Kiai As'ad Said Ali

KH As’ad Said Ali: NU yang Pertama Kali Menuntut Pembubaran PKI

Posted on

Dr KH As’ad Said Ali, Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015.

Dalam kampanye pemilu 2019 ada pihak yang menganggap NU sama dengan PKI. Karena tahun 1959 – 1965, NU mendukung NASAKOM. Tentu saja itu salah. Bersama Masyumi ( 57 kursi dan partai Islam lain) , NU ( 45 kursi ) menolak PKI masuk kabinet dengan alasan pokok PKI menafsirkan Sila pertama Pancasila secara sekuler.

Karena terlibat pemberontakan PRRI, Masyumi dibubarkan jadi tinggal Tiga partai besar PNI (57), NU (45), PKI (39), selebihnya partai partai kecil. Setelah dekrit Presiden 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan jargon NASAKOM dengan pertimbangan demi persatuan yang ketika itu Indonesia sedang menghadapi pembebasan Irian Barat.

Terjadi perdebatan di internal NU, menerima atau menolak. Kalau menolak konsekwensinya, Islam tidak terwakili dalam penyelenggaraan politik kebangsaan dan negara akan didominasi kaum nasionalis dan komunis.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Dengan pertimbangan kaidah fiqh “mencegah kemudlaratan lebih diutamakan daripada menarik manfaat “, maka NU menerima nasakom sebagai taktik. Namun secara strategis NU tetap menentang PKI sehingga menolak partai itu masuk kabinet.

Seperti halnya NU , TNI – AD juga patuh keputusan Presiden sebagai panglima tertinggi. Akhirnya Bung Karno hanya memasukkan anggota PKI sebagai menteri tanpa porto folio. Selama periode 1959 sampai 1965 pertentangan itu berlangsung baik di lapangan maupun dalam forum politik nasional.

NU lah yang mempertahankan HMI ketika PKI menuntut pembubaran. Ketika terjadi pemberontakan PKI 30 September 1965, NU dengan dimotori Subhan ZE adalah pihak yang menuntut pertama kali untuk dibubarkan dan selanjutnya bersama TNI menghadapi PKI di lapangan maupun di medan politik.

Tulisan singkat ini semoga bisa menjadi bekal untuk menghadapi mereka yang berusaha mendiskreditkan NU. DAPAT DIGARIS BAWAHI NU TIDAK PERNAH MEMBERONTAK ( BUGHOT).