Karomah Rais Aam Kiai Miftah dalam Kesaksian Kiai Said.
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2020-2025 pada Musyawarah Nasional (Munas) X, yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, pada Kamis, 26 November 2020, malam. Kiai Miftah menggantikan Kiai Ma’ruf Amin yang saat ini menjadi Wakil Presiden RI. Kiai Ma’ruf sendiri terpilih terpilih sebagai Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI Pusat. Kiai Miftah adalah sosok kiai yang sejuk, teguh, dan penuh kharisma.
Pada Jum’at, 27 November 2020, banyak sekali ucapan selamat dan kesan hidup para netizen tentang sosok Kiai Miftah. Berikut ini kesaksian tiga netizen tentang karomah dan keistimewaan Kiai Miftah yang jarang diketahui publik luas.
Pertama, Gus Muhammad Shidqi, putra KH Muhammad Mustofa Aqil Kempek Cirebon dan juga cucu Kiai Maimoen Zubair.
Persamaan dari ketiganya adalah Lirboyo. Lirboyo, sekali lagi seperti mesin, yang tidak pernah berhenti menelurkan ulama-ulama hebat. Termasuk alumni Lirboyo adalah Mbah Moen.
Tidak ada kemewahan di Lirboyo. Hanya ada ketekunan dan keikhlasan serta mencari ridho para guru. Sehingga menjadi personal yang dikasihi oleh Allah SWT.
Kyai Miftachul Akhyar ketika mondok di Lirboyo, beliau tidak pernah sekalipun “dahar” makanan syubhat, apalagi haram. Oleh karenanya, Kang Said memaparkan salah satu karomah Kyai Miftah; yaitu perut Kyai Miftah hingga kini selalu menolak makanan yang haram atau makanan hasil beli menggunakan uang haram. Kyai Miftah dilindungi Allah.
Kedua, Gus Rijal Mumazziq Z, rektor INAIFAS Jember.
Menjelang Konferwil PWNU Jatim, 2007, saat saya masih bergabung di Majalah AULA, ada nomor asing masuk. Waktu itu saya sedang berkendara. Di tengah bising lalu lintas, saya angkat panggilan.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Sinten niki?”
“Kulo Miftah.”
“Miftah sopo yo?”
“Kulo Miftahul Akhyar.”
Jreng!
“Ampun…ampun kiai…ngapunten. Mboten ngertos nek njenengan. Ngapunten.”
“Saya ada perlu sama Mas Rijal…”
“Siap. Baik, kiai. Baik.” (Ndredek banget. Hape hampir jatuh)
Selamat kepada almukarrom KH. Miftachul Akhyar, Rais Aam Syuriyah PBNU, yang hari ini menjadi Ketua Umum MUI.
Ketiga, A Afif Amrullah, ketua KPID Jawa Timur dan Ketua LAZISNU PWNU Jawa Timur.
Kriinnnggg. Sore itu HP staf sekretariat PWNU Jatim berbunyi. Dilihatnya, ternyata dari nomer tidak dikenal. Maklum, Cak BK (sebut aaja begitu), baru beberapa hari kerja di situ. Belum banyak menyimpan nomer HP para pengurus.
“Halo, assalamu’alakum,” ia jawab dengan nada tegasnya.
“Wa’alaikumussalam. Sampean masih di kantor PWNU, Cak?” Suara lembut menyaut.
“Yo, masih di PW ini. Sebentar lagi pulang,”
“Oh, nggih. Kiai Badruddin tadi ke kantor ya? Sekarang sudah pulang apa belum?”
“Oalah, yo sudah pulang Pak. Jam segini kok baru tanya. Ini sudah sepi,” jawab Cak Staf, masih dengan suara lantangnya.
“Oh, nggih sampun. Maturnuwun. Assalamu’alaikum,”
“Yo, wa’alaikumsalam,” Cak BK mengakhiri pembicaraan tanpa tahu siapa yang menelpon.
Keesokan harinya, saat santai di ruang lobby kantor, seseorang mencoleknya dari belakang.
“Cek galak’e rek nek ditelpon,”
“Nnnggg… nnnggg… nganu Kiai. Ngapunten. Ternyata kemarin panjengan yang telepon. Saestu ngapunten sanget Kiai,” jawab Cak BK gelagapan sambil mencium tangan kanan pemilik suara itu.
Gimana gak gelagapan. Ternyata yang menelpon kemarin adalah KH. Miftahul Akhyar, yang saat itu menjabat Rais Syuriah PWNU Jatim. Mendapat perlakuan seperti itu, Kiai Miftah santai-santai aja. Dasarnya memang beliau kiai yang santun dan rendah hati. Bahkan di lain kesempatan peristiwa serupa kejadian lagi.
Itulah hebatnya Cak BK. Hanya dia yang berani begitu kepada Kiai Miftah. Sekarang Pengasuh Ponpes Miftahus Sunnah Surabaya ini sudah menjadi Rais Am PBNU & dini hari tadi baru saja terpilih sebagai Ketua Umum MUI Pusat.
Mari doakan mugi-mugi Allah SWT selalu paring kesehatan, petunjuk & perlindungan untuk beliau & keluarga. Allahumma aamiin.








