kiai maimoen dan kh mustofa aqil

Kiai Maimoen dan Kiai Mustofa Aqil: Yakin “Kabeh Wis Ono Sing Ngatur”

Posted on

Beberapa kali, Mbah Kung (KH Maimoen Zubair-red) mengalami sakit parah karena sudah sepuh yang mengharuskan Mbah beristirahat dan tidak beraktivitas berat atau aktivitas yang terlalu lama. Mbah Kung yang terbiasa “tindak’an” berontak. Meyakinkan santri ndalem dan keluarga Mbah bahwa Ia baik-baik saja.

Oleh keluarga, Ia “dipaksa” tidak boleh “tindak” atau sekadar menemui tamu. Entah mengapa, Ia tetap memaksa untuk “tindak” dan menerima tamu seperti saat sehatnya. Kami sebagai keluarga tidak kuasa mencegah keinginannya. Hanya saja, saat sedang dalam kondisi kurang sehat, keluarga dan dokter harus ada di ruang ‘ndalem’.

Sebab, sering kali, tamu ada yang bandel dan tidak peduli dengan kondisi kesehatan Mbah, dengan alasan; “saya dalam kondisi terdesak, sehingga saya harus bertemu dengan Mbah untuk menyelesaikan masalah yang saya hadapi ini dengan doanya.”

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Bapak (KH Mustofa Aqil-red) juga hampir sama “bandel”nya dengan kondisi kesehatan dirinya sendiri. Sore hari, baru tiba dari umroh tanggal 11 Juni 2019, malamnya memaksakan diri untuk “tindak” dalam rangka menghormati undangan pengajian. Kami sebagai keluarga pun, hanya bisa berdoa untuk kesehatannya. Besoknya Ia harus ke Tegal untuk menghadiri dua acara dan malamnya satu acara pengajian.

Tamu-tamu yang berdatangan di ndalem Mbah dan Bapak tidak pernah putus, dari pagi hingga malam hari. Saya beberapa kali mengalami momen ketika kurang sehat, tapi di saat sakit itu, saya ingin bertemu orang, srawung. Entah mengapa sakit yang dirasa sedikit hilang, meski tidak total tentunya.

Baca Juga >  Mengenal Sosok KH Zuhri Zaini Paiton Probolinggo

Saya yakin bahwa maqom “bertemu orang”nya Mbah dan Bapak sudah bukan maqom manusia biasa. Sebab, mereka berdua sudah “tidak butuh manusia”, sudah tidak ada unsur berkebutuhan terhadap makhluq. Manusia lah yang membutuhkan barokah mereka berdua, sehingga kesehatan yang saya kira unsurnya duniawi, mereka sedikit tidak memedulikannya. Keyakinan mereka berdua terhadap “kabeh wis ono sing ngatur” melebihi kapasitas manusia biasa.

Mungkin bagi mereka berdua; Kesehatan “iman” ummat jauh lebih penting daripada kesehatan badan mereka berdua.

Semoga tetap sehat dan dipanjangkan umurnya.

Penulis: Muhammad Shidqi, cucu Kiai Maimoen Zubair.

(KH Mustofa Aqil Siraj, Pengasuh Pesantren KHAS Kempek Cirebon, adalah menantu dari KH Maimoen Zubair-red)