Kecintaan KH Amin Kholil Bangkalan terhadap Ilmu.
Aba…
Sama seperti banyak anak laki-laki di dunia ini, sejak dulu saya lebih akrab dengan sosok ibu daripada ayah. Jarang sekali saya berbicara panjang lebar dengan Aba. Namun setelah saya pulang dari Tarim, aba sering memanggil saya, biasanya untuk mewakilkan sebuah undangan ceramah atau menanyakan permasalah fiqih.
Aba belasan tahun menuntut ilmu di Mekkah, di masa itu beliau mengaji kepada Sayyid Muhammad Al-Maliki, Syaikh Ismail Zain, Syaikh Yasin Al-Fadani dan banyak ulama Hijaz lainnya. Saya rasa Aba akhir-akhir ini seringkali menanyakan masalah fiqh kepada saya karena satu hal: meskipun sangat jauh dari kata membanggakan, mungkin beliau sudah merasa bahwa anak lelakinya sudah bisa diandalkan.
Saya masih ingat, sebulan yang lalu beliau menanyakan suatu permasalah fiqih, kala itu Aba baru saja menjalani cuci darah untuk pertama kalinya, ada 2 perban ditangan kiri aba.
“orang yang memakai jabiroh(perban)apa cukup mengusapnya saja ketika berwudhu?”
“setau saya nggak cukup ba.. harus tayammum sebagai ganti dari membasuh anggota yang ditutupi”
“kayaknya di Bulughul Marom cukup mengusap saja ..?”
“Setau saya nggak cukup ba.. “ jawab saya sambil menyodorkan keterangan dalam kitab Taqrirot Sadiidah.
Aba diam tapi sepertinya beliau belum sepenuhnya puas. siang tadi setelah pemakaman aba, saya membaca di salah satu Syarah Bulughul Marom, ternyata memang ada sebagian ulama (seperti malikiyah dan hanafiyah) yang mengatakan cukup bagi pemakai perban mengusap anggota yang terluka saja tanpa harus bertayammum
أذكروا محاسن موتاكم
Jika memang ada kebaikan aba yang selama ini jelas kami ketahui maka itu adalah kecintaan beliau kepada ilmu, beliau rela mengorbankan apa saja asalkan anak-anaknya bisa menjadi ahlil ilmi. 4 anaknya beliau berangkatkan ke Tarim, bahkan dua diantaranya adalah anak perempuan (termasuk adik lelaki dan adik perempuan saya yang sekarang masih belajar di Tarim).
Beliau pernah berkata kepada ummi :
“Untuk anak-anakku yang di Yaman, berapapun uang yang mereka minta asalkan untuk kitab dan ilmu pasti akan kuberi “
Beliau juga sangat menjaga hubungan erat dengan para leluhurnya, dulu ketika saya masih SD, setiap selesai sholat jum’at beliau selalu mengajak saya dan Ibrohim adik saya untuk berziarah ke makam Syaikhona Kholil, ayah beliau KH. Kholil Yasin, Ibu beliau Nyai Mumayyizah Fadli, dan kakek-nenek beliau (Kiai Yasin dan Nyai Asma) di Martajasah. Beliau juga istiqomah membaca khutbah Syaikhona Kholil pada tiap Jum’atnya.
“Syaikhona itu paling tidak setuju dengan khutbah yang diterjemahkan,“ kata beliau waktu itu.
Setiap maulid atau Isro’ beliau juga sering mengajak saya untuk mengisi acara di Masjid-masjid peninggalan Syaikhona Kholil.
“Syaikhona Kholil itu kalo bangun masjid, maka tukangnya harus orang yang istiqomah sholatnya,“ cerita aba.
Dua hari ini aba seringkali mengigau, beliau meminta untuk pulang, berangkat dll padahal beliau ada di rumah. beliau juga meminta kepada saya tiga hari yang lalu:
“Maeng.. ( nama panggilan saya ) hadapkan aku ke barat.. aku mau sholat “
Di hari-hari terakhir aba, saya sering menemani aba, mendorong kursi roda aba dan memijati aba. Suatu kedekatan yang jarang terjadi sebelumnya. Terakhir.. di hari dimana aba wafat, setelah subuh beliau berkata kepada saya :
“Maengg “
“Engghi ba ? “
“Bangunin aku nanti setelah duhur ya.. “
“Engghi “
Saya tak menyangka itu adalah sebuah pertanda, setelah duhur (sekitar jam setengah dua) beliau tiba-tiba tak sadarkan diri dan di sore harinya beliau telah meninggalkan kami semua..
الزمان و المكان الذي توفي فيهما والدي إن كانا يدلان على شيئ فنرجو أن يدلا على حسن خاتمته و إجتماعه بشيخنا محمد خليل و غيره من أسلافه الاكرمين
Aba wafat pada 10 terakhir bulan Ramadhan sama dengan Hari wafat Syaikhona Kholil (beliau wafat pada 29 Ramadhan) makam aba juga lurus satu arah dengan makam Syaikhona, jika waktu dan tempat ini bukanlah kebetulan dan memang menunjukkan sesuatu maka saya harap itu adalah pertanda khusnul khotimah-nya aba dan dikumpulkannya aba bersama Syaikhona Kholil dan para pendahulu aba yang lain di alam barzakh sana..
Saya mewakili keluarga besar aba mengucapkan terima kasih kepada sahabat sekalian lebih-lebih para kiai dan Habaib atas doa kalian untuk aba.
26 Ramadhan, 1441 H.
Demikian Kecintaan KH Amin Kholil Bangkalan terhadap Ilmu. Semoga bermanfaat dunia dan akhirat.
Penulis: KH Ismael Amin Kholil, putra almarhum KH Amin Kholil Bangkalan, alumnus Pesantren Sarang Jawa Tengah, Pesantren Habib Umar Yaman.
Tonton video Ketika Nabi Khidir Memberikan Kitab Ilmu pada Gus Miek. Tonton di sini








