gus baha' ngaji

“Jenengan Kok Belum Punya Haters, Gus?”

Posted on

Cara Mudah Deteksi Afiliasi Paham Radikal

Suatu hari, saat di Narukan, saya mengucapkan kepada Gus Baha’, “jenengan kok belum punya haters Gus?”

“Cah kok ngono,” jawab Gus Baha’ disambut tawa oleh kawan-kawan yang ikut sowan, Rabu pagi itu. Hahaha.

Hanya Gus Baha’ yang saat itu saya melihat sebagai tokoh santri yang masih berada di wilayah tanpa kontroversi kata, sikap dan gagasan. Padahal, secara verbal, beliau adalah pelopor “cangkem elek”. Misuh dalam ngaji itu biasa saya dengar dari Gus Baha’. Apalagi ngecenya, yang khas kemaki anak santri ngalimnya sundul.

Adanya kelompok haters adalah ruang pancing kelompok radikal. Begitu mereka menghajar Gus Baha’, saat itulah langsung terdeteksi afiliasi pahamnya. Tokoh jadi media deteksi dini pihak yang pro maupun kontra.

Suatu kali, Gus Nuruzzaman lantang menyebut seorang pejabat kepolisian terpapar radikalisme dalam sebuah forum silaturrahim Kapolda dan Kapolres seluruh Indonesia, di hadapan Kapolri langsung, dan pejabat lainnya. Gus Nuruzzaman langsung deteksi karena oknum itu bertanya dengan menyebut kata kunci:

1. Saya ini sering ikut kajian, dan saya murid Khalid Basalamah.
2. Yang lebih berbahaya itu syiah, bukan khilafah.

Dua statemen itu langsung bisa dijadikan alat terpapar radikalisme. Tanpa ragu, Gus Nuruzzaman bilang ke ratusan hadirin yang semuanya pejabat polisi.

“Apakah seperti ini potret penegak hukum Indonesia? Maunya melawan radikalisme tapi masih mendukung khilafah dan ikut kajian ustadz wahabi,” begitu kira-kira komentarnya.

Ia tidak takut meski di depannya banyak bedil siap dipisahkan pelurunya. Seberani itulah bila siap melawan radikalisme.

“Betul Mas, yang jenengan katakan memang benar. Polisi yang jenengan tuding itu memang radikal, mendukung khilafah dan benci NU,” kata beberapa pejabat kepolisian yang menghampirinya, membisikinya usai acara.

“Kok jenengan diam saja?”

“Kan kita sama-sama di instansi yang sama. Hanya NU yang bisa mengingatkan,” kata salah satu mereka ke Gus Nuruzzaman.

Di BAIS juga sama. Banyak tentara yang dia ajar ternyata juga bertanya tidak mutu, “apa perbedaan khilafah dan HTI?” Parah nian. Dan Gus Nuruzzaman diminta mengisi kuliah di kampus tersebut untuk perbaikan.

Baca Juga >  Bolehkah Agama Tampil di Ruang Publik?

Untuk mendeteksi mereka berpaham radikal atau tidak, solusinya gampang: lihatlah bahan bakunya. Bila sering menggunakan bahan baku wahabisme (mudah mengafirkan), guru-guru ngajinya kok ustadz wahabi atau NUGL, tanpa ragu saja, mereka akan mudah menjadi radikal, ekstrimis bahkan teroris. Bahan baku semuanya hanya satu: wahabisme.

Bila ada kelompok yang ngelunjak melaporkan Gus Muwafiq tapi diam atas penceramah lainnya yang sangat menghina Nabi Muhammad Saw. sejak dari hakikatnya yang rahmatan lil alamin, jangan ragu lagi, langsung saja berani sebut dia terdeteksi; kalau bukan FPI, NUGL, HTI, ya wahabi-wahabi kadrun.

Gara-gara sikap ini, saya kerap dibully. Di sebuah grup alumni pondok, pernah terjadi pro-kontra pernyataan UAS soal haram catur, yang viral beberapa pekan lalu. Ada teman yang menyebut UAS tidak bijak. Teman yang lain menuduh, “sebijak apa kamu dibandingkan ilmunya al allamah UAS?”

Panas. Diskusi jadi debat kusir. Saya menyimak seharian. “Ini bakal ngarah menyerang ke NU,” batin saya, sambil memantau percakapan WAG.

Betul saja. Kiai Said langsung dijadikan kambing hitam.

“Lebih bijak mana dengan kiai yang mengatakan tambah panjang jenggot, tambah goblok”. Maksudnya Kiai Said.

Lhadalah. Betul kan.

“Wahabi detected,” saya bilang. Hahahaha

Langsung saya dibully. Emang gue pikirin.

“Cah kok ngono,” saya ingat kata Gus Baha’.

“Lha piye Gus. Jenengan durung pernah dibully nasional kan?” Jawab imajiner dialog saya ke Gus Baha’. []

Ditulis di Jepara, Selasa, 3 Desember 2019. (19:08 WIB).

Penulis: M Abdullah Badri, Japara.