KH Helmi Hidayat, petugas haji dan dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jika doa-doa Anda belum dikabulkan juga, atau baru satu dua doa dikabulkan, jangan cepat berburuk sangka pada Allah.
Dia adalah Tuhan yang Maha Tahu nasib dan peran terbaik setiap makhluk, terutama peran manusia. Percayalah, sebuah peran terbaik tengah Dia atur buat kita lewat doa-doa yang kita pohonkan. Baca kisah nyata ini baik-baik, bahkan untuk selembar celana dalam pun telah Ia atur baginya sebuah peran yang bermanfaat di muka Bumi ini.
Di hari pertama tinggal di Madinah, saya mencuci sendiri semua baju kotor yang saya pakai selama perjalanan Jakarta – Madinah. Teman saya satu kamar, Arif Rahman, juga melakukan hal yang sama. Jadilah kami menjemur bersama semua pakaian itu di dekat jendela – berbeda dengan hotel-hotel di Mekkah yang menyediakan puluhan mesin cuci dan fasilitas jemuran di atap paling tinggi, hotel-hotel di Madinah hanya menyedikan fasilitas laundry yang sangat mahal tanpa fasilitas cuci dan jemuran.
Ketika semua pakaian telah kering dan diangkat, tiba-tiba kami dikejutkan oleh selembar celana dalam yang teronggok sendirian di lantai berkarpet. Rupanya ia terjatuh saat dijemur. Saya menduga celana dalam itu milik Arif, tapi ketua jurusan Manajemen Dakwah UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu membantah. ‘’Saya tidak merasa punya celana dalam merek itu,’’ kata Arif singkat.
Tapi saya juga merasa tidak punya kolor hitam dengan merek itu – Pierre Cardin!
Saya paham sekarang. Rupanya Arif sama dengan saya. Ketika di Indonesia, kami sama tidak membeli sendiri semua celana dalam yang kami bawa ke negeri Arab ini, termasuk celana dalam bermerek Pierre Cardin itu. Istri kami adalah orang-orang yang berjasa membelikan pakaian buat kami, sampai memilihkan celana dalam segala. Sehari menjelang berangkat ke Jeddah saya malah tidak tahu apa isi koper yang akan saya bawa. Istri sayalah yang mengatur semuanya.
‘’Sudah simpan saja celana dalam itu, saya tidak merasa punya,’’ kata Arif, yang di Madinah ditugaskan sebagai pelaksana pembina ibadah Sektor II. Dialah yang mencatat semua kegiatan ziarah jemaah haji asal Indonesia di sektor ini, mengontrol pelaksanaan salat arbain mereka, sampai membuat dan mencatat jadwal ceramah-ceramah saya sebagai konsultan ibadah haji.
Saya kemudian menuruti saran Arif untuk menyimpan kolor itu sambil bertekad dalam hati tak akan mengenakannya sama sekali. Di kepala saya ada sedikit kecurigaan bahwa kolor ini pernah dipakai Arif. Sebaliknya, kawan saya yang jadi dosen manajemen haji di UIN Bandung ini pun punya sedikit kecurigaan yang sama. Problem dalam hidup saya yang tak kunjung teratasi hingga kini adalah bahwa saya paling ogah pakai kolor bekas orang!
Maka, jadilah di sisa usianya, kolor itu teronggok sendirian berhari-hari di lemari saya, tanpa saya mau menyentuhnya. Arif juga ogah. Kasihan memang. Jika jadi makhluk hidup, mungkin celana dalam itu segera pamit pulang ke tanah air, merasa tak berguna, merasa disingkirkan.
Tapi ternyata itu tak lama. Sebuah skenario dahsyat ternyata telah dirancang Allah untuk celana dalam ini. Kira-kira dua minggu berlalu, seorang lelaki tua tampak duduk sendirian di kursi roda dengan infus terikat di tangan. Rupanya dia adalah salah satu jemaah haji asal Sumatera Barat yang ditinggal sendirian oleh istri dan rekan-rekannya satu kloter ke Mekkah. Ia tak diizinkan berangkat ke kota suci itu karena sakit.
Ketika semua petugas sibuk mengatur keberangkatan jemaah haji ke Mekkah, lelaki berusia sekitar 65 tahun ini diam saja di kursi roda, menahan sakit. Ia mengenakan baju ihram. Tapi, begitu semua jemaah telah berangkat, ia mulai merintih. ‘’Saya harus apa setelah ini,’’ katanya dengan nada memelas, hampir tak terdengar. Saya yang berdiri tak jauh darinya langsung menghampirinya.
Dari tubuhnya yang menggigil saya tahu lelaki tua ini menderita. Saya berjongkok di depannya, saya usap lengannya, dan dia hanya diam pasrah. ‘’Pak, mau gak pakai baju saya di kamar. Jika mau saya antar ke kamar saya,’’ ujar saya ragu, khawatir dia orang semodel dengan saya yang ogah pakai celana dalam bekas. Tak dinyana, dia mengangguk!
Dibantu Andi Syahrul, dokter yang sehari-harinya bertugas di Rumah Sakit Jiwa Sungai Bengkong, Kalimantan Barat, saya mendorong lelaki tua yang gagal berangkat ke Mekkah ini ke kamar saya. Di lift ia terus menggigil kedinginan. Di kamar, dokter Andi membuka pakaian ihram lelaki ini pelan-pelan, sementara saya sibuk mencari pakaian pengganti buatnya. Selama mencari pakai di lemari, saya terus membaca firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 92:
لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىۡءٍ۬ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ۬ (٩٢)
‘’Kalian tak akan pernah menggapai kebaikan (al-birr) sebelum kalian nafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Apa saja yang kalian nafkahkan, sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.’’
Saya sangat bahagia saat terus membaca ayat itu, terasa ada darah yang mengalir cepat dalam tubuh saya. Pertama saya ambil kaos dalam, lalu saya pilih baju kaos terbaik yang sangat saya sukai sebagai baju luar. Setelah itu saya ambil satu-satunya celana panjang training yang saya bawa dari Jakarta untuk olahraga. Nah, begitu hendak memilih celana dalam, saya bingung. Kolor mana yang paling pas buat dia, mengingat semua celana dalam di lemari itu pernah saya pakai.
Ahaaaaa, tiba-tiba saya teringat sang Pierre Cardin hitam yang selama dua minggu lebih tersingkirkan. Di antara semua kolor di lemari itu, dialah yang paling gressss. Sudah pasti kolor ini relatif baru, minimal baru sekali dipakai – entah oleh saya entah oleh Arif, hanya Allah yang tahu.
Karena baru sekali dipakai, inilah kolor terbaik yang saya miliki dan sekarang hendak saya hibahkan kepada lelaki yang tengah menggigil. Dengan perasaan berbunga-bunga, saya serahkan pakaian terbaik yang saya miliki itu kepada dr. Andi untuk dipakaikan kepada jemaah haji yang sakit ini. ‘’Pasien ini punya darah rendah dan sekarang mengalami dehidrasi. Saya harus cepat bawa dia ke klinik kesehatan,’’ kata Andi.
Perlahan dan hati-hati, lelaki tua itu saya dorong menuju ambulans. Di tubuhnya yang menggigil melekat pakaian saya, atas bawah, luar dalam. Begitu ambulans bergerak meninggalkan hotel, saya teringat firman Allah dalam QS Al-An’aam ayat 59:
وَعِندَهُ ۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ۬ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٍ۬ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍ۬ مُّبِينٍ۬ (٥٩)
‘’Pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Tiada SEHELAI DAUN PUN yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak satu bijipun jatuh dalam kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan semuanya tertulis dalam kitab yang nyata.’’
Sekali lagi, jika Anda kini tengah memohon pada Allah dan merasa doa-doa Anda belum dikabulkan, jangan berhenti berbaik sangka pada-Nya. Bahkan untuk selembar kolor yang semula terlihat tersingkirkan di sudut kota suci Madinah pun — mirip daun dan biji dalam ayat Quran tadi — Allah sesungguhnya telah merancang peran hebat dan mulia baginya di muka Bumi. Apalagi untuk Anda!








