Katanya Bela Nabi, Kok Sering Dijadikan Tunggangan Memuaskan Nafsu

Katanya Bela Nabi, Kok Sering Dijadikan Tunggangan Memuaskan Nafsu?

Diposting pada

Membela Nabi atau memanfaatkan Nabi?

Katanya membela Nabi, tapi ada umat Nabi saw salah, dicaci maki, wajahnya dibuat meme hewan, demo dimana-dimana, lapor polisi. Itu bukan membela Nabi, tapi memanfaatkan Nabi untuk kepentingan kelompoknya masing-masing.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Orang yang dianggap melecehkan Nabi saya yakin tidak berdosa, sebab tidak ada maksud tanqish dan tahqir, mendistorsi dan menghina Nabi, hanya ada yang kurang tepat. Indikatornya uraian yang menunjukan kecintaannya kepada Nabi ribuan kali lebih banyak dari satu dua kesalahan.

Tapi yang memanfaatkan insiden ini untuk menyerang marwah pribadi dan marwah ormas tertentu dengan memanfaatkan Nabi, dosanya ribuan kali lebih besar sebab menjadikan Nabi saw sebagai tunggangan untuk memuaskan agenda nafsunya.

Siapa yang bisa menggambarkan Nabi dengan sempurna? Syeikh Ramadhan al Bouthi menulis fiqhu sirah salah satu alasannya -dalam muqadimah bukunya- karena sirah Nabi kontemporer ditulis dengan alasan ilmiah sehingga menghilangkan aspek irhash, ishmah , i’jaz, inayah, maunah, nubuwah dan Risalah, sehingga sejarawan menggambarkam Nabi menjadi sosok manusia biasa yang hanya bisa dijangkau oleh pembuktian ilmiah, manusia biasa, karena item tadi itu hanya bisa dijangkau dengan iman yang secara material tidak kongkrit.

Buku yang dikritik oleh Syekh Al Bouthi adalah sejarah Nabi yang monumental karya Muhammad Husain Haikal. Buku itu, kata al-Bouthi tidak mengakomodasi keutamaan Nabi. Tapi nyatanya Syeikh al-Bouthi sendiri mengutip sebuah hadis yang menyatakan Nabi nyaris bunuh diri di sebuah jurang karena keterlambatan wahyu, dan Nabi dibuly habis oleh Yahudi; bahwa Muhammad sudah ditinggalkan Tuhannya. (Ibarat nyusul mau ke bank dulu hhhe)

Baca Juga >  Dicari! Skripsi untuk Meruntuhkan Disertasi

Kisah ini menjadi salah satu polemik dalam buku spektakuler karya al-Bouthi itu.

Artinya keagungan Nabi saw selalu lebih jauh dari yang mampu dijangkau oleh pikiran, lisan dan tulisan manusia, bahkan ulama paling ikhlas, ulama rabaniy sekaliber Imam Tobari (Anda tahu inspirasi Salman Rusydi menulis Satanic Verses dari Thobari), demikian juga al-Bouthi.

Jika mereka saja yang agung bisa luput, apalagi tokoh yang semasa dengan kita. Apa sulitnya kita memberi maaf kepada tokoh umat yang lebih banyak jasanya dari sepercik salah dan luputnya. Apa susahnya kita memberi maaf. Bukankah pemaafan salah satu warisan kenabian yang paling khas diwariskan oleh Nabi kita Muhammad saw.

Jika GM bisa salah, kita lebih mungkin melakukan kesalahan. Mari buka hati untuk menyudahi sumpah serapah dan kebencian atas nama Nabi.

Penulis: Ahmad Tsauri.