pondok jamseran solo

100 Tahun Kiai Idris Jamsaren dan Kisah Sumur yang Tak Surut

Posted on

Tepat pada 100 tahun wafat Kiai Idris (23 Jumadilawwal 1341 – 23 Jumadilawwal 1441) , kami mendapat keberkahan. Pada hari yang sama, Elhurr (akhirnya) membubuhkan cap 3 jari di ijazah dan syahadah SMP Al Islam 1 Surakarta.

Bersama dzuriyat, keluarga besar dan pengurus pondok, kami melakukan “manaqiban”. Menyebut-nyebut kebaikan Kiai Idris dan para penerus (Kiai Abu ‘Amar, Kiai Ali Darokah, dan para pengurus) yang ikhlas mendermakan waktu, pikiran, tenaga untuk mengurus pondok.

Manaqiban yang pertama disampaikan oleh canggah Kiai Idris, sekaligus lurah pondok, Pak Muqorrobin. Beliau yang menjadi santri Jamsaren pada masa Kiai Ali Darokah, dan terus memposisikan sebagai santri beliau sejak 1986 sampai wafatnya Kiai Ali Darokah tahun 1997.

“Tidak pernah saya lihat Kiai Ali Darokah marah. Beliau kalau menjadi imam, bacaan basmallah dalam alfatihah di-jahr-kan (dikeraskan). Karena itu kalau saya menjadi imam solat di Jamsaren, saya teruskan bagaimana cara beliau (sebagai penghormatan kepada Kiai saya). Kalau menjadi imam di Nirbitan, saya sirr-kan (tidak keraskan bacaan basmallah) karena mengikuti Kiai-Kiai di Nirbitan. Masing-masing yang dijahr atau disirr, ada dalilnya. Kiai Ali Darokah bilang bahwa Jamsaren untuk semua. Beliau pernah diminta menjadi ikon satu organisasi besar, setelah beliau pertimbangkan, beliau menolak. Nanti dikira Jamsaren condong ke salah satu (dan tidak lagi mewadahi semua).”

Lurah pondok melanjutkan lagi: “Memang, kami pernah undang berbicara, sebagai khazanah, pimpinan Ngruki, petinggi FPI, kiai NU, Kiai Muhammadiyah, begitu juga Habib Syekh. Ini semua bukti bahwa bendera Jamsaren adalah Islam. Titik.”

Manaqib kedua giliran Elhurr, berdasar pengalamannya sendiri sebagai santri Jamsaren 3 tahun. Sebagai orang tuanya, kami tak tahu harus bagaimana berterima kasih ke Jamsaren. Dalam manaqiban yang disusunnya secara spontan, intinya dia menekankan tentang Prasangka Baik kepada Allah. Cita-citanya sejak kecil menjadi hafidz. Di Jamsaren hafalannya tidak bertambah, diperkuat saja. Tapi dia bisa fokus di akademik yang menjadi tanggung-jawab sekolah. Juga berteman dengan macam-macam teman. Kalau pakai bahasa sekarang, Elhurr ingin mengatakan bahwa di Al Islam sisi akademiknya terpacu, di Jamsaren dia mendapat life skills yang tidak didapatkan di tempat lain.

Zaman Kiai Idris, tidak banyak santri yang sekolah. Sekarang, dengan model hibrid antara pondok Jamsaren sedangkan sekolah akademik bisa dimana saja, secara defacto santri lebih lama di sekolah, apalagi seperti Elhurr yang fullday. Jam 5 sore praktis baru di pondok. Tentu menjadi tidak adil kalau berharap pondok memberikan pelajaran kitab besar seperti di masa lalu. Pondok-pondok yang sekaligus menyediakan sekolah akademik dan kurikulum benar-benar terintegrasi, tentu tidak mengalami tantangan seperti Jamsaren.

Hal baru paling mengejutkan bagi saya, ketika Elhurr cerita bahwa sekarang gilirannya fokus di tahfidz. Seolah-olah Elhurr ingin mengatakan, tidak ada waktu yang terbuang. Semua ada dalam skenario-Nya. Seolah-olah Elhurr ingin mengatakan, Perencanaan-Nya yang terbaik. Kapan saatnya belajar lifeskills. Kapan akademik. Kapan tahfidz. Boleh jadi kalau paralel, tidak cocok untuknya dan maknanya menjadi kurang. Untuk itu semua, Elhurr bersyukur dan bangga menjadi bagian Jamsaren dan akan menjaga nama baiknya.

Saya juga menambahkan manaqiban berdasarkan penelusuran sederhana yang saya lakukan independen 3 tahun terakhir. Inti manaqiban saya, tentang tempat yang mbarokahi. Tempat lain boleh mentereng, boleh terlihat unggul, dll. Tapi, tidak ada tempat seperti Jamsaren. Bukan hanya Kiai Idris dan para penerus, ribuan salihin dan para alim pernah menapakkan kaki disini. Berkah yang terkait kepada tempat, tidak dapat digeser lokusnya. Sebagian dari kita boleh gemes bagaimana jejak-jejak fisik kelahiran, hidup, dan perjuangan Nabi, seperti tidak dianggap penting oleh Pelayan Haramain. Tapi, itu sama sekali tidak mengurangi ke-Haram-an Mekkah dan Madinah. Begitu juga Jamsaren. Keberkahan tempat.

