Mengenal KH Mufid Mas'ud, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta

Kiai Mufid Keturunan ke-12 Sunan Pandanaran, Ini Nasabnya!

Posted on

KH. Mufid Mas’ud adalah ulama yang lahir dari keluarga ulama juga. Beliau lahir pada 26 Januari 1927 di Dusun Sundakan, Surakarta. Kelahirannya menyambut 1 tahun NU berdiri, yakni 31 Januari 1926. Maka, tidaklah heran jika di jejak-jejak hidupnya kelak, darah ulama mengalir begitu deras di sanubari Kiai Mufid yang menjadikan ia cinta kepada ulama, NU, dan NKRI.

Kiai Mufid merupakan putra ketiga dari pasangan H. Ali Mas’ud dan Hj. Syahidah. Keenam saudara lainnya yakni Mahfudz Harsono, Mufarrohah, Abdul Ghoni, Qomariyah, Ahmad Mubadi, dan Mahmudah. Saat masih dalam timangan ibunya, beliau dibawa hijrah ke dusun Tembayat, Klaten, dan menghabiskan masa kecilnya disana.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Silsilah lengkap nasab beliau adalah Mufid Mas’ud bin Ali Mas’ud bin Abdul Muthalib Muhammad Idhar bin Pangeran Mindel II bin Pangeran Banggolo bin Pangeran Kuba bin Pangeran Mindel I bin Pangeran Masjid Wetan II bin Pangeran Masjid Wetan I bin Pangeran Minang Kabo bin Panembahan Jiwa I bin Sunan Pandanaran (Sunan Tembayat).

silsilah mbah mufid

Jika melihat silsilah tersebut, nasab KH. Mufid Mas’ud merupakan keturunan ulama besar, yakni Sunan Pandanaran. Berdasarkan berbagai versi cerita rakyat, Sunan Pandanaran memiliki berbagai nama yakni Sunan Bayat, Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Wahyu Widayat. Beliau adalah tokoh penyebar agama Islam di Jawa.

Baca Juga >  Mbah Ma’shum Lasem dan Karomahnya

Riwayat hidupnya terkait dengan sejarah Kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Sanga. Makamnya terletak di perbukitan Gunung Jabalkat di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Tokoh ini hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16).

Karena lahir dari keluarga religius inilah, kelak membentuk watak dan kepribadiaan KH. Mufid Mas’ud menjadi pribadi yang agamis, senang menuntut ilmu agama, cinta Al-Qur’an, cinta pesantren, dan gemar berdakwah menyebarkan ajaran Islam. Tempaan keluarga yang kokoh akan ilmu agama, menjadikan Kiai Mufid pribadi yang berkarakter. (An)

*) Sumber data : Majalah Suara Pandanaran