“Kacang Ora Ninggal Lanjaran”, Menyibak Sosok Dibalik Mbah Moen-Kiai Sahal

Posted on

“Kacang Ora Ninggal Lanjaran”. Ada peran KH Mahfudh Salam dan KH Zubair Dahlan dalam mendidik KH MA Sahal Mahfudh dan KH Maimoen Zubair.

Itulah filosofi Jawa. Artinya, anak tidak lepas dari orangtua. Kealiman, kemuliaan, dan keagungan anak tidak lepas dari peran orangtua yang serius mendidiknya dengan sepenuh hati, jiwa dan raga.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Seperti yang sering disampaikan KH Said Aqil Siradj:

فخير الناس ذو حسب قديم – أقام لنفسه حسبا جديدا

Sebaik-baiknya orang adalah orang yang mempunyai keturunan pendahulu yang hebat, dan ia mampu menciptakan kehebatan pada dirinya sendiri

Jika ada orang hebat, maka sesungguhnya kedua orangtuanyalah yang hebat karena mampu mendidik anaknya menjadi orang hebat. Doa, usaha lahir-batin, dan setiap nafasnya dipersembahkan untuk anak tercinta.

KH Mahfudh Salam

KH MA Sahal Mahfudh lahir dari sosok KH Mahfudh Salam. KH Mahfudh Salam adalah anak KH Abdussalam, perintis Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen.

Menurut KH A Zakki Fuad Abdillah, KH Mahfudh Salam ketika mendidik anak dan santrinya menerapkan disiplin yang tinggi. Bahkan bisa dikatakan sangat keras.

KH Mahfudh Salam selain alim dalam kitab kuning, juga hafidhul Qur’an (hafal Al Qur’an). Di PP Maslakul Huda yang dirintisnya, KH Mahfudh Salam selain mengajar kitab kuning, juga mengajar Al Qur’an.

KH MA Sahal Mahfudh mengisahkan ketika diajar Al Qur’an oleh bapaknya. Ketika Kiai Sahal salah dalam membaca Al Qur’an, maka Kiai Mahfudh langsung memperingatkan dan memberikan sanksi secara langsung.

Dalam kondisi ini, Kiai Sahal biasanya langsung lari menuju rumah kakeknya, KH Abdussalam. Kiai Mahfudh Salam tidak berani mengejar Kiai Sahal ketika putranya tersebut menuju ke rumah bapaknya.

Penghormatan KH Mahfudh Salam kepada orangtuanya sangat besar dan luar biasa. Menurut kisah, beliau melarang nasi yang sudah dinanak sebelum diambil untuk orangtuanya.

Perhatian KH Mahfudh Salam terhadap pendidikan anaknya sangat besar dan sepanjang hayat. Ketika beliau sudah dipenjara di Ambarawa, beliau berpesan kepada adiknya KH Abdullah Zain Salam “Hasyim karo Sahal dadekno Wong”. Hasyim dan Sahal jadikan orang.

Pesan ini dilaksanakan secara tanggungjawab oleh KH Abdullah Zain Salam. Gus Hasyim, kakak Kiai Sahal wafat di medan laga dalam rangka melawan penjajah.

Kiai Sahal lahir sebagai sosok pemikir, penggerak, dan pemberdaya santri, kiai, masyarakat, dan bangsa. Beliau memegang dua estafet kepemimpinan di dua lembaga besar, yaitu Rais Am Syuriyah PBNU dan Ketua Umum MUI Pusat. Beliau juga menjadi Rektor INISNU Jepara, Direktur PIM Kajen, dan Pengasuh PP Maslakul Huda Kajen Pati.

Kiai Sahal sendiri mengimbangi didikan disiplin ayah, paman, dan Kiai-Kiai lain, dengan belajar keras dan kreatif dengan optimalisasi: banyak mengaji, membaca, berdiskusi, menulis, dan berorganisasi.

KH Zubair Dahlan

Kiai Zubair Dahlan adalah sosok yang dikenal alim dan melahirkan banyak ulama. Salah satunya KH MA Sahal Mahfudh, KH Ahmad Fayumi Munji, dan lain-lain.

Baca Juga >  Kisah Keta'dziman Syaikhona Kholil Bangkalan Kepada Para Habaib

Dalam mendidik KH Maimun Zubair, selain mengajari anaknya berbagai macam kitab kuning, Kiai Maimoen sering diajak shilaturrahim kepada ulama-ulama khas, salah satunya Kiai Ihsan Jampes, pengarang kitab Sirajut Thalibin, Syarah Minhajul Abidin karya Imam Ghazali.

Bahkan, sebagaimana diketahui, sebelum lahir dan pasca lahir, KH Maimoen Zubair mendapatkan berkah doa ulama-ulama besar, seperti Hadlratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, KH Faqih Maskumambang, dan lain-lain.

Ketika kembali ke Sarang, pemikiran dan pergerakan Kiai Maimoen didukung penuh oleh ayahnya. Akhirnya, Kiai Maimoen berkibar mengembangkan Pesantren Al Anwar dan membangun Islam Rahmatan lil-alamin.

Menurut dawuh Kiai Sahal, ketika Kiai Sahal Mahfudh ditarik menjadi salah satu Rais Syuriyah PBNU hasil Muktamar Situbondo tahun 1984 yang menghasilkan duet KH Ahmad Shiddiq dan KH Abdurrahman Wahid, maka KH Maimoen Zubair tampil sebagai Rais Syuriyah PWNU Jateng, menggantikan KH MA Sahal Mahfudh.

Kiai Mahfudh Teman Akrab Kiai Zubair

Kiai Mahfudh Salam dan KH Zubair Dahlan adalah dua sahabat yang sangat akrab. Mereka berdua sama-sama thalabul Ilmi di Haramain. Guru-Guru keduanya di Haramain sama. Salah satunya adalah Syaikh Baqir Al Jukjawi.

Bahkan, ketika keduanya berdebat dalam masalah Agama, mereka saling menyampaikan hujjah dan menguatkan satu dengan yang lain. Waktu yang dibutuhkan dalam perdebatan kedua orang ini panjang, sampai harus ada yang mengingatkan waktu shalat.

Maka wajar ketika Kiai Sahal thalabul Ilmi di Sarang atas perintah KH Abdullah Zain Salam, maka Kiai Zubair menerima dengan tangan terbuka dan mendidiknya secara serius. Kiai Sahal dididik Kiai Zubair sepanjang waktu. Tidak Ada waktu khusus yang diberikan Kiai Zubair, sehingga Kiai Sahal Harus siap sepanjang waktu untuk mengaji ketika ditimbali oleh Kiai Zubair.

Kiai Sahal dan Kiai Maimoen Berteman Akrab

Melanjutkan tradisi kedua orangtua, Kiai Sahal Mahfudh dan Kiai Maimoen Zubair berteman akrab. Keduanya menjaga tali shilaturrahim, baik dalam konteks individu maupun organisasi.

Dalam konteks individu, Kiai Sahal Mahfudh maupun Kiai Maimoen Zubair sering berbalas shilaturrahim. Ketika yang satu sakit yang satu menjenguk dan mendoakan kesembuhannya. Ketika ada undangan, maka keduanya menyempatkan hadir sebagai bukti mereka saling menghargai, menghormati, dan memuliakan.

Ketika Kiai Sahal Mahfudh menjadi Rais Aam PBNU, maka Kiai Maimoen Zubair berkenan menjadi Mustasyar PBNU. Keduanya bersinergidDan saling membantu dalam mengembangkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah yang bercirikan toleransi, moderasi, tegak lurus, dan Amar Ma’ruf nahyi mungkar.

Semoga sirah KH Mahfudh Salam-KH Zubair Dahlan dan KH MA Sahal Mahfudh-KH Maimoen Zubair menjadi spirit utama kita dalam thalabul Ilmi, berjuang, dan menggerakkan perubahan positif di tengah masyarakat, Amin.

Pati, Ahad, 15 Muharram 1441/15 September 2019

Penulis: Dr H Jamal Ma’mur Asmani, santri Kiai Sahal.