Gus Hilmy

Karakter Ulama pada Sosok Hilmy Muhammad

Posted on

Oleh: Hamzah Sahal, elemen muda NU, aktivis media Islam Ramah

Tidak elok rasanya saya menuliskan namanya saja, tanpa gelar keulamaan yang sekarang ini seperti bisa disematkan kepada siapa saja: Kiai, Haji, Ustaz, Guru, Buya, Mualim, Gus, dan seterusnya. Gelar akademik master, doktor pun harusnya saya cantumkan pula. Ini pakemnya, adatnya.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Secara fiqhy, menuliskan namanya minus gelar sepertianya tidak sah. Secara akhlaqy, menuliskan namanya tanpa gelar apapun bisa diprotes santrinya, sambil melontarkan kalimah lugas: “Tidak punya adab!”

Tapi mengapa dalam tulisan pendek ini saya tidak menerapkan “fikih” dan “akhlak” yang seharusnya itu?

Jawab saya sederhana. Beliau ini kiai betulan, bukan sekedar putra Kiai Hasbullah-Nyai Hanifah, atau sekedar cucu Kiai Ali Maksum ulama yang kosmopolit itu, atau buyut dari Kiai Munawwir, ulama besar di Nusantara dalam bidang Alquran. Gelar kesarjanaan yang diraihnya juga tidak mendadak atau karena “jasa” kampus yang diperoleh dengan instan atau asal lulus, asal diwisuda.

Hilmy Muhammad ulama sungguhan. Beliau sarjana betulan. Yang betul-betul dan sungguh-sungguh tidak akan “galau” oleh perkara “kulit”, “sampingan”, atau tidak penting-penting amat. Dicantumkan biasa. Tidak dikasih juga biasa. Itulah Hilmy Muhammad.

Saya juga punya jawaban yang pakai dalil. Apa dalilnya?

Dalilnya adalah bahwa ulama zaman dulu, doktor zaman dulu, juga tampak tidak mudah menampilkan “embel-embel” gelar berderet. Fenomena ini masih bisa kita tengok di sampul buku-buku terbitan lama, tidak ada gelar-gelar di sana, yang tak jarang lebih panjang dari nama.

Tentu saja, khazanah literatur pesantren menunjukkan para munsyi malah meenempelkan “al-faqir” di atas namanya. Nah, inilah, yang saya pahami dari sosok Hilmy Muhammad. Beliau mewarisi ketawaduaan para pendahulu.

Hilmy Muhammad tumbuh di tengah-tengah dunia yang berbeda: pesantren tradisional dan dunia akademik yang modern. Namun dia berhasil memadukannya dengan apik dan halus. Dia fokus pada satu bidang ilmu yang tidak terlalu menonjol di kalangan pesantren, yakni ilmu tafsir. Di pesantren, tidak ada “adu ilmu” tentang ilmu tafsir, adanya fikih, tasawuf, dan kesaktian.

Mungkin, dalam bidang ilmu, beliau banyak dipengaruhi oleh dunia akademik. Studinya memang fokus di bidang tafsir dan ilmu tafsir. Delapan tahun dia menyelesaikan sarjana di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits dengan skirpsi “Munasabah dalam Tafsir ar-Razi”. Gelar masternya ditempuh di Khourtoum International Institute for Arabic Language, Sudan, dengan tugas akhir berjudul “al-Balaghah an-Nabawiyah fii arba’in an-Nawawiyyah”.

Gelar doktoralnya didapat di Universitas Kebangsaan Malaysia di bidang al-Quran dan as-Sunnah, Malaysia. Disertasi membedah kitab yang tidak terlalu populer di kalangan pesantren, tepatnya berjudul: “Syihabuddin al-Alusi dan Tafsir Ruhul Ma’ani: Studi tentang Nazam/Susunan al-Qur’an”.

Baca Juga >  Cara Wudlu Sandiaga Uno, Ada Apa dengan Ijtima' Ulama?

Alhamdulilah saya dapat mencicipi ilmu-ilmu tafsir langsung kepada beliau, tiga tahun belajar ilmu tafsir di Pesantren Krapyak. Karya-karya ulama muda di bidang ilmu tafsir seri satu hingga seri tiga saya baca: al-Madkhal fii ilmit tafsir. Ya lumayan, meski hanya mukadimah. Fokus ulama kita pada bidang tafsir ini, semoga saja ke depan akan mewarnai dunia pesantren ke depan, tidak hanya ilmu fikih yang membumi. Saya kira ini visi kepesantrenan dari sosok Hilmy Muhammad.

Alamat-alamat ketawaduan pada diri Hilmy Muhammad juga bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Beliau bergaul dengan siapa saja, menyapa siapa saja, menerima siapa saja, dengan bahasa sederhana, dengan pakaian yang biasa saja, dengan bahasa tubuh yang sepenuhnya respek pada yang ditemuinya. Di awal-awal bertemu dengannya, mungkin akan tampak kesan serius, tapi setelah bercakap sebentar, akan mencair segera.

Sekitar tahun 1998/1999, saya pernah diajak beliau perjalanan jauh. Dari Jogja, Blora, hingga ke Bojonegoro. Perjalanan selanjutnya ke barat, Semarang. Lalu Pekalongan. Dari Pekalongan, rumah mertuanya, kembali ke Jogja. Perjalanan tiga hari di tempuh dengan bus ekonomi, tanpa AC dan umpel-umpelan.

Saya waktu itu berpikir, para kiai muda sedang ramai-ramainya naik “Kijang Kapsul” atau minimal “Espas”, kok ini “Gus Krapyak” pakai bus butut?

Saya yang diajaknya pun agak kecewa karena tidak naik mobil pribadi. Sumpek, panas, dan bau asem di bus. Bahkan, kami menunggu agak lama di terminal kecil Blora karena menunggu Subuh, menunggu angkutan kecil beroperasi yang akan mengantar ke Pesantren Khozinatul Ulum (semoga nama pesnatren tidak salah).

Di bidang sosial-politik, saya melihat beliau juga sangat jeli dan punya antusiasme. Tentu saja karena pengalaman dari bawah di organisasi yang lahir di lingkungan NU: IPNU, PMII, pengurus NU, hingga dua tahun ini aktif mendirikan kampus NU di Jogjakarta. Tapi sejujurnya, saya agak kaget beliau maju menjadi calon DPD. “Apa betul ini?” gumamku dalam hati.

Namun saya cepat-cepat merespon kabar itu dengan keyakinan penuh: ulama muda kita ini, intelektual muda kita ini, akan menjadi anggota DPD dari Daerah Istimewa Jogjakarta dengan sepenuh hati, bukan gagah-gagahan, atau uji coba ke panggung nasional.

Saya meyakini, dengan posisi politik ini, karakter keulamaannya akan makin lengkap. Keyakinan ini sepenuhnya karena saya merasakan visi dan misi seorang Hilmy Muhammad yang selalu mewakili komunitas, masyarakat, Nahdlatul Ulama, umat, bukan hasrat pribadi atau ambisi keluarganya.