalah gampang sekali berkumpul. Tapi ini sekaligus bisa menjadi kelemahan. Seperti buah durian atau mangga di rumah kita yang bergerombol tapi ada di bagian sisi jalan, awasss itu mudah digerpol dan diambil orang sekaligus saatkita terlelap.

Baca Juga >  Provokasi Berkibarnya Bendera HTI Mengotori Makna Hari Santri

Distribusi peran ini juga menjadi sangat penting dalam konteks persaingan di tingkat nasioal. Selain faktor internasional di atas, NU juga didirikan sebagai bagian dari pergerakan nasional sebelum era kemerdekaan.

Sekarang, kondisi sudah berubah. Sebaran SDM atau “kader”juga banyak di berbagai lini. Sesekalilah berkumpul di rumah induk untuk tahlilan, mendengarkan siraman spiritual dari para kiai kampung, minum kopi dan tertawa bersama. Ini perlu. Tapi setelah itu fokuslah pada bidang garapan masing-masing.

Dalam konteks lawan-melawan, atau persaingan, NU tidak selalu harus mencari perbedaan. Ada waktunya untuk bersama dengan elemen lain. Kapan waktunya bersinergi, kapan waktunya bersaing (berfastabiqul khoirot) harus jelas.

Selamat Harlah NU ke-93. Harlah NU zaman now.

Satu abad masih 7 tahun lagi. Tapi 2019 ini tahun yang sangat menentukan, bukan? NU harus menang. Menang Pilpres sudah pasti. Alhamdulillah. Tapi itu hanyalah awal dari kemenangan lainnya.

Penulis: A Khoirul Anam, Dosen UNU Indonesia Jakarta.