Kondisi Bayi Sungsang, Fatihah Buat Gus Kelik Diijabah Lahir Normal- Gus Kelik, Pemangku Pondok Krapyak
Aku, dan semua santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta, mengenal dan menyebutnya Gus Kelik. KH Rifqi Ali nama lengkap beliau. Salah seorang putera Almaghfurullah KH Ali Maksum.
Di pertengahan tahun 90-an, saat aku menginjakkan kaki di Krapyak, aku mengenalnya sebagai seorang yang ‘aneh’. Namun, lama-kelamaan, aku justru mengenalnya sebagai seorang yang ‘jadzab’ (memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain).
Gus Kelik, bagiku seorang (kyai) yang memang memiliki keunikan, dan tentunya kelebihan. Pernah satu ketika, saat aku melintas di Gang Mawar (komplek pesantren) antara ‘Komplek N’ dan ‘Gedung Putih’, tepatnya di lorong menuju ‘Komplek H’. Aku mendengar musik dangdut yang begitu keras. Ya, suara Evie Tamala. Penyanyi dangdut yang tengah ‘moncer-moncernya’ di era itu.
Aku melihat Gus Kelik tengah bersandar di kursi sembari menaikkan kedua kakinya di atas ‘tape’ yang cukup besar. Di rumah sebelahnya, kediaman Almaghfurullah KH Hasbullah (Pak Bullah, panggilan beliau) tengah berlangsung pengajian. Tentunya di komplek lain pun demikian. Gus Kelik begitu asik mendengarkan musik, tapi, yang sedang mengaji pun tidak merasa terusik.
Juga, pernah satu ketika ada seorang santri (Komplek H) yang mengendarai mobil di waktu jelang maghrib hendak masuk ke komplek. Mobil itu distop dan pengemudinya (santri) disuruh turun oleh Gus Kelik.
“Mobilmu pateni. Tuntun!”
Tak ada yang bisa menolak permintaan Gus Kelik. Santri itu turun, dan mendorong mobilnya beberapa meter masuk ke komplek pondok. Pikirku, aneh saja, dan bahkan ‘geli’ melihat kejadian itu. Tapi, setelah tak ‘angen-angen’, -memang- ada pesan yang tersirat dari peristiwa tersebut.
Kebiasaan lain dari Gus Kelik yang pernah aku jumpai, beliau rutin mendatangi toko-toko kelontong di sekitar Krapyak. Gus Kelik sering meminta kardus yang sudah tidak terpakai.
“Aku jaluk kerduse siji ya!”
Tentunya, para pemilik toko, ataupun toko milik pesantren yang ditunggui santri, merasa sangat senang ‘dirawuhi’ Gus Kelik. Tiada lain, ‘ngalap berkah’.
Pun, Gus Kelik sering meminta uang dalam jumlah kecil kepada santri yang ditemuinya.
“Aku kei limangatus ya, tak nggo tuku mobil!”
Setelah menerima lima ratus rupiah, Gus Kelik tak lupa memberi tanda terima berupa kwitansi yang ditulisnya sendiri.
Dari beberapa peristiwa di atas, aku begitu yakin, banyak pelajaran berharga yang dicontohkan Gus Kelik. Tetap istiqomah dalam belajar (ngaji), belajar untuk saling berbagi, membantu yang lemah, senang bersedekah, dan belajar untuk bisa bersikap jujur. Tentunya masih banyak ‘pesan’ yang dicontohkan Gus Kelik kepada orang-orang sekitar, terutama kepada santri.
Bahkan, salah satu keistimewaan Gus Kelik yang diyakini oleh kebanyakan orang adalah ‘mandi’ mendoakan orang yang tengah hamil. Gus Kelik bisa tahu jenis kelamin bayi, dan juga mustajab doanya saat ada bayi ‘sungsang’ bisa menjadi normal, ataupun dimudahkan saat persalinan.
Saat jelang kelahiran anakku yang ketiga (sungsang), aku ‘bertawasul’ kepada beliau membacakan ‘fatihah’ agar persalinan istriku kelak diberikan kelancaran dan kemudahan. Alhamdulillah, persalinan normal, lancar, dan dimudahkan segala sesuatunya.
Hal yang selalu kuingat dari Gus Kelik adalah kebiasaan beliau saat tengah malam mengendarai sepeda motor sendirian. Karena curiga -dan tentunya kagum kepada beliau-, aku menjadi penasaran pada apa yang dilakukan Gus Kelik setiap malam. Aku membuntutinya dari belakang -tentunya dengan sepeda motor juga-. Aku sungguh kaget. Ternyata Gus Kelik hanya berputar mengitari Pondok Krapyak. Aku sangat yakin, kalau beliau (Gus Kelik, KH Rifqi Ali) adalah salah seorang ‘Pemangku Pondok Krapyak’.
Alfaatihah..
3 Agustus 2016
Semoga artikel Kondisi Bayi Sungsang, Fatihah Buat Gus Kelik Diijabah Lahir Normal ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..
simak artikel terkait di sini
kunjungi juga channel youtube kami di sini
Penulis: Gus Wahyu Salvana, tinggal di Rembang.
Editor: Anas Muslim








