Kala Amaliyah Tertolak di Setiap Pintu Langit

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Arief Fauzi Marzuki

Oleh Arief Fauzi Marzuki

Ahmad Syaerozi dari lamongan pernah ceramah dengan mengutip kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali. Akhirnya, saya merenung sebentar. Betapa amaliyah-amaliyah yang kita kerjakan itu harus menggunakan ilmu yang kita dapatkan dari ulama kita. Yaitu punya sanad bersambung sampai Rasulullah saw, supaya bisa diterima oleh Allah swt.

Amaliyah tidak boleh sembarangan diamalkan tanpa ada petunjuk ulama dan keteladanannya. Kita bisa perhatikan contoh amaliyah yang kelihatan mulia dan berorientasi akhirat, tapi akhirnya muspro saja, karena tanpa dibekali ilmu tentang manajemen hati.

Kita bisa ambil contoh kisah Muad bin Jabal kala dapat dawuh dari Baginda Nabi Muhammad saw. Dalam hadits panjang yang dirunut dari Imam Abdullah bin Mubarak sampai sahabat mulia Mu’adz bin Jabal, ada orang yang amalnya banyak nan sempurna tapi tertolak lantaran mengabaikan hal-hal yang terkesan kecil dan remeh dalam pandangan kebanyakan manusia.

Bahwa Allah Ta’ala menciptakan tujuh langit yang dijaga oleh para malaikat. Kelak, dinaikkanlah amalan seorang hamba. Sebelum memasuki pintu langit pertama untuk menuju langit kedua, amalan sang hamba dipuja-puji lantaran istimewanya.

Kisah di pintu langit pertama. “Suatu saat, sang malaikat pencatat membawa amalan sang hamba ke langit dengan kemilau cahaya bak matahari. Sampai di langit tingkat pertama, malaikat Hafadzah memuji amalan-amalan tersebut.

Tetapi, setibanya di pintu langit pertama, penjaganya berkata kepada malaikat Hafadzah, ‘Tamparkan amalan itu ke muka pelakunya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Aku tidak mengizinkan ia melewatiku untuk mencapai langit berikutnya!’”

Amalan orang ini baik, namun, tidak diterima. Tidak lolos menuju langit kedua. Ia hanya bertahan, tak kuasa menembus langit kedua. Sebab, orang ini memiliki kebiasaan “mengumpat”.

Bisa jadi, orang ini rajin melakukan ibadah ritual. Dia melakukan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Sayangnya, amalan itu tidak diterima. Sebab umpatannya. Sebab mengumpat sudah menjadi salah satu bagian dalam kehidupannya.

Pintu langit kedua, keesokan harinya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal shaleh yang berkilau, yang menurut malaikat Hafadzah sangat banyak dan terpuji.

Sesampai langit kedua (ia lolos dari langit pertama, sebab pemiliknya bukan pengumpat), penjaga langit kedua berkata, “Berhenti, dan tamparkan amalan itu ke muka pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia.

Allah memerintahkan aku agar amalan ini tidak sampai ke langit berikutnya.” Maka para malaikat melaknat orang itu.

Pintu langit ketiga.  Hari berikutnya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafadzah dianggap sangat mulia dan terpuji.

Sesampai di langit ketiga, malaikat penjaga berkata: “Berhenti! Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat menjaga kibr (sombong). Allah memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak sampai pada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri, ia takabbur di dalam majelis.”

Pintu langit keempat, Singkatnya, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan itu bersifat bak bintang kejora, mengeluarkan suara gemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah.

Sesampainya pada langit ke empat, malaikat penjaga langit berkata: “Berhenti! Lemparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ‘ujub. Allah memerintahkan ku agar amal ini tidak melewatiku. Sebab amalnya selalu disertai ‘ujub.”

Pintu langit kelima.  Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba yang lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, ibadah haji, ibadah umrah, sehingga berkilauan bak matahari. Sesampainya pada langit kelima, malaikat penjaga mangatakan:

“Aku malaikat penjaga sifat hasad (dengki). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka hasad kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah swt. Berarti ia membenci yang meridhai, yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku.”

Pintu langit keenam. Lagi, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia membawa amalan berupa wudhu’ yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah.

Sesampai di langit ke enam, malaikat berkata: “Aku malaikat penjaga rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya.”

Pintu langit ketujuh.  Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit. Dan kali ini adalah langit ke tujuh. Ia membawa amalan tak kalah baik dari yang lalu. Seperti sedekah, puasa, shalat, jihad, dan wara’.

Suaranya pun menggeledek bagaikan petir menyambar-nyambar, cahayanya bak kilat. Tetapi sesampai pada langit ketujuh, malaikat penjaga berkata: “Aku malaikat penjaga sum’ah (sifat ingin viral).

Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan “viral” dalam setiap perkumpulan, menginginkan derajat tinggi di kala berkumpul dengan kawan sebaya, ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin.

Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku dan sampai kepada yang lain. Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah riya. Allah tidak menerima ibadah orang-orang riya.”

Hadis ini sangat menarik untuk kita renungkan bersama, agar bisa menjadi bekal kita menyambut Ramadan 1447 H. yang mulia ini. Dan amaliyah kita tidak muspro begitu saja. Wallahua’alam.(*)

Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *