Kiai Musta’in Syafi’i, Kyai Mufassir yang Humoris dari Tebuireng

kiai musta'in syafi'i

Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag, al-Hafidz, lebih akrab disapa Pak Tain , kyai mufassir made in Tebuireng. Beliau adalah kakaknya Pak Mukhtar “masyaallah” ustadz yang paling akrab dengan teman-teman santri.

Pak Tain berasal dari kota yang katanya berasal dari kata arab “Lam’an” yang berarti lentera, biasa lidah Jawa susah menyebut ‘ain, maka masyarakat pesisir pantai tersebut memberi nama “Lamongan” (LA).

Beliau bertetanggaan dengan asrama kami yakni komplek SP Laskar hizbullah, yang letaknya tidak jauh dengan makam Mbah Hasyim/Gus Dur. Alhamdulillah, selain berkah ilmu beliau, kamipun sering menikmati keberkahan pohon jambu klutuknya.

Teringat dulu pernah ngaji dengan beliau kitab Tafsir Ayatul Ahkam saat di MAK dan kitab at-Tadzhib dan Mukhtarul Ahaadits di MQ Tebuireng saat pengajian Ramadhan.

Ketika Pak Tain menjadi imam shalat, bacaan Qur’annya mempunyai ciri yang sangat khas, saat shalat shubuh beliau sering baca surat al-Infithor, terutama nada bacaan beliau pada ayat ke-6 :

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

Dan pada saat Pak Tain menjadi Khotib Jum’at, setelah mengambil tongkat dari bilal, biasanya beliau langsung mengambil al-Qur’an yang ada di sekitar mimbar sambil mengebet lembaran-lembaran ayat sekenanya, membaca dan menafsiri ayat dibacanya. Isi Qur’an seakan atau sudah “melotok” dalam dirinya.

Ketika Pak Tain mengajar di sekolah, kadang beliau naruh kopiah di atas meja santri, kemudian menyisir rambut dengan jari tangannya dan mengaku diri beliau seperti aktor mandarin “Andi Law”, dan ketika menyebut kata “La Yajuuzu”, para santri biasanya langsung ramai, karena ada hubungannya dengan putri beliau.

Pak Tain juga sering membahas isim tashgir, contohnya juga putri beliau: zahrotun = zuhairoh, Haniifun = Hunaifa.

Satu nasehat yang tak terlupakan, “ikatan batin antara guru dengan muridnya itu sangat kuat, makanya disarankan untuk saling mendo’akan, minimal kirim surat al-Fatihah setiap habis shalat.”

بارك الله لنا بعلومه و متع ﷲ طول حياته, بسرّ الفاتحة…

Penulis: Muhammad Dahlan, alumni Pesantren MQ Tebuireng Jombang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *