Kiai Wahab Chasbullah Akui Kewalian Mbah Manab Lirboyo

Kiai Wahab Chasbullah Akui Kewalian Mbah Manab Lirboyo

Ini kisah tentang Kiai Wahab Chasbullah Akui Kewalian Mbah Manab Lirboyo.

“Kamu jangan sembrono sebab Yai Manab mengetahui kamu dimana saja dan kapan saja. Jika Mbah Yai Manab masih hidup, beliau hanya tahu kalau ketemu sama kamu, kalau tidak ketemu beliau tidak tahu. Namun sekarang, beliau terus mengetahui.”

Begitulah pesan yang disampaikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras Jombang yang saat itu menjadi Rais Aam PBNU saat hormat wafatnya Simbah KH. Abdul Karim tahun 1954 M. Ini bukti pengakuan Kiai Wahab akan kewalian yang dimiliki Mbah Manab Lirboyo.

21 Ramadan saat itu memang kelabu. Tepat tanggal 21 Ramadlan di tahun 1954 M itu, Jawa Timur kehilangan 2 sosok sekaligus yang menjadi rujukan para pencari ilmu dan beliau-beliau adalah sosok ulama’ yang menjadi pakune tanah Jawa di zamannya.

2 sosok itu adalah Almaghfurlah Simbah KH. Zainuddin Bin Mu’min, Pengasuh Pondok Pesantren Mojosari Loceret Nganjuk ke 7 dan Almaghfurlah Simbah KH. Abdul Karim bin Abdurrohim, Pendiri sekaligus Pengasuh pertama Pondok Pesantren Lirboyo Mojoroto Kota Kediri.

Beliau-beliau wafat di hari yang sama tanggal 21 Ramadlan tahun 1954 Masehi. Wafat 2 Auliya’illah ini hampir bersamaan. Mbah Yai Zainuddin Wafat 21 Ramadlan dini hari dan Mbah Yai Manab wafat 21 Ramadlan siang hari dalam usia 98 tahun.

Mbah Yai Zainuddin dan Mbah Yai Manab adalah sosok kiai yang benar-benar ngopeni santri. Tangan beliau berdua tiap hari tidak lepas dari kitab. Maka dari didikan beliau-beliau lah lahir kiai-kiai besar yang santrinya menyebar keseluruh pelosok Nusantara. Semoga kita mendapatkan barokah beliau-beliau. Aamiin.

Dirindukan Paman Rasulullah SAW.

KH. Najib Zamzami, Pengasuh Pondok Mayan Mojo Kediri pernah bercerita bahwa abahnya ketika haji berkesempatan nderekne Simbah KH. Manab Abdul Karim di haji keduanya.

Pada saat di Madinah, karena usia yang sudah sepuh (± 96 tahun) dan fisik yang lemah karena sakit-sakitan, Mbah Manab mencukupkan diri hanya ke Masjid Nabawy untuk Sholat berjamaah dan ziarah Nabi SAW.

Suatu saat, tidak seperti biasanya setelah jamaah shubuh Mbah Manab mengajak Abahnya Kiai Najib untuk bepergian ke gunung Uhud. Kebetulan begitu keluar masjid langsung ada kendaraan yang bisa mengantar ke tujuan.

Di tengah perjalanan Mbah Manab dawuh: “Saya tadi malam bermimpi bertemu Sayyidina Hamzah dan beliau berkata: “Masak yang kamu kunjungi hanya keponakanku sementara aku tidak?”

Itulah sosok Mbah Manab Lirboyo. Kealiman dan kewaliannya sangat masyhur, sehingga Kiai Wahab Chasbullah Akui Kewalian Mbah Manab Lirboyo.

Kearifan Kiai Mengatasai Santri Nakal

Di Pesantren Lirboyo pernah ada salah seorang santri yang suka keluar malam, tetapi tidak pernah ketahuan pengurus. Anehnya, justru KH. Abdul Karim mengetahuinya. Lantas beliau menulis pada secarik kertas dengan tangannya sendiri.

“Kula mboten remen santri ingkang remen miyos.” (Saya tidak menyukai santri yang suka keluar).

Tulisan tersebut kemudian beliau tempelkan di bawah bedug.

Secara kebetulan, santri yang biasa keluar pondok tanpa izin itu ternyata pada malam harinya memilih tidur di bawah bedug. Betapa kagetnya santri itu, ketika membaca sebuah tulisan persis di depan matanya. Dia sangat mengenali tulisan itu, yang menulisnya adalah Mbah Kiai Abdul Karim. Yang selama ini dianggapnya tidak mengetahui kelakuannya selama ini.

Setelah peristiwa menakjubkan pada malam itu, santri itu insyaf. Dia tidak lagi keluar pondok pada malam hari.

Kita mungkin tidak sanggup meniru persis. Tetapi kita bisa meneladani kebijaksanaan dan kearifan beliau. Murid atau anak yang nakal, mendidiknya tidak dilakukan dengan kekerasan dan pemaksaan.

Demikian keteladanan Mbah Karim dan kisah Kiai Wahab Chasbullah Akui Kewalian Mbah Manab Lirboyo.

Penulis: Mohammad Heri Siswanto, santri Lirboyo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *