Menjelang Pilpres 2004, KH. Salahuddin Wahid menjadi cawapres mendampingi Wiranto.
A: ada kabar baik, kiai. Ini ada calon donatur kampanye tim kita. Mau nyumbang sekian Em.
Gus Sholah: siapa namanya?
A menyebut nama konglomerat hitam.
Gus Sholah: saya nggak mau nerima dana dari dia. Lebih baik saya nggak jadi wakil presiden saja dari pada saya menerima uang darinya.
****
Salah seorang dermawan berlatarbelakang politisi sowan Gus Sholah. Seperti biasa, dia mau menyumbang pesantren Tebuireng. Segepok fulus sudah dikeluarkan. Alih-alih langsung menerima, Gus Sholah malah memanggil bendahara pondok (mungkin yayasan, saya lupa!), dan beberapa pengurus.
“Kang, ini tolong dicatat, donasi dari bapak A untuk pengembangan pondok ya. Silahkan disaksikan semuanya.”
Gus Sholah selalu memisahkan manajemen keuangan pribadi, pondok, dan yayasan. Keren!
***
Pengusaha B yang nyambi jadi politisi menjanjikan datang ke Tebuireng. Beberapa jam sebelum jadwal, dia membatalkan kunjungannya. Sebagai “permohonan maaf” dia mengirimkan ajudannya menggunakan helikopter dan sekaligus membawa sumbangan buat pesantren.
Beberapa gepok uang diserahkan kepada Gus Sholah. Beliau diam, lalu, “Tolong sampaikan salam kepada bos Anda. Kami tidak butuh uangnya. Terimakasih.”
***
KH. Salahuddin al-Ayyubi az-Zahid.
Penulis: Gus Rijal Mumazziq Z, rektor INAIFAS Jember.








