Kiai Ali Maksum Waliyullah

Kiai Munawir AF Kisahkan Peran KH Ali Maksum dalam Muktamar Situbondo

Posted on

Kisah KH Ali Maksum selalu menjadi pembicaraan utama ketika KH Munawir AF memanggil kru Majalah Bangkit.  Pak Awing, panggilan akrabnya, sering mengajak anak-anak muda yang bergiat di Majalah Bangkit untuk berdiskusi sekaligus beliau mengisahkan berbagai hal tentang NU, Krapyak, dan tentu saja sang guru tercinta Mbah Ali Maksum.

Para kru Bangkit sangat sadar bahwa Pak Awing sebenarnya sedang mengajarkan banyak hal.

Pak Awing termasuk santri Kiai Ali yang rajin menulis. Karyanya banyak sekali, para santri Krapyak tak pernah melupakan sosoknya. Melihat kru Majalah Bangkit yang masih belajar dalam menulis, Pak Awing tak pernah bosan mengajari anak-anak muda yang masih belajar konsisten dalam menulis.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Menyambut Haul ke-30 KH Ali Maksum saat ini, kisah-kisah Pak Awing sangat relevan untuk dikabarkan kepada publik. Tahun 1984, sewaktu hendak berangkat menuju Muktamar Situbondo tahun 1984, Kiai Ali Maksum menjanjikan sejumlah uang kepada santrinya bernama Fadholi muda, kalau nanti tidak lagi terpilih menjadi Rais Aam di Situbondo.

Dalam arena Muktamar, Kiai Ali adalah Rais Aam yang memang akan dipilih lagi oleh para kiai sepuh. Karena Kiai Ali terbukti mampu membawa NU menjaga keseimbangan dalam diri NU, disamping kapasitas keilmuan yang sudah diakui publik. Saat itu, akhirnya disepakati Ahlul halli wal aqdi (AHWA), Kiai Ali ada di dalamnya bersama Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Masykur.

Dalam AHWA ini, Kiai Ali tidak bersedia melanjutkan kepemimpinannya sebagai Rais Aam. Kiai Ali malah mengharapkan NU dipimpin yang lebih muda, sehingga regenerasi di tubuh NU berjalan dengan baik. Akhirnya, terpilih KH Ahmad Siddiq sebagai Rais Aam dan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum.

Baca Juga >  Ajarkanlah Alif, Ba’, Ta’ Kepada Anak-anakmu

Seusai Muktamar, Kiai Ali kembali ke pesantren, fokus mengaji dengan para santri dan masyarakat. Kiai Ali fokus membangun generasi NU yang kelak siap memimpin NU dan bangsa di masa depan. Tidak lupa, Kiai Ali memenuhi janjinya memberikan sejumlah uang kepada santrinya bernama Fadholi. Sekali lagi, Kiai Ali malah memberikan sejumlah uang kepada santrinya ketika tidak terpilih lagi menjadi Rais Aam.

Kisah ketidaksediaan Kiai Ali akhirnya ditiru santrinya bernama KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), walaupun sudah ditetapkan AHWA sebagai Rais Aam dalam Muktamar Jombang tahun 2015, tetap saja Gus Mus menolaknya. Inilah akhlak yang dimiliki Kiai NU, sangat tepat menjadi pembelajaran bagi bangsa dan negara dalam berbagai agenda demokrasi saat ini.

Pilpres dan Pilkada di Indonesia harus belajar kepada NU, karena demokrasi tanpa nilai-nilai kearifan, maka akan melahirkan pemimpin yang merusak dan menghancurkan demokrasi itu sendiri.

Akhlak para kiai NU menjadi referensi yang sangat tepat untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia.

(Muhammadun, bergiat di Majalah Bangkit)