Kiai Idris Jamseran dan Kisah Madrasah Mamba’ul ‘Ulum Surakarta

Posted on

Madrasah Mamba’ul ‘Ulum Surakarta, resmi berdiri pada tahun 1905, atau disingkat MU05.

Berikut saya kutip dari skripsi sepupu saya. Waktu mau menulis skripsi dan sempat agak bingung tentang apa, ya secara spontan saja saya berikan ide menulis tentang MU05, almamater para leluhur. Sepupu saya adalah cicit dari Kiai Dimyati Condrowiyata (wakil kepala MU05 pagi dan Kepala Sekolah MU05 sore):

“Pada mulanya Mamba’ul ‘Ulum bertempat di Masjid Agung bagian Pawestren, yaitu suatu ruangan besar yang disediakan untuk kaum wanita. Asrama siswa didirikan di Pondok Jamsaren dan Pondok Prasaja. Dengan bertambahnya murid maka Pemerintah Kasunanan membangun gedung yang sangat megah di selatan Masjid Agung. Mamba’ul ‘Ulum diresmikan berdirinya pada hari Ahad tanggal 20 Jumadil Awal Tahun Alip 1835 (tahun Jawa) atau 23 Juli 1905. Pembangunan gedung madrasah tersebut selesai pada 20 Februari 1915 atau 11 Rabiul Akhir Tahun Jimawal 1845.”

Pada tahun-tahun tersebut, sudah ada beberapa pondok tradisional di Solo. Tetapi madrasah, dalam artian sekolah modern yang membagi peserta didik ke dalam kelas berdasar usia, yang ada kurikulum, ujian, dan ijazah, ya belum ada.

MU05 adalah yang pertama di Jawa, bahkan mungkin di Indonesia.

Ada beberapa ulama (untuk keperluan status ini tidak perlu saya tulis namanya) yang menentang dengan argumen: “Masak kita orang Islam, bikin sekolah ikut-ikutan cara orang Belanda.” Kalau pakai bahasa sekarang, “masak kita ikut-ikutan orang kafir?”

Tetapi begitulah. MU05 tetap berdiri, dengan kepala sekolah pertama Kiai Bagus Ngarpah. Pada tahun yang sama, beliau menyelesaikan Kur’an Jawi, Quran terjemah pertama lengkap 30 Juz ke dalam Bahasa Jawa. Namun, terjadi polemik karena bahkan di kalangan ulama ini berdebat bukan hanya apakah Madrasah yang dikelola ala sekolah Belanda itu boleh, juga perdebatan apakah Quran itu boleh diterjemahkan.

Hal ini juga disinggung R.A. Kartini di surat-suratnya. Artinya, pada saat itu mau di Solo, Jepara, dll, sangat progresif kalau Quran diterjemahkan. Tentu bukan sebuah kebetulan bahwa orang pertama yang menterjemahkan lengkap (karena kalau sebagian, Kiai Soleh Darat juga sudah melakukan), adalah juga Kepala Sekolah pertama sebuah sekolah modern. Meskipun, akhirnya Pakubuwana X mengambil jalan tengah di tengah polemik. Kedudukan Kiai Bagus Ngarpah di MU05 digantikan oleh Kiai Idris Jamsaren, sampai meninggalnya beliau 1923.

Baca Juga >  Sayyid Jamaluddin al-Akbar dan Sejarah Masuknya Islam di Sulawesi Selatan (1)

Kiai Idris pada masa itu yang kebetulan juga mursyid Syadzili, kalau di zaman modern mungkin seperti Syaikhona Mbah Maimoen atau Maulana Habib Luthfi, yang lagi-lagi kebetulan juga Syadzili. Mau apapun warna/ pilihan politiknya, konservatif atau progresif, orang tetap menghormati. Dengan Kiai Idris sebagai kepala sekolah MU05, tidak ada lagi yang berani ribut.

Alumni Jamsaren/ MU05 para legenda yang mewarisi keprogresifan almamaternya. Yang terbaru tentu saja Kiai Masjkur dan Kiai Kahar Muzakir yang diangkat sebagai pahlwan nasional bulan November kemarin. Nanti lain kali saya posting foto gaya busana murid MU05 dan guru-gurunya.

Foto tua ini kira-kira tahun 1960/ 1970-an di depan Pondok Jamsaren yang menjadi cikal bakal UII, yang ikut dirintis Kiai Ali Darokah Jamsaren. Jika Kiai Ali Darokah menginisiasi UII, alumni MU05 dan Jamsaren lainnya, KHR Muhammad Adnan, adalah perintis UIN Yogyakarta sekaligus rektor pertama.

Kiai Ali Darokah adalah cucu Kiai Idris, sedangkan Kiai Adnan adalah putera KRP Tafsiranom V (padanan untuk menteri agama). Perhatikan, ada mahasiswa perempuan di situ. Dari busana di foto, mahasiswa universitas (bukan dalam kapasitas santri Jamsaren), sudah pakai celana panjang. Sedangkan mahasiswa perempuan, ala ibu-ibu NU atau Muhammadiyah di masa-masa itu.

Gedung sekolah MU05 juga saya lampirkan, dengan pintu-pintu dan jendela tinggi, yang sekarang menjadi MAN 2 Suarakarta Boarding School untuk perempuan.

Penulis: Sidrotun Naim.