Lapangkan Hati Menerima Wejangan Guru, Jangan Dikuasai Nafsu

  • Whatsapp
Lapangkan Hati Menerima Wejangan Guru, Jangan Dikuasai Nafsu

Lapangkan Hati Menerima Wejangan Guru, Jangan Dikuasai Nafsu.

Waktu itu, aku (Syaikh Ibrahim bin Muhammad as-Syafii) mengikuti pengajian Syaikh Sufyan bin ‘Uyaynah, kebetulan, Imam Syafi’i ikut hadir di dalamnya. Lalu, Syaikh Ibn ‘Uyaynah mengucapkan hadis yang diriwayatkan dari Imam Zuhri, dari Sayyid Ali bin Husain:

“Di sebagian malam. Sungguh! Nabi shallallahu alaihi wasallama berpapasan dengan salah satu lelaki (sahabat Anshar) yang bersama Sayyidah Shafiyyah, istri Rasulullah SAW. Kemudian Nabi bersabda:

‘Kemari! Shafiyyah ini, istriku!’.

‘Subhanallah, Ya, Rasulallah’ jawabnya.

Dan Rasulullah bersabda kembali, ‘Sungguh! Setan bisa berjalan/menyusup di tubuh manusia selayaknya darah!’”.

Lalu, Syaikh Ibnu Uyaynah menoleh ke Imam Syafi’i:

“Menurutmu, Fiqh hadis ini bagaimana, Hei, Aba Abdillah (Panggilan kesayangan Imam Syafi’i)”.

Jawab Imam Syafi’i: “Kalau ada kaum yang berprasangka buruk pada Nabi shallallahu alaihi wasalllama (Seperti prasangka beliau sak karepe dewe nuduh yang bukan-bukan, cemburu tanpa alasan, mudah menyalahkan orang lain tanpa alasan,dll.), mereka bisa kufur. Namun, Nabi shallallahu alaihi wasallama punya tujuan mengajar adab pada generasi setelahnya, lalu bersabda: ‘Jika kalian dalam keadaan begini, lakukan ini’, hingga kalian tidak disangka buruk orang lain, tidak malah nabi yang di buruki sangka! Beliau adalah kepercayaan Allah azza wa jalla di bumiNya!”

“Semoga Allah membalas kebaikanmu,” respon Imam Sufyan bin ‘Uyaynah, “Hei, Aba Abdillah. Aku suka setiap hal yang keluar darimu.” (Adabus-Syafi’i wa manaqibuhu 51 Syamilah)

Ya, Allah! Ingat sekali guru hamba dengan nada dalam berkata, “Hmmm … Murid sak iki, kok gampang gak faham yo, karepe guru (Murid sekarang, kok, mudah tidak peka kehendak guru)”

Batin saya waktu itu, “Gimana faham?! Bilang aja belooomm,”

Seperti tahu hati saya, beliau guru tercinta meneruskan dawuhnya, “Kalau zamanku dulu, kami sekawan, sebelum guru gak enak hati atau sampai murka, pasti meneliti, bertanya-tanya, dan melihat situasi agar guru kami berkenan,”

Dan sekarang, dengan berbunga, ku katakan pada angin: “Njenengan leres, Guru,” 🥰🥰🥰

***

“Kalau Kyaimu memarahimu, diam, dengarkan sampai habis, tangkap dengan hati lapang. Lalu, ketika beliau sudah lega, baru terangkan pembelaanmu,” kata guru saya yang lain.

***

“Jika istrimu, marah, pandang dia dengan rasa sayang. Jawab kalau memungkinkan. Kalau tidak memungkinkan, diam. Kalau diam semakin menjadi, gertak! Kalau kemarahanmu membuatnya semakin menggila, selimuti dengan fatihah, pasrahkan pada Sang pembuat ubun-ubun,” kataku pada diriku 😅

***

Santri yang menyayangi gurunya, tak akan pernah tega membenturkannya dengan guru-gurunya yang lain, lalu mengambil kemanfaatan sesuai nafsunya.

Sebab, apapun yang keluar dari manusia yang dicinta, dan kita masih menyintainya, akan terdengar lunak, enak, penafsiranpun akan lugas dan mengena, jauh dari hasud dan duka, apalagi cuma memenangkan nafsu belaka.

Penulis: Gus Robert Azmi.

*Demikian tentang Lapangkan Hati Menerima Wejangan Guru, Jangan Dikuasai Nafsu, semoga manfaat.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *