KH Rifqi Ali, biasa disapa Gus Kelik, adalah sosok kiai nyentrik yang sangat gemar bersholawat. Majlis sholawatnya bernama Bil Musthofa sangat ramai dibanjiri jama’ah setiap malam Kamis. Gus Kelik juga dikenal sosok yang sangat gemar shilaturrahim, sehingga sering keliling di berbagai tempat, termasuk di berbagai kiai besar di Jawa Timur.
Gus Kelik dekat dengan para kiai dan tokoh, termasuk dengan sosok Gus Dur. Ada banyak kisah unik dan menyenangkan dari kedua sosok nyentrik ini. Kisah berikut ini diceritakan Cak Nashir.
Saat itu, Gus Kelik ditemani oleh santrinya bernama Ponidi.
Gus Kelik : “Pon..”
Pon : “Dalem Gus Kelik”
Gus Kelik : “Ayo melu aku neng Jakarta,aku pengen ketemu Gus Dur,numpak kereta yo..” (Ayo ikut aku ke Jakarta, aku pengin ketemu Gus Dur, naik kereta ya)
Pon : “Siap Gus”
Walhasil mereka sampai di Jakarta (Gedung PBNU),tapi ternyata sudah penuh orang antri yang pengen bertemu dengan Gus Dur.
Gus Kelik : “Sambil mengeluh, “Pon sana bilang sama ajudannya nek aku (kelik) teko.” (Pon, sana bilang sama ajudan Gus Dur, kalau aku (Gus Kelik) hadir).
Pon : “Siap Gus”
Akhirnya Ponidi bilang kepada ajudannya, kemudian diteruskan kepada Gus Gur. Mengetahui Gus Kelik yang datang, orang-orang yang sedang antri dari tadi langsung dibubarkan oleh Gus Dur demi bertemu dengan Gus Kelik.
Tibalah saatnya mereka bertemu, ngobrol, dsb. Entah apa yang dimaksud Gus Dur, beliau cerita tentang wayang kepada Gus Kelik, mungkin bosen dengan cerita Gus Dur, Gus Kelik tiba-tiba mengajak Ponidi pulang.
Gus Kelik : “Pon, ayo muleh wae”
Pon : “Nggeh Gus”, Ponidi mengiyakan dengan menghiraukan Gus Dur yang masih bercerita wayang.
Akhirnya mereka pulang tanpa pamit meninggalkan Gus Dur yang lagi asyik bercerita wayang dan tidak mengetahui kalau sudah ditinggal pulang oleh Gus Kelik. Merasa kasihan, setelah selang waktu yang agak lama ajudannya matur kepada Gus Dur.
Ajudan : “Gus, Gus Keliknya sudah pulang”
Gus Dur : “Loh pye toh kok gak bilang dari tadi. Aku belum kasih sangu (uang saku kepada Gus Kelik)”.
Ajudan: “hehehe, ngapunten Gus”.
Gus Dur: “e.. lahdalah, terus yang tak ceritain wayang tadi siapa ya?, padahal demi Gus Kelik tamu-tamu tadi tak suruh bubar. Gus kelik ki jan jan..hahahaha”.
Begitulah pertemuan dua orang sahabat dekat yang banyak dianggap sebagai orang aneh. Kalau Gus Dur aneh dalam hal “bicaranya”,kalau Gus Kelik aneh dalam hal “perilaku” dan ke dua-duanya banyak yang menganggap sebagai seorang wali.
@cerita dari cak nashir
(Bangkitmedia.com)








