Oleh : Parikesit
Pola pembantaian yang dilakukan para teroris di Rutan Mako Brimob memiliki kesamaan dengan pola pembantaian yang dilakukan ISIS di Irak dan Suriah. Dalam membunuh para sandera, mereka menggorok leher belakang hingga tembus tenggorokan. Dan dalam video yang diposting oleh sebuah akun yang pro teroris, mereka menginjak kepala polisi yang telah gugur itu.
Salah seorang anggota polisi Krisnamurti menulis di akun instagramnya, “Kalian gorok leher bayangkara kami, lalu kau injak kepalanya”.
Pertanyaan kita, bagaimana bisa orang yang mengklaim pembela agama Allah, jihadis, justru berbuat brutal dan tak berperikemanusiaan seperti itu? Tidak adakah setitik kasih sayang dan nurani yang tersisa dalam lubuk hatinya? Tak pantas seorang manusia berperilaku seperti itu, kecuali para iblis berwujud manusia.
Kita jadi teringat dengan kata-kata para bijak bestari, “Jika iblis gagal menggodamu dalam keburukan, maka ia akan menggodamu dalam kebaikan”. Melalui alibi-alibi kebajikan atas nama agama dan jihad inilah, lalu iblis menjerumuskan seseorang dalam kebiadaban dan brutalisme.
Jika dilacak, embrio dan akar terorisme itu adalah paham Takfiri, sebuah paham ekstremisme yang menuduh bahwa semua orang yang tidak sejalan dengan garis pemikirannya adalah salah dan kafir. Absolutisme paham keagamaan semacam ini, pada tingkat yang sudah akut akan menghalalkan darah orang lain, bahkan kepada yang seiman sekalipun.
Pada awal periode sejarah Islam, Ali Ibn Abi Thalib telah menghadapi problem paham Takfiri semacam itu. Itulah paham khawarij yang ekslusif dan sangat intoleran terhadap perbedaan. Mereka, merasa sebagai penafsir tunggal kebenaran. Ali ibn Thalib, sahabat terdekat Nabi dan sekaligus menantu beliau pun divonis sebagai kafir, dan oleh karena itu, menumpahkan darah Ali adalah halal.
Paham Takfiri ini secara sekilas terkesan memiliki ghirah (semangat) beragama yang berapi-api. Mereka senantiasa meneriakkan, “La Hukma Illallah..!” (Tiada hukum selain hukum Allah). Mendengar lengkingan teriakan mereka, dengan nada rendah Ali menjawab, “Sungguh, itu adalah kalimat yang haq, tapi digunakan untuk tujuan yang jahat”.
Suatu hari seorang sahabat menghadap Ali dan melaporkan, “Wahai Amirul mukminin.., kami telah berhasil menumpas para pengikut khawarij..!” Dengan tegas Ali menjawab, “Tidak..! Demi Allah mereka tidak akan pernah mati. Mereka masih hidup dalam rahim-rahim kaum perempuan dan sulbi-sulbi kaum lelaki. Tapi setiap muncul pemimpin di antara mereka, mereka akan terus terpotong, sehingga mereka akan hidup dan tinggal seperti gerombolan para penyamun..!”
Dan para teroris di Rutan Mako Brimob itu, mereka tak lain adalah jejak-jejak kaum khawarij dari masa lalu. Itulah Neo khawarij di abad ini.
#Kami Bersama Polri








