rokok santri

Jebakan Rokok NU

Posted on

Waktu saya di Perth, saya sering dapat oleh-oleh rokok dari teman-teman yang habis mudik. Kalau ada teman pindahan rumah, karena saya pegang truk dan belakangan big van, saya bantu angkut-angkut. Sebagai gantinya, mereka sudah paham password kalau masuk Perth dari Denpasar atau Jakarta: minimal dua bungkus Super Needle.

Nah, yang jadi masalah adalah teman-teman merokoknya.

Pada dua tahun awal, gampang. Ada Airlangga Pribadi dan geng Indoprogress cabang Ostrali Barat. Tapi setelah mereka pulang duluan, ya nggak ada, selain sahabat saya Mas Ronny. Kumpul di teman-teman Muhammadiyah, nggak ada yang ngrokok. Klir. Maka saya pun dolan ke kumpulan kawan-kawan NU, sambil membawa ekspektasi suci bahwa mereka bakalan kebal-kebul dengan gumbira di setiap acara.

Sialnya, ternyata jauh dari bayangan saya. Mulai Cak Anshori, Ketua Pimpinan Cabang NU Western Australia, hingga ke banser-banser kultural yang kadang ikut ngumpul, blas nggak ada yang bau tembakau. NU macam apa ini??

Saya ingat, kegembiraan rokokan satu-satunya adalah saat Cak Nun datang, dan saya bersama Kang Indrajati menemaninya. Jangan salah, Cak Nun tidak pernah mau disebut sebagai orang NU. Adapun Kang Indra itu ideologinya juga nggak jelas. Mungkin Persis atau Al Irsyad, yang pasti 212.

Sampai di sini, belum ada anasir NU yang terlibat. Saya yakin, ceritanya tentu beda kalau seorang gus yang hadir.

Dan muncullah Gus Nadirsyah Hosen di Perth, dari Melbourne. Kami ngobrol sampai pagi. Sial, meski saya habiskan berbatang-batang, Gus Nadir yang tidak diragukan ke-NU-annya itu jebule sama sekali nggak menjalani laku spiritual bersama asap cengkeh dan tembakau! Terlaluh!

Baca Juga >  Kursi Roda Masuk Masjid, Bagaimana Sebaiknya?

Hingga kemudian pulanglah saya ke Jogja, persis setahun lalu. Di Jogja, teman merokok jelas banyak. Tapi dari kalangan NU dan Muhammadiyah, kita lihat petanya dulu.

Yang paling sering nongkrong sama saya dan ududer, adalah Pak Dokter Alim Spesialis Bius dan Gendam. Orang Muhammadiyah struktural, kerja di RS PKU Muhammadiyah dan Universitas Ahmad Dahlan, dan ududan pol. Lalu Uda Limbak, senimang yang sedang hore-horenya kembali ber-Muhammadiyah, ududnya gahar, produk limited yang sebungkus 300 ribu itu. Ada juga Fikri Fahd, mantan tokoh IPM yang ududnya sama dengan saya.

Nah, yang NU, kita cek. Masprof Gaffar Karim itu sudah NU, Madura pula, gak doyan rokok! Kyai Edi Mulyono memang sedikit menyelamatkan wajah NU, sayang rokoknya Malbor, itu jenis rokok yang jelas kurang NU. Lalu kemarin pas kumpul sama yang super NU yaitu Gus Ulil, juga Kang Achmad Munjid yang mantan Ketua NU Amerika Serikat pun, mereka ternyata juga menjauh dari wasilah hidayah bernama asap tembakau!

Sampai di sini, saya mulai berani mengambil kesimpulan, bahwa NO Smoking yang dulu sering dipanjangkan jadi Nahdlatoel Oelama Smoking itu mitos belaka. Yang ada adalah teman-teman NU menjebak kami warga Muhammadiyah untuk ngopi dan udud-udud, padahal mereka sendiri beraninya cuma sama teh anget dan gorengan.

Ituh.

Penulis: Iqbal Aji Daryono, Esais di Yogyakarta.