Kisah Sahabat Mua’dz Jadi Imam Shalat Malah Dilaporkan

  • Whatsapp
Kisah Sahabat Mua'dz Jadi Imam Shalat Malah Dilaporkan

Kisah Sahabat Mua’dz Jadi Imam Shalat Malah Dilaporkan.

Para ulama yang ilmunya tinggi biasanya punya sikap yang cukup melegakan dan agama jadi mudah dalam persepektif mereka. Tapi orang awam yang terbatas ilmunya, seringkali terjebak dengan ritual dan aturan yang terkesan kaku.

Kira-kira mirip kebijakan Nabi SAW dalam shalat tahajud vs sahalat lima waktu. Banyak riwayat valid yang memastikan Nabi SAW tahajjudnya sampai bikin kaki jadi bengkak. Rupanya beliau membaca 3 surat paling panjang yaitu Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa, semua dibaca sekaligus cuma dalam satu rakaat.

Sungguh luar biasa kualitas ibadah Beliau. Maka banyak para shahabat yang begitu dengar khabar bahwa Nabi SAW shalatnya amat panjang, langsung ingin praktek.

Lucunya prakteknya bukan sendirian, tapi ‘main paksa’ kepada banyak orang. Meski pastinya mereka tidak sadar telah zhalim ke orang. Salah satunya dialami oleh Mu’adz bin Jabal ra. Waktu itu Mu’adz lagi mengimami shalat Isya’ berjamaah di masjid. Mungkin lagi tinggi suasana ruhiyahnya, maka surat Al-Baqarah itu dibacanya sampai selesai sambil jadi imam.

Wah hebat dan keren sekali dong. Walaupun tidak sampai 3 surat, tapi bisa hafal dan bisa baca surat Al-Baqarah sampai selesai itu sesuatu banget. Itu ekwivalen dengan 2,5 juz lho.

Tapi . . .

Bukan dapat pujian dari Nabi SAW, malah langsung disemprot habis-habisan. Mu’adz dimarahi sampai dituduh oleh Nabi SAW sebagai tukang bikin fitnah.

Lho kok gitu sih Nabi? Masak ada shahabat ingin praktekkan ibadah yang berkualitas kok malah dimarahi? Bukankah Nabi SAW sendiri yang mencontohkan shalat yang jauh lebih lama dan lebih panjang?

Ini ada apa sebenarnya?

Ternyata meski tahajjud Nabi SAW itu panjang dan lama, tapi semua itu Beliau lakukan hanya sendirian. Tidak berjamaah dan tidak pakai acara ngajak-ngajak orang, bahkan Aisyah istrinya pun tidak diajak.

Kadang dibangunkan tapi kalau ogah ya kagak napa juga.

Tidak ada cerita Nabi SAW nyuruh-nyuruh orang tahajjud, apalagi main paksa. Juga tidak pamer update-update status di tengah malam. Sama sekali tidak.

Terus kenapa Muadz cuma baca Al-Baqarah kok dimarahi?

Ternyata waktu itu Mu’adz lagi jadi imam shalat Isya. Ini shalat fardhu dan bukan shalat sunnah. Shalat fardhu itu melibatkan banyak jamaah dan tempatnya di masjid. Kontan semua jamaah pada dongkol dalam hatinya, tapi semua cuma diam.

Bagusnya ada satu jamah yang ambil tindakan terpuji. Ya, dia pastikan bermufaroqoh, lalu lapor kepada Nabi SAW.

Wah ini stori baru lagi nih.

Orang shalat kok dilaporkan? Salahnya apa? Jangan-jangan si pelapor ini orang munafik? Yahudi yang menyusup? Atau mungkin juga dia liberalis, syiah, atau . . . .

Ternyata tidak. Laporan bahwa Mu’adz jadi imam kelamaan itu diterima oleh Nabi. Yang melapor tidak dipersalahkan. Dan tindakannya bermufaroqoh dari shalat jamaah malah dibenarkan dalam syariat.

Padahal itu kan berarti dia membatalkan shalat berjamaah yang wajib lho itu. Tidak ikut shalat jama’ah kan diancam rumahnya mau dibakar oleh Nabi. Lha ini kok malah keluar dari shalat berjamaah?

Terus Mu’adz sebagai imam itu salahnya apa? Kok yang salah justru Mu’adz?

Jelas sekali duduk perkaranya. Kalau untuk diri sendiri, mau ibadah sampai jungkir balik sih terserah saja. Bebas dan fine-fine saja. Sak karep mu Mas, kata orang Jogja. Seterah Luh, kata orang Betawi.

Tapi . . .

Tapi jangan sekali-kali kita mengukur orang lain dengan ukuran standar kita pribadi. Jangan wajibkan apa-apa yang Allah SWT tidak wajibkan. Jangan sok menambah beban padahal Allah SWT tidak bebankan. Dalam barisan shalat Isya’ itu kan ada orang tua, anak-anak, orang sakit, orang yang punya hajat dan lainnya. Jangan baca Al-Baqarah juga lah.

Apakah kamu mau jadi biang fitnah wahai Muadz?

أفتان أنت يا معاذ؟

Sewaktu Nabi SAW tahajjud yang lama banget itu ternyata ada satu shahabat yang ikut makmum. Dia gak marah-marah karena sudah tahu memang lama sekali shalatnya. Dan itu kan atas kerelaan dirinya.

Nah kalau gitu sih tidak apa-apa. Jangan sampai sok mau tahujjud, padahal tidak dipaksa.

Eh, begitu imamnya baca panjang, langsung pulang dan bertaubat.

Kok taubat? Banyak dosa?

Taubat gak mau lagi tahajjud. Hehe

Penulis: Ahmad Sarwat, Direktur Rumah Fiqh Indonesia.

*Demikian Kisah Sahabat Mua’dz Jadi Imam Shalat Malah Dilaporkan, semoga manfaat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Mufaroqoh itu tidak berarti membatalkan sholat…itu keliru besar…tapi niat memisahkan diri dr iman lalu melanjutkan sholatnya sendiri