Kapan Awal Ramadan 2025? Ini Kata Pakar Falakiyah

Suasana Dialog Interaktif Hisab dan Rukyatul Hilal Materi: Penentuan Awal Bulan Ramadan dan Syawal melalui perhitungan astronomi dan rukyah dengan Pembicara: KH. Mutoha Arkanuddin, Ketua Lembaga Falakiyah PWNU DIY

Bangkitmedia.com, YOGYA – Awal Ramadan 1446 H tahun ini kemungkinan besar terjadi perbedaan. Ada yang 1 Maret, misalnya Muhammadiyah yang sudah mengumumkan 1 Ramadan 1446 H jatuh pada 1 Maret 2025), namun ada yang tanggal 2 Maret. Sedang dalam mengakhiri puasa Ramadan, kemungkinan besar di Indonesia sama, yaitu 1 Syawal jatuh pada 31 Maret 2025.

Hal ini dijelaskan pakar ilmu falak, KH Mutoha Arkanuddin, padaDialog Interaktif Hisab dan Rukyatul Hilal tenteng Penentuan Awal Bulan Ramadan dan Syawal melalui perhitungan astronomi dan rukyah usai pengajian Ahad Wage di Aula PWNU DIY Jl. MT Haryono 40 Yogyakarta, Minggu (16/2). Sebelumnya diisi Kajian Qonun Asasi dan Pidato/Khotbah dengan materi kitab“Kitab Minal Mu’tamar ilal Mu”tamar” oleh KH. M. Hasyim Asy’ari oleh Drs. KH. Mas’ud Masduki (Rais Syuriah PWNU DIY ).

“Jadi ada potensi besar untuk terjadi perbedaan 1 Ramadan yang merupakan awal puasa mendatang. Pada 28 Februari sore hilal atau bulan sabit di Indonesia, termasuk Yogya, saat matahari terbenam memang sudah di atas ufuk. Tetapi bagi kriteria NU belum memenuhi syarat, yang sudah memenuhi syarat di Sabang. Tapi Sabang ke wilayah barat Indonesia, semakin ke timur hilal semakin terlihat rendah. Jadi potensi NU untuk puasa 1 Maret berat, maka ada peluang NU mulai puasa 2 Mare, sehingga nantinya bulan Sya’ban digenapkan 30 hari atau istikmalt,” jelas KH Mutoha Arkanuddin yang juga Ketua Lembaga Falakiyah PWNU DIY.

Kyai Mutoha juga menjelaskan, metode Rukyatul Hilal masih dipedomani oleh mayoritas negara-negara muslim, termasuk Arab Saudi. Sampai saat ini pemerintah Indonesia juga masih memedomi Rukyatul Hilal, mesti dalam menetapkan atau itsbat bisa saja istikmal atau menggenapkan bulan 30 har. “Pada saatnya nanti PBNU masih akan mengeluarkan ikhbar terkait 1 Ramadan. Sedang pemerintah pasti akan melakukan itsbat atau penetapan, setelah melakukan istbat. Karena itu kita tunggu saja,” pintanya.

Mengenai awal Syawal, Kyai Mutoha memprediksi penetapan 1 Syawal di Indpnesia akan sama. Sebab tinggi hilal untuk Yogya saat pada tanggal 28 sore masih di bawah ufuk. Karena itu sebenarnya tidak perlu rukyat. Namun untuk di Makah dan Honolulu sudah tinggi. Maka 1 Syawal jatuh pada 31 maret. Kesimpulannya, awal syawal 31 Maret menggunakan wujudul hilal. Jadi untuk lebaran tidak ada perbedaan.

Terkait wacana penerapan Kalender Islam global, Kyai Mutoha tidak setuju. Sebab menurutnya mustahil, karena keterlihatan hilal dari negara paling timur. Kalau pakai kalender global, Amerika sudah masuk tanggal tapi di Indonesia masih minus, lantas kok dipaksa ikut tanggal satu. Seperti halnya waktu solat, kalau dibuat sama dalam satu Jawa misalnya, kan tidak bisa. Misal di Surabaya sudah Adzan Maghrib, tapi di Yogya matahari masih kelihatan. Tidak mungkin kan kalau lantas orang Yogya Salat Maghrib. Jadi tidak mungkin jadwal shalat dibuat sama dalam satu pulau, paling tidak satu kota. (Lutfi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *