mbah maridjan

Ketika Kiai Hasyim Muzadi Mengenang Mbah Maridjan…

Posted on

Tahun 2006 Kiai Hasyim Muzadi Bertemu Mbah Maridjan

Bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu, seperti gempa bumi yang melanda Lombok, NTB (Nusa Tenggara Barat) dan gempa beserta tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, merupakan sebuah hal yang harus diperhatikan dan perlu dijadikan sebagai bahan renungan, khususnya bagi orang-orang yang terkena bencana, dan umumnya bagi seluruh orang. Ada sebuah Kisah menarik KH. Hasyim Muzadi dan Mbah Maridjan yang berkaitan dengan bencana alam yang perlu ditangkap pesan penting yang terkandung dalam kisah tersebut.

Pada saat terjadi bencana di Indonesia, KH. Hasyim Muzadi atau akrab disapa Abah Haysim yang merupakan Ketua umum tanfidziyah atau Ketua Dewan Pelaksana PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) selama 2 Periode (1999-2004 dan 2005-2009/2010), sering kali terjun langsung ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan bersama para relawan NU (Nahdlatul Ulama). Ketika Gunung merapi meletus pada tahun 2006, Abah Hasyim bertemu langsung dengan almarhum Mbah Maridjan yang merupakan juru kunci Gunung Merapi.

Abah Hasyim pernah berbincang-bincang dengan juru kunci gunung merapi tersebut. Beliau bahkan memberikan sebuah hadiah berupa jaket yang terdapat Logo NU di bagian belakangnya. Mbah Maridjan pun kontan mengatakan “Inggih niki agami kulo (Ya, ini agama saya)” sambil menunjuk logo NU pada jaket yang diberikan kepadanya. Mendengar perkataan Mbah Maridjan yang menarik tersebut, Abah Hasyim pun bertanya kepadanya “Sanes Islam, Mbah? (Bukannya Islam, Mbah)?”. Kemudian Mbah Maridjan pun menjawab sambil tertawa, “Nggih sami mawon (Ya sama Saja)”.

Baca Juga >  KH Chasan Tholabi, Pendiri Pesantren Al-Qur’an Wates (Pesawat)

Tepatnya pada Hari Rabu Tanggal 27 Oktober 2010, Abah Hasyim mendengar berita duka bahwa Mbah Maridjan meninggal dunia. Beliau merasa kehilangan sesosok warga NU yang rela berjuang untuk keselamatan orang banyak. Abah Hasyim pun Ingat pesan dari Amarhum Mbah Maridjan ketika ia bertemu dengannya pada tahun 2006. “Panjenengan sak konco poro piageng, kedah temen lan sak temene. Mugi ndonyane tenterem”. Itulah pesan almarhum Mbah Maridjan kepada Abah Hasyim dan rombongan NU yang datang bersamanya ke lereng gunung merapi.

Makna Pesan Mbah Maridjan

Menurut Abah Hasyim, Mbah Maridjan dalam pesan tersebut meminta para pembesar di negeri ini bertindak benar agar alam menjadi tenteram. Dari pandangan Mbah Maridjan, bencana alam erat kaitannya dengan perilaku manusia. Karena itu, Jika ingin alam tenang, manusia harus berperilaku mulia dan jangan merusak alam, terutama para pejabat harus bertindak secara benar.

Almarhum Mbah Maridjan wafat akibat terkena wedhus gembel atau awan panas dari letusan gunung merapi dan almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Kinahrejo, Desa Umbulharjo, yang kemudian menjabat sebagai salah satu dari Wakil Rais Syuriah MWC (Majelis Wakil Cabang) NU Cangkringan, Sleman.

*) oleh : Muhammad Azis, santri Pondok Pesantren Al-Muhsin, Depok, Sleman, Yogyakarta.