Karomah Kiai Yasir Nganjuk 40 Hari Khatam Ngaji Ihya

Karomah Kiai Yasir Nganjuk 40 Hari Khatam Ngaji Ihya

Posted on

Karomah Kiai Yasir Nganjuk 40 Hari Khatam Ngaji Ihya.

Di Nganjuk. Era 80-90 an ada seorang Kyai yang banyak dikenal santri penggemar kitab kuning kala itu. Beliau adalah almarhum almaghfurlah K. Muhammad Yasir (Dusun Karanglo. Desa Patihan. Kec. Loceret Nganjuk.)

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Beliau Kyai low profile. Ini adalah sepenggal kisah KH. Syamsuddin al-Aly yang pernah berkali-kali nyantri kilatan ke pondoknya:

“Kyai Yasir … Pokoknya sulit menemukan kyai seperti beliau. Pertama kali saya mondok disitu terheran-heran. Kok ada kyai seperti itu. Bayangkan, Dik. Ditengah-tengah ngaji malam yang waktu itu penerangannya masih memakai lampu petromak. Ketika lampu meredup. Tanpa meminta bantuan ratusan santri yang mengaji dihadapannya. Beliau langsung meraih lampu itu dan memompanya. Sontak, lampu petromak lain yang ada di beberapa titik ganti di pompa santri yang ada didekatnya, sungkan!

Pernah. Sambil membawa cangkul ke sawah. Dengan suara lantang beliau berkata: ‘Minggir! wong gedi arepe liwat!’ Hahaha. Sungguh antik. Ada lagi. Kadang beliau mengaji kitab dengan memakai kacamata hitam ala gangster. Dan ketika mulai capek. Beliau melilitkan sorbannya diperut! Agar kuat lama duduk.

Pada waktu beliau mengaji kitab falak dan menurutnya punya rumus yang sulit difahami: ‘Kok begini ya? Pokoknya menurut saya seperti ini’ (Dengan memakai rumus buatan sendiri yang lebih praktis dan cepat). Setelah usai mengerjakan satu permasalahan. ‘Kalau jawabanku salah. Tidak usah lagi ngaji ke saya!’ katanya sambil tertawa.

Yang mengaji ke beliau banyak yang sudah beristri, bahkan punya pondok dengan ribuan santri. Yang paling terkesan adalah waktu mengaji Ihya’ empat puluh hari. Yang ngaji banyak sekali, Dik. Dari pondok Lirboyo saja ada tiga bis. Belum yang lainnya. Mulai ngaji setelah isya’ atau trawih sampai subuh! Tapi setiap dua jam sekali istirahat seperempat jam untuk ngopi. Setelah subuhan istirahat. Jam delapan pagi dimulai sampai ashar. Ashar sampai isya istirahat. Empat puluh hari, khatam!

Hebatnya. Beliau mengaji bandongan ihya empat juz dengan memakai kitab kosongan. Dan saya perhatikan betul. Hanya buka kamus al-misbah empat kali! Setiap dzamir/kata ganti pasti diberi rujuk/tempat kembali yang pas dan benar. ‘Aku iki, dudu kyai madzkurrrr’ katanya sambil tertawa lepas. Dengan jumlah peserta hampir limaratusan, beliau mengaji tanpa menggunakan pengeras suara!

Baca Juga >  Mbah Moen: Tegas dalam Prinsip, Lentur dalam Sikap

Saya pernah sowan. Dan ini memang saya niati karena benar-benar penasaran: ‘Yi, panjenengan itu kalau membaca lafadz maa bayaniyah padahal keterangannya masih jauh. Kok bisa ya? Rumusnya apa?’. Dengan gaya humorisnya, beliau menjawab: ‘Pada waktu baca kitab. Mataku tu, satu kesini, satunya kesono!’. Tapi, anu, Din. Mungkin kamu tidak bisa meniruku. Sebab dulu, waktu aku kecil. Ketika aku bersama dengan kakekku. Bertemu dengan orang sepuh berbaju hijau. Beliau memberikan jajanan onde-onde tujuh butir. Katanya kepada kakek: Ini berikan pada cucumu. Suruh habiskan. Insya Allah kalau habis. Ia akan bisa baca kitab apa saja. Dan aku habiskan semuanya. Hahaha’. (Dan ayah penulis yakni almarhum almaghfurlah KH. M. Nahrowi ZAM. Yang juga merupakan karib beliau pernah berkata: Le, golek ilmu ladunni kui angel. Lhawong sak Nganjuk paling sing oleh ladunni mung kang Yasir).

Lagi-lagi. Sayapun pernah di panggil. ‘He, Din. Yai Nahrowi kok ora rene-rene? Arepe tak omongi: Nek pancen dekne kyai tenan. Mesti ndadekne awakmu mantune! (‘Hei, Din. Yai Nahrowi kok tidak kesini-kesini? Akan aku bilangi: Kalau dia benar-benar kyai sejati. Mesti akan menjadikan dirimu menantunya’. Itupun juga pernah disampaikan ayah pada penulis. Sambil tertawa serius. Abah berkata: ‘Wah! Jare kang Yasir. Nek Syamsuddin ora tak dadekne mantu. Aku dudu kyai tenanan’. Dan akhirnya beliau menjadikannya mantu lalu memegang tongkat estafet kepemimpinan pondok pesantren al-Fattah Pule-Jadid Kaloran Nganjuk hingga sekarang).”

Di akhir kisah. KH Syamsuddin al-Aly, bertutur: “Memang Kyai Yasir hebat dan dermawan. Waktu berada di Mojosari Nganjuk, tempat mondoknya. Demi menopang kehidupan. Beliau berjualan krupuk. Ketika dagangannya tidak habis. Ndak serta merta dikembalikan ke bosnya. Tapi dibagi-bagikan pada teman kamar. Blass tidak mikir untung rugi!”

Dikisahkan oleh KH. Syamsuddin al-Aly kepada HM. Hizbulloh al-Haq al-Fulaini bin almarhum almaghfurlah KH. M. Nahrowi ZAM.

Wallahu A’lam bis-Shawaab. Lahumul-Faatihah.

Demikian kisah Karomah Kiai Yasir Nganjuk 40 Hari Khatam Ngaji Ihya, semoga bermanfaat.

Penulis: Robert Azmi, Nganjuk.