Bangkitmedia.com, YOGYA – Bertempat di Fak Bisnis dan Ekonomi UII Condongcatur, Ketua PWNU DIY Dr. Ahmad Zuhdi Muhdlor menyampaikan testimoni dalam FGD yang diadakan MUI DIY Selasa 25 Februari 2025. FGD membincangkan wacana Yogyakarta Serambi Madinah. Para peserta yang terdiri dari akademisi, budayawan dan aktifis ormas Islam menyatakan tidak terlalu tahu tentang wacana tersebut, bahkan ada yang mengatakan baru mendengar wacana tersebut dalam forum FGD ini.
Sementara itu Ketua PWNU DIY Dr. Ahmad Zuhdi Muhdlor menyatakan, sejak tahun 2008 sudah terlibat dalam perbincangan tersebut karena dirinya ditunjuk sebagai salah seorang tim teknis perjuangan tersebut. Bahkan Zuhdi mengaku masih menyimpan sebagian berkas dan notulasi pertemuan-pertemauan tentang Yogyakarta Serambi Madinah. Di antara tokoh yang waktu itu aktif terlibat dalam perbincangan tersebut antara lain GBPH H. Joyokusumo (alm), Drs. H. Afandi (waktu itu Kakanwil Departemen Agama DIY), Drs. Maskul Haji, Drs. KH Aliy As’ad, beberapa kiai dari seluruh Kabupaten/Kota di DIY, bahkan juga pernah hadir Drs. H. Adabi Darban, Prof. Djoko Suryo, Prof. Rahmat Wahab, Prof. Yuwono dan Cak Nun.
Dalam rapat di rumah Gusti Joyo 8 Desember 2009, Gusti Joyo menjelaskan bahwa Yogyakarta Serambi Madinah sudah digagas sejak HB I meskipun namanya bukan Serambi Madinah, tetapi karena perkembangan zaman diperlukan adanya reimplementasi dan reaktualaisasi. Hal ini sesuai dengan visi dan misi peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta tahun 1998 perlunya mempertahanakan warisan leluhur dengan berdasarakan Al Qur’an dan As Sunnah.
Menurut Gusti Joyo, Ngarso Dalem HB X setuju dengan gagasan ini, tetapi beliau berpesan agar munculnya dari masyarakat, bukan dari institusi Kraton, karena Kraton merupakan bagian dari masyarakat. Sayangnya perbincangan tentang Yogyakarta Serambi Madinah mandeg seiring dengan wafatnya Gusti Joyo.
Dalam FGD kemarin konsep Yogya Serambi Madinah selain dikaitkan dengan prototipe kota Madinah di zaman Nabi Muhammad Saw yang aman, sejahtera dan toleran, juga banyak diwarnai dengan kajian dari aspek budaya dan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.
Hadir dalam FGD selain unsur MUI juga akademisi dari berbagai Perguruan Tinggi Islam, Budayawan, Pati Paniradya Kaistimewan, wakil Biro Kesra,dll. Menurut Jumarodin, Ketua Panitia FGD sebagai tindak lanjut, MUI membentuk Tim terdiri dari unsur MUI, Ormas Islam, Akademisi, Tokoh Masyarakat, Budayawan dan Pengusaha untuk menindak lanjuti FGD. (Zuhdi M)








