kitab shorof karya kh ma'shum ali jombang

Keistimewaan Kiai Ma’shum Ali, Pakar Ilmu Shorof dari Jombang

Diposting pada

Saat ini ramai di medsos masalah tasrifan. Bermula ada ustadz yang sangat pede dan menyebut suatu kata lalu mencari akarnya dan mentasrifnya, tapi ternyata salah. Tentu saya tidak akan membahas hal di atas.

Ada kisah lain dari pakar tasrif yang kitabnya berjudul “Al-Amtsilah al-Tasrifiyyah” menjadi pegangan wajib pesantren NU. Di Madrasah Ibtidaiyyah Bahrul Ulum Tambakberas, siswa wajib menghafalkan kitab tersebut sejak kelas 3 sampai kelas 6. Kalau nahwunya yang wajib dihafal adalah kitab Jurumiyah di kelas 3, dan bait kitab “Imrithi” dihafal di kelas 4, 5 dan 6.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kisah tersebut saya dapat dari KH. Muhsin bin Zuhdi (lahir tahun 1935) saat saya takziah pada 22 Januari 2020 lalu yang istrinya wafat beberapa hari sebelumnya. Beliau selain famili dari jalur Lasem juga menjadi anak angkat Nyai Khoiriyah binti Kiai Hasyim Asy’ari sejak tahun 1958.

Saat usia Nyai Khoiriyah 9 tahun, beliau dinikahkan oleh Hadlaratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dengan lurah pondok Tebuireng, yakni Kiai Ma’shum bin Ali yang saat itu berusia 35 tahun. Mereka hidup berumahtangga saat usia Nyai Khoiriyah 11 tahun.

Kiai Hasyim Asy’ari membelikan rumah bekas milik dukun santet yang berada di Seblak. Akhirnya mereka mendirikan pondok di situ. Suatu hari, Nyai Khoiriyah bertanya kepada Kiai Ma’shum, “Yai, buku Jenengan yang al-Durus al-Falakiyah masih adakah kelanjutannya?”

Baca Juga >  Guruku, KH. Afifuddin Muhajir

Kiai Ma’shum menjawab, “Sebetulnya ada kelanjutannya, tentang ilmu watak manusia dilihat dari pisiknya. Semisal kalau keningnya begini, maka dia seperti ini, kalau telinganya begini, dia seperti ini dst. Ilmu ini nanti bisa dipakai dalam melihat penjahat dan sebagainya.”

Saya teringat saat kuliah di Unair ada mata kuliah yang menjelaskan tentang model wajah dan potensi kejahatan.

Lalu Kiai Ma’shum berkata kepada Nyai Khoiriyah, “Coba saya lihat tanganmu.” Setelah mengamati kedua tangan Nyai Khoiriyah, Yai Ma’shum melanjutkan, “Sampean nanti bakale rono (menunjuk ke arah barat) selama 21 tahun, dan setelah itu ke arah timur 10 tahun.”

Benar, setelah Kiai Ma’shum wafat, Nyai Khoiriyah pergi ke Makkah yang kemudian dinikahkan oleh Kiai Hasyim Asyari dengan Kiai Muhaimin Lasem yang mukim di Makkah. Kiai Muhaimin ini sebelumnya menikah dengan Nyai Sholihah binti Kiai Chasbullah, Tambakberas. Namun sekian tahun menikah, istrinya wafat, lalu Kiai Muhaimin mukim di Makkah (baca buku Tambakberas).

Demikian kisah kiai hebat yang kitab peninggalannya menjadi sangat bermanfaat bagi para santri. Kepada seluruh kiai dan nyai yang ditulis di atas, lahumul fatihah.

Penulis: Ainur Rofiq Al Amin, Tambakberas Jombang.