Sebagai sebuah pondok, sebagaimana organisasi lain, wajar Jamsaren mengalami jatuh bangun. Tapi bertahan 270 tahun dalam gilasan waktu, 270 adalah sebuah fenomenal. Ragam pendidikan formal yang dikelola Yayasan Pondok Jamsaren semakin banyak dan semakin maju, sejak PAUD s.d Universitas, di tengah PR besar untuk pendidikan nonformal alias pondoknya. Saya tekankan juga, tentu ada hal yang tidak sama antara Jamsaren masa Kiai Idris dengan sekarang. Itu wajar-wajar saja. Tapi nilai-nilai terpenting, diestafetkan dari Kiai Idris (beliau seorang progresif, wafat sebelum NU lahir), ke Kiai Abu Amar (ikut mendirikan NU Solo), ke Kiai Ali Darokah (mengayomi semua, menginisiasi banyak sekolah) dan ke Pengurus sekarang. Seperti yang digambarkan Pak Muqorrobin. Nilai emas yang dijaga.

Baca Juga >  Pesantren Mahasiswa Al-Ashfa, Yogya: Idul Fitri, Momentum Menjadi Lebih Baik

Layaknya sebuah gamelan, ada gong penutup dan kadang tak diperkirakan. Kami foto dulu bersama pengurus yang juga meneruskan tradisi sejak zaman Kiai Idris bahwa pengurus tidak mencari penghidupan/ pendapatan di pondok, selalu ada profesi lain. Pengurus-pengurus yang tawadhu’. Mereka bukan tidak punya kesibukan, tetapi memang para pejuang yang tanpa perjuangan itu, pondok akan menghadapi masalah. Tidak sedikit pondok yang berhenti setelah Kiai wafat.

Menjelang Maghrib, kami sowan ke Nyai Ali Darokah yang menempati ndalem Kiai. Lokasi yang sama yang ditempati Kiai Idris. “Silahkan diminum teh-nya. Airnya dari sumur yang sama sejak zaman Kiai Idris, tidak surut. Dulu ada dua lagi sumur timba di depan, tetapi yang dua itu sekarang sudah ditutup. Tinggal ini sumur satu-satunya yang dipertahankan.” Inilah gong penutup. Kami menganggapnya sebagai keberkahan. Bukan sekali itu saya minum di kediaman Nyai Ali Darokah yang memasuki usia 94 tahun. Tapi baru hari ini diceritakan bahwa airnya dari sumur yang sama dengan sumber mata air sejak zaman Kiai Idris. Secara spontan untuk momen langka seperti itu, saya memintakan doa. Kepada Elhurr dibacakan AlFaatihah dan doa birrul walidayn. Ihdinash shirathal mustaqim yang dikuatkan.

Siang harinya, lewat pembicaraan random dengan cucu Kiai Ghozali yang juga guru Elhurr di Al Islam: “Keturunan Kiai Syatibi ada di Tempursari.” Dalam hati saya, “Whaaat? Dengan telaten kutelusur dzuriyat Kiai Idris sampai dengan generasi cicit yang masih hidup. Secara paralel, aku telusur saudara dari Mbah Buyut yang 4 orang. Yang 2 dari dulu sudah kenal. Yang 2 misterius. Beberapa bulan yang lalu, salah satu ketemu di Purwokerto. Beliau pun merinding bahwa akhirnya bisa ketemu cicit dari Pakdhenya yang misterius. Simbah Purwokerto ini misterius untuk kami, dan kami misterius untuk beliau. Hampir 90 tahun.(1933-2020) Mbah Buyut wafat, baru sekarang keluarga tersambung. Dan hari ini, ketika misteri terakhir terkuak, dalam hati saya bergumam, “Kalau sudah takdir. Berbulan-bulan dicari nihil. Lewat pembicaraan random, ketemu puzzle terakhir. Memang harus nelusur Kiai Idris dulu, dan urusan lain selesai secara ajaib.

Malam-malam ba’da Isya kami ziarah ke orang tua kami dulu, para leluhur, kemudian ke Kiai Idris, Kiai Abu Amar, dan Kiai Ali Darokah. Kami sudah siap-siap beranjak, tapi saya tahan: “Jamsaren dan Al-Islam itu dekat, secara lokasi dan pergerakan. Ayuk ziarah sekalian ke keluarga Kiai Ghozali. Apalagi untuk Elhurr dan Mas Dian yang alumni Al-Islam.” Keduanya khusyu’ berdoa di pusara Kiai Ghozali.

Kepada para pejuang dakwah dan pendidikan, AlFaatihah. Jasa Jamsaren dan Al Islam kepada Elhurr, kepada para leluhur kami, hanya Allah yang dapat Membalas.

Foto 360 derajat oleh Pak Suntoro dari Pondok Jamsaren. Foto Elhurr dan bapaknya, artinya pulang dijemput. Karena waktu pertama memulai di pondok 2016, bapaknya tidak menemani. Hanya bersama saya. Bisa Anda duga, artinya kami beda pendapat saat itu. Tapi saya percaya, perjalanan terbaik adalah yang menuntun pulang ke rumah (kampung halaman). Kampung halaman saya membentuk identitas saya, dan artinya juga identitas Elhurr.

Penulis: Sidrotun Naim.