Nahdlatul Ulama1

Kyai Kok Berpolitik

Posted on

Ungkapan “kyai kok berpolitik” ini bukanlah hal baru dalam khazanah perpolitikan Indonesia. Kita sering mendengarnya, baik dari orang NU sendiri, maupun dari pihak diluar NU.

Saya mencoba merunut istilah ini ke dalam buku-buku sejarah NU untuk menemukan datanya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pada awalnya istilah “kyai kok berpolitik” ini ungkapan yg disampaikan oleh lawan-lawan politik NU untuk menggembosi dukungan rakyat kepada kyai NU yang terjun berjuang lewat jalur politik. Sebut saja PKI sebagai lawan utama gerakan politik NU. Tetapi dalam perkembanganya, orang orang NU yang tidak menyadari dampak istilah ini ikut ikutan menggunakanya.

Sejarah awalnya, tahun 1942-1945 Jepang membekukan semua Ormas, termasuk NU. Menghadapi situasi ini, perjuangan kyai NU yang tadinya melalui tarbiyah, dakwah dan perang, diubah fokusnya melalui jalur diplomasi politik.

Tahun 1942, KH. A. Wahid Hasyim dan beberapa kyai masuk Chuo Sang-In atau parlemen buatan Jepang. Lewat  Chuo Sang-In ini KH Wahid Hasyim meminta agar NU dan Muhammadiyah diaktifkan kembali. Berkat perjuangan lewat jalur politik ini, bulan September 1943 NU dan Muhammadiyah diaktifkan kembali.

Perjuangan diplomasi lewat jalur politik terus ditingkatkan, pada akhir Oktober 1943 atas prakarsa NU dan Muhammadiyah didirikan wadah perjuangan umat Islam dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi dan KH. M. Hasyim Asy’arie sebagai pimpinan tertingginya. Jadi yang berjuang lewat politik bukan hanya NU tetapi juga Muhammadiyah. Catat gaes, bukan hanya NU.

Tetapi mengapa hanya kyai NU yang dihujat ?

Ini ada kaitanya dengan rivalitas atau persaingan antar kekuatan politik saat itu. Pasca dibubarkanya Masyumi oleh Bung Karno, kekuatan politik utama di Indonesia adalah PNI, NU dan PKI. Kedekatan NU dengan Bung Karno telah membuat iri PKI. Maka seperti yang ditulis dalam sejarah, PKI melakukan upaya penggembosan terhadap NU.

Diantara upaya penggembosan PKI terhadap NU adalah aksi sepihak, penguasaan seni dan budaya oleh Lekra dan hoax politik “kyai kok berpolitik”.

Istilah “kyai kok berpolitik” ini meredup seiring dengan tertumpasnya PKI tahun 1965-1966. Tetapi istilah ini muncul lagi saat terjadi rivalitas antara Golkar dan PPP tahun 1970-an.

Baca Juga >  Hizbut Tahrir Tak Punya Sanad Apapun dengan Al-Azhar Kairo

Kyai kok berpolitik digunakan oleh orang-orang Golkar untuk menggembosi PPP agar warga NU tidak memilih kyai yang mencalonkan sebagai tokoh politik.

Upaya ini terus menggelinding sampai terjadilah keputusan untuk kembali ke khittoh NU pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Dirangkulnya tokoh tokoh NU oleh Suharto mampu mengurangi gejolak warga NU untuk menuntut Pemilu yang jurdil.

Pada Muktamar NU ke 28 di Yogyakarta, terbitlah 9 pedoman politik warga NU. Pedoman ini untuk menjembatani aspirasi warga NU yang pro khitoh dan kontra terhadap khitoh. Pedoman politik ini menegaskan bahwa warga NU boleh ikut politik, dengan tujuan untuk kemaslahatan bangsa.

Bagaimana dengan kalimat ejekan “kyai kok berpolitik” ?

Kalimat ini muncul lagi saat Gus Dur mulai bergerak menguatkan NU. Pak Harto sendiri tidak senang dengan Gus Dur sebagai ketua PBNU, sehingga istilah “kyai kok berpolitik” muncul lagi.

Istilah ini muncul kembali saat KH Hasyim Muzadi menjadi Capres Megawati. Tujuanya untuk menggembosi warga NU yang mendukung pencalonan Pak Hasyim. Pasca pemilu, istilah itu hilang lagi.

Pasca ditunjuknya KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi, istilah itu muncul lagi dengan varian kemasan yang lebih variatif. Di antaranya:

  1. Saya tidak pilih KH Ma’ruf Amin, biarkan beliau menjadi guru umat Islam.
  2. Kasihan KH Ma’ruf Amin, diperalat oleh Jokowi.
  3. Saya mencintai KH Ma’ruf Amin, tidak tega rasanya mencoblos gambarnya.
  4. KH Ma’ruf Amin adalah ulama’ besar, tak pantas menjadi wakil presiden, pantasnya menjadi presiden.
  5. Sudah tua, bau tanah, masih ambisi kekuasaan.
  6. Dan seterusnya, dan masih banyak lagi.

Intinya, ada cara cara yang terus dilakukan untuk mengganggu soliditas dan solidaritas warga NU menjadi kekuatan politik.

Sebab semua tahu, kalau 120 juta warga NU kompak bersatu akan menjadi kekuatan yg sulit dikalahkan.

Oleh: Supriyanto, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Pengurus Cabang  Ikatan Sarjana NU Kabupaten Malang. Penerima Beasiswa Dikti pada Program Doktor Universitas Negeri Malang dan University of Queensland Brisbane Australia