Kiai Hamid Pasuruan

Kiai Hamid Pasuruan Ungkap Kewalian Kiai Qusyairi dan Habib Sholeh Jember

Posted on

KH Ahmad Qusyairi Banyuwangi dan Habib Sholeh Jember. Selama hidup, mereka berdua adalah sahabat karib karena Allah Ta’ala. Dan wafatnya pun sama pada bulan syawal, walaupun KH Ahmad Qusyairi lebih dahulu wafat karena secara umur, KH Ahmad Qusyairi lebih sepuh dari Habib Sholeh.

Alhamdulillah, saya pernah mendapat cerita tentang kedua ulama tersebut dari ayahanda yang semoga dengan cerita dari kedua ulama soleh tersebut bisa menurunkan barokah bagi kita.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pertama, bahwa KH Abdul Hamid pernah berkata pada ayah saya bahwa KH Ahmad Qusyairi adalah wali besar yang ‘nyamar’. Beliau lebih memilih menutupi kewalian beliau dengan berbagai hal. Salah satu cerita yang saya senangi dari ayah adalah ketika KH Ahmad Qusyairi sedang di Surabaya naik mobil melintasi rel kereta, tiba tiba mobil mogok tepat di atas rel kereta api, padahal saat itu dari kejauhan datang kereta listrik yang berjalan secara otomatis menuju mobil Kiai Ahmad Qusyairi.

Saat itu, KH Ahmad Qusyairi berdiam sambil membaca dzikir tertentu dan dengan izin Allah tiba-tiba listrik di daerah tersebut padam sehingga kereta listrik pun berhenti secara otomatis.

Baca Juga >  Kiai Maimoen dan Kiai Mustofa Aqil: Yakin "Kabeh Wis Ono Sing Ngatur"

kh ahmad qusyairi dan kh hamid pasuruan

kh ahmad qusyairi dan kh hamid pasuruanhabib sholeh tanggul jember

Kedua, KH Abdul Hamid Pasuruan pernah berwasiat kepada almarhum ayah saya bahwa kalau bepergian ke arah timur (Jember) maka jangan lupa membaca surat Fatihah kepada Habib Soleh Tanggul. Dan ketika bepergian ke arah barat (Jakarta) jangan lupa membaca surat Fatihah kepada Habib Husein Luar Batang. Ini menunjukkan bagaimana pada zaman dulu terjalin hubungan saling sayang dan menghargai antara sesama ulama, antara habaib dan para kiai. Hubungan yang semoga terus terjalin selamanya.

Masih ada beberapa cerita sebenarnya, tapi saya cukupkan sampai sini, kita lanjutkan saja dengan membaca surat Al Fatihah kepada beliau berdua, semoga Allah menyayangi, meridhoi dan meninggikan derajat mereka berdua di sorga. Dan semoga kita dan keturunan kita mendapatkan kebaikan sebagaimana Allah memberi kebaikan kepada mereka berdua. Dan juga Fatihah untuk kedua orang tua dan guru kita.

الفاتحة….

Penulis: KH Ahmad Gholban Aunir Rahman, Pengasuh Pondok Pesantren Putri (PPI) Zainab Shiddiq Jember Jawa Timur.