SI PAPAH DIJEMPUT GUS DUR.
Rumah Matraman.
Begitu kami biasa menyebut rumah Eyang Putri kami, Bu Nyai Solehah Wahid Hasyim di bilangan Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat.
Rumah penuh kenangan dari jaman Gus Dur kecil, sampai kami besar semua. Kini rumah tersebut menjadi Wahid Institut.
“Di rumah itu, kucing saja bicara politik!” Begitu kata mendiang Gus Dur, krn saking seringnya topik politik dibicarakan disitu.
Topik lain? Pasti ketawa ketiwi antara jelas dan nggak jelas.
Keluarga kami memang hobi banget guyonan. Khas NU banget lah.
Mungkin karena kangen Gus Sholah itulah, beberapa hari sebelum Gus Sholah wafat, Beliau-beliau itu ‘hadir’ di rumah sakit.
“Saya melihat beberapa orang datang kesini. Bukan mimpi, tapi juga nggak nyata,” begitu kata si Papah pada kami anak-anaknya.
Siapa saja yang datang? Tanya kami.
“Ada Pak Dur, ada Eyang Putri…ada Pak Puh Hamid.” begitu kata Papah.
Dan kami pun langsung lemas mendengarnya…semua yang hadir sudah pada tiada semua.
Memang sebagaimana kami faham, salah satu ‘pertanda’ kematian, adalah para almarhum sudah ‘datang’ menjemput.
Sejak mendengar kisah mimpi si Papah itu, kami memang menjadi lebih ikhlas menerima apapun yang akan terjadi.
Benar kiranya. Pak Dur datang menjemput.
Bisa jadi Beliau-Beliau pada kangen ketawa ketiwi di sana…
Kalau kata Firry, mungkin Gus Dur bilang gini ke Papah, “Los, cepetan ikut kite. Ditunggu Ibu dan Mbak Is tuh…” 😥😥.
Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fuanhum…
22 Feruari 2020.
Penulis: Gus Ipang Wahid, putra Gus Sholah.